Persiapan Membayar Pajak: Berkenalan dengan 3 Jenis Pajak

Persiapan Membayar Pajak: Berkenalan dengan 3 Jenis Pajak

sudahkah orang tuamu membayar pajak? Kamu pasti ingat kalimat “Orang Bijak Taat pajak”, kan? Jika nanti anda sudah memiliki pendapatan sendiri, jangan lupa membayar pajak tepat waktu, ya! Sebelum anda membayar pajak kelak, yuk studi pernah tentang jenis-jenis pajak! Secara garis besar, pajak di Indonesia dibagi ke didalam 3 grup besar, yakni pajak menurut golongannya, pajak menurut sifatnya, dan pajak menurut lembaga pemungutnya. Yuk, dipelajari satu persatu!

Menurut golongannya, pajak ini dibagi menjadi 2. Kedua model pajak menurut golongannya adalah pajak segera dan pajak tidak langsung. Pajak Langsung adalah pajak yang ditanggung oleh pihak yang membayar. Dengan kata lain, pajak segera ini bisa terhitung disebut sebagai perlu pajak, ya. Karena disebut sebagai perlu pajak, pajak segera ini tidak bisa dilimpahkan ke pihak lain. Contoh pajak segera pada lain adalah Pajak Penghasilan (PPh).

Pajak Tidak Langsung itu layaknya apa, sih? Kebalikannya berasal dari Pajak Langsung, Pajak Tidak Langsung bisa dilimpahkan ke pihak lain. Contohnya adalah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang bisa dilimpahkan oleh penjaja kepada pihak yang membeli barang-barang tersebut. Jangan lupa, ya!

Berdasarkan subjeknya, pajak digolongkan menjadi 2, yakni pajak subjektif dan pajak objektif. Perbedaan mendasar berasal dari ke-2 pajak ini adalah pajak subjektif itu bersifat perorangan, sedang pajak objektif itu bersifat kebendaan. Oh iya, pajak subjektif ini adalah model pajak yang memperhatikan keadaan khusus berasal dari orang yang membayar pajaknya. Kondisi khusus yang dimaksud bila adalah status pernikahan dan kuantitas tanggungan keluarga. Kondisi selanjutnya bakal pengaruhi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) berasal dari orang tersebut.

Pajak objektif itu apa, dong? Pajak objektif adalah pajak yang cuma memperhatikan sifat obyek pajaknya saja, tanpa memperhatikan keadaan atau keadaan diri perlu pajak. Contohnya adalah bea materai. Selain bea materai, Pajak Pertambahan Nilai terhitung tidak memandang keadaan pribadi, namun lebih memandang ke syarat-syarat yang dimiliki oleh objek selanjutnya – apakah sudah cukup untuk dikenakan PPN atau tidak.

Klasifikasi pajak sesudah itu didasarkan pada pihak yang memungut pajak tersebut. Ada 2 jenis, yakni pajak pusat atau pajak daerah. Pajak pusat ini bisa disebut terhitung sebagai pajak negara. sesuai dengan namanya, pajak negara ini diambil oleh pemerintah pusat dan bisa dimanfaatkan untuk membiayai tempat tinggal tangga negara. Contoh pajak pusat adalah Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak Bumi dan Bangunan.

Pajak Daerah itu dikelolanya oleh pemerintah area yang bersangkutan, ya? Betul banget! Pajak Daerah ini dipungut oleh pemerintah area dan bisa digunakan untuk pembiayaan tempat tinggal tangga pemerintah area tersebut. Menurut UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 2, Pajak Daerah itu dibagi menjadi Pajak Provinsi dan Pajak Kabupaten/Kota. Pajak apa saja sih yang terhitung ke didalam Pajak Provinsi dan Pajak Kabupaten/Kota?

Wah, ternyata pajak banyak banget ya, jenisnya. Coba diingat-ingat ya Squad, supaya nggak ketukar-tukar bayarnya nanti.

Baca Juga :