Kisah “Siswa SD” Berusia 39 Tahun

Kisah “Siswa SD” Berusia 39 Tahun

Seorang guru, suatu siang di kala istirahat sekolah, sambil menikmati tahu goreng bercerita perihal rumitnya edukatif anak. Di ruang guru, mereka biasa ngobrol ngalor ngidul. Terlebih jikalau ada murid yang kemauannya melebihi kemampuannya.

Jika seorang anak punya kemauan melebihi kemampuannya, maka itu percikan berhasil yang tidak boleh diabaikan. Tidak harus latah menghalangi bersama dengan kalimat yang membunuh. “kamu belum waktunya belajar itu”, “Jangan tanya yang macam-macam”, “pelajari ini saja, jangan lebih!”, “jangan sok tahu!”, dan sebagainya.

Sambil nyeruput teh hangat, guru berikut bercerita perihal prilaku murid yang dia hadapi.

Dia bercerita perihal muridnya yang terlampau detil perihal tugas, terlebih tugas di tempat tinggal atau PR. Setiap tugas di tempat tinggal dilakukan nyaris sempurna untuk ukuran anak SD. Mungkinkah faktor usia membuatnya khawatir berlebih dan kuatir gagal?

Di sisi lain, ketika tugas berikut tampak rumit, murid berikut tak segan-segan memprotes guru. Cara protesnya lumayan baik. Sangat jarang memperlihatkan protes terlalu berlebih di hadapan murid-murid lain. Di hadapan umum, dia dapat jadi umpama yang baik. Tempat protes favoritnya adalah tempat sosial bernama whatsapp.

“Di Whatsapp (di tempat sosial lain juga), dia terlampau agresif dan galak. Kata-kata tidak sopan mengalir tanpa hambatan. Sopan santun sudah dilupakan”.

Sang guru tarik napas sejenak. Itulah alasan kenapa sang guru sharing cerita. Ada prilaku yang butuh perhatian. Pantang bagi guru untuk mengeluh dalam edukatif anak. Kalau seorang guru bercerita perihal susah dalam mendidik, maka kemungkinannya cuma dua.

Pertama, sharing pengalaman sehingga memperoleh pengalaman lain yang lebih bagus berasal dari rekannya. Kedua, melewatkan beban sebentar untuk mengangkatnya kembali bersama dengan tenaga lebih besar. Niat-niat lain hanya tambahan. Bisa harus dapat tidak.

Pernah suatu siang, murid berikut tidak merampungkan tugas tepat kala akibat bercanda bersama dengan teman. Ketika saya peringatkan, dia membalas bersama dengan pelototan. Saya pun menghampiri, memegang tangannya untuk mengajaknya berbicara. Dia senantiasa berontak dan mengeluarkan kalimat yang tidak pantas. Bahkan, dia melawan dan mengajak guru berikut berkelahi. Emosinya gampang sekali tersulut.

Sang guru tidak barangkali memperlihatkan sikap membalas keburukan bersama dengan keburukan. Tugas seorang guru adalah memperlihatkan langkah yang tepat dan bijak ketika hadapi prilaku yang tidak baik. Dia juga sudah mempunyai pengalaman dilaporkan ke pihak berwajib. Dan dia tidak idamkan mengulanginya lagi. Tentu bukan sebab kapok, namun idamkan menghentikan pertunjukan langkah merampungkan masalah bersama dengan langkah yang tidak pantas.

Sang guru cuma berpikir, sedemikian kuatkah pengaruh pergaulannya bersama dengan orang-orang dewasa sehingga dia membiarkan usia belajar seorang anak. Membuatnya lupa bahwa belajar itu bukan cuma belajar menegakkan harga diri, melainkan juga belajar mengendalikan emosi, belajar berbagi, peduli, dan belajar tahu orang lain.

Apakah cuma sebab alasan usia dan seolah-olah tahu banyak hal, maka dia berhak melawan barang siapa bersama dengan alasan HAM, kebebasan, dan bahkan alasan uang. Karena sudah membayar untuk sekolah, maka dia berhak memperoleh segalanya.

Sembari minum teh, guru lain menimpali “Dia lupa ungkapan bahwa guru adalah ahlinya di sekolah, orangtua adalah ahlinya di rumah”.

Tidak berhenti di situ saja, kawan. Sang guru buru-buru menambahkan. Dia kerap mengintimidasi. Kadang langsung, kadang lewat kepala sekolah, bahkan tidak jarang langsung ke pemilik sekolah. Hingga suatu ketika, sekolah memastikan untuk memanggil dan menghadapinya. Kita ajak berbicara baik-baik untuk mendengarkan apa yang jadi keinginannya.

“Apa yang jadi keinginanmu sehingga engkau bersikap seperti itu?”, tanya kepala sekolah bersama dengan lembut.

Dia merasa menunduk, dan sementara lantas mengangkat kepalanya sambil menarik nafas panjang. Kami semua siap mendengarkan.

“Masa kecil saya tidak cukup bahagia. Saya kerap terima kekerasan baik fisik maupun mental. Saya idamkan anak saya bahagia. Saya idamkan anak saya safe dan terlindungi. Sebagai orangtua murid, saya juga idamkan yang terbaik bikin anak saya. Jika langkah saya salah, mohon diingatkan.”

Ya, dia bukan siswa SD. Dia adalah orangtua murid yang pikirkan bersama dengan pendidikan anaknya.

Namun, sayang, tampaknya dia lupa bahwa yang bersekolah adalah anaknya. Yang belajar adalah anaknya. Karena lupa, maka orangtua kerap repot mengerjakan tugas anaknya. Sibuk buat persiapan seluruhnya sehingga anaknya tidak capek. Sibuk protes bahkan menghujat sekolah atau guru. Sangat emosional ketika anaknya bercerita perihal teguran guru kepada dirinya. Sehingga lebih percaya anak ketimbang guru. Sehinggal muncul intimidasi, kekerasan verbal, dan tak jarang berbuah pelaporan.

Wahai orangtua, janganlah berperan kembali jadi siswa sekolah dalam tubuh dan emosi orang dewasa. Jika pun idamkan peduli, memperlihatkan sikap yang pantas ditiru oleh anak. Berikan kasih sayang yang menumbuhkan kebaikan. Setiap respon dan langkah kita merampungkan masalah dapat dilihat, direkam, dan kelak dapat saja ditiru oleh anak-anak kita.

Setiap anak senantiasa belajar berasal dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialaminya. Mulai sekarang, bertanyalah dalam diri,

“Jika saya bersikap demikian, apa yang dapat dipelajari anakku? Bagaimana perasaan orang lain? Dan hal baik apa yang didapat oleh anak?”

Sumber : https://www.ruangguru.co.id/download-contoh-surat-penawaran-harga-yang-benar/