Pendidikan Karakter Cara Armenia Les Gratis Berteknologi Tinggi

Pendidikan Karakter Cara Armenia: Les Gratis Berteknologi Tinggi

Pendidikan Karakter Cara Armenia: Les Gratis Berteknologi Tinggi

Pendidikan Karakter Cara Armenia Les Gratis Berteknologi Tinggi
Pendidikan Karakter Cara Armenia Les Gratis Berteknologi Tinggi

Karakter kreatif ditanamkan sejak dini. Pendidikan yang berkualitas jadi syarat mutlak. Ada contoh menarik dari sebuah negara yang luasnya tak lebih dari Provinsi Jawa Tengah, yakni Armenia.

Orang Armenia salah satunya dikenal karena orang-diasporanya yang menyebar ke seluruh dunia, dan banyak juga yang berkualitas di berbagai bidang. Beberapa dari mereka, meski tidak lahir di Armenia dan hanya karena kebetulan berdarah Armenia, merasa terpanggil membangun tanah leluhurnya lewat pendidikan.

Pendidikan yang dimaksud adalah semacam les-lesan, tambahan pembelajaran usai jam belajar sekolah. Namun ini bukan les biasa. Pertama, ini gratis total. Kedua, materi pembelajarannya tak dikaitkan dengan kepentingan pelajaran sekolah. Ketiga, siswa bisa merancang rencana pembelajaran mereka sendiri.

Nama lembaga ini adalah TUMO Center for Creative Technologies. Didirikan oleh orang keturunan Armenia yang bernama Sam Simonian bersama istrinya, Sylva.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon dan rombongan mengunjungi kantor pusat TUMO di Tumanyan Park, Yerevan, Armenia, Kamis (31/8/2017). Mereka ditemui oleh Direktur TUMO, namanya adalah Marie Lou Papazian, perempuan Lebanon keturunan Armenia yang besar di New York.

Delegasi DPR yang dipimpin Fadli Zon mengunjungi TUMO di YerevanDelegasi DPR yang dipimpin Fadli Zon mengunjungi TUMO di Yerevan (Foto: Danu Damarjati/detikcom)

Bangunannya simpel, fungsional, minim ornamen nirfaedah. Sofa di mana-mana, dan komputer berlambang buah apel mudah ditemukan. Berseliweran anak-anak usia muda yang ceria di manapun mata memandang. Di luar, ada taman dengan anak-anak yang bermain air. Sekilas ini seperti tempat bermain, bukan belajar. Tapi bukan, ini adalah tempat belajar.

“Ini adalah sekolah tambahan, gratis, untuk remaja 12 sampai 18 tahun,” kata Marie saat memberi penjelasan kepada para wakil rakyat Indonesia.

TUMO memberi pelajaran tambahan terkait kemampuan yang paling dibutuhkan anak-anak zaman sekarang: penguasaan teknologi.

Ada empat fokus area pembelajaran, yakni animasi, pengembangan gim (permainan virtual), pengembangan situs, dan media digital. Ada 12 keterampilan yang bisa mereka dapatkan pula yakni musik, menulis, menggambar, grafis dua dimensi, membuat model tiga dimensi, pemrograman, robotik, fotografi, literasi daring, dan grafis bergerak. Banyak sekali. Bagaimana cara belajarnya?

“Kami menerapkan rencana pembelajaran personal, murid-murid membuat

rencana pembelajaran sesuai yang mereka suka. Mereka datang dan duduk di manapun mereka mau, mereka akan memulai dan membuat pilihannya sendiri,” kata Marie.

Semua peralatan memadai ada di sini. Pokoknya murid tinggal berangkat saja dan belajar dua jam sore hari. Fasilitas komputer, studio musik, alat rekaman, hingga bioskop pemutaran karya, semuanya sudah disediakan. Anak-anak penyandang disabilitas tidak dipisah dalam belajar, kecuali yang tunanetra.

“Tak ada kompetisi dan ranking di sini,” kata Marie. Dengan demikian, anak bisa

lebih berkembang tanpa harus merasa tertekan dengan pemeringkatan di sekolah yang berdiri enam tahun lalu ini.

Tenaga pengajarnya adalah orang-orang keturunan Armenia yang rela datang dari berbagai penjuru dunia. Beberapa dari mereka juga masih tergolong anak muda, tapi sudah sukses di berbagai perusahaan besar terkait teknologi. Sebagian mereka adalah relawan, namun sebagian lagi memang digaji untuk mengajar di sini. Total ada 200 tenaga pengajar TUMO.

Bila dihitung-hitung, kata Marie, maka setiap anak butuh USD 15 sampai USD 20

per bulan. Namun ini semua gratis. TUMO digerakkan oleh organisasi nonpemerintah. Dananya berasal dari donatur yang juga membangun gedung ini sebagai investasi. TUMO membiayai sendiri biaya operasional gedung ini, termasuk dari penyewaan lantai tiga dan empat gedung luas ini. Namun dana dari donatur utama memang sangat berperan.

“Sam Simonian, dia adalah pendiri dan membiayai semua ini. Operasional per tahun menghabiskan USD 2 juta,” kata Deputi Direktur TUMO, Aram Gyumishyan, saat ditanyai Baca Juga :
.

Baca Juga :