Studi Bertukar Pesan Seksual Makin Lazim di Kalangan Remaja

Studi: Bertukar Pesan Seksual Makin Lazim di Kalangan Remaja

Studi: Bertukar Pesan Seksual Makin Lazim di Kalangan Remaja

Studi Bertukar Pesan Seksual Makin Lazim di Kalangan Remaja
Studi Bertukar Pesan Seksual Makin Lazim di Kalangan Remaja

Setidaknya satu dari empat remaja menerima pesan pendek atau sms dan email yang jelas berisi pesan seksual eksplisit, dan setidaknya satu dari tujuh remaja mengirim pesan bernuansa seksual atau dikenal dengan istilah sexts, menurut sebuah studi.

Bahayanya, bila pesan-pesan ini dikirim secara paksa atau dibagikan tanpa izin, akan terasa seperti perisakan siber atau cyber bullying, yang sering menimbulkan konsekuensi kesehatan mental yang berbahaya, kata penulis utama riset tersebut, Sheri Madigan, dari Institut Riset Rumah sakit Anak-anak Alberta dan Universitas Calgary di Kanada, Reuters melaporkan.

Baca: Survei: Pelecehan Online Bungkam Perempuan dan Picu Kekerasan

Lebih dari satu di antara 10 remaja membagikan pesan-pesan seksual ini tanpa persetujuan, menurut hasil studi. Dan satu dari 12 remaja memiliki pesan seksual yang dibagikan ke pihak lain tanpa persetujuan mereka.

“Remaja sekarang sering kali tidak memisahkan kehidupan online dan offline mereka. Buat mereka semuanya sama,” kata Madigan melalui e-mail. “Ini yang sulit dimengerti oleh para orang tua.”

Sebagian besar remaja tidak melaporkan pesan-pesan seksual itu. Bahkan mereka yang mengirimkan atau menerima pesan-pesan seksual, baik dalam bentuk teks, video, atau gambar-gambar, cenderung lebih berani, kata para peneliti dalam laporan yang diterbitkan di jurnal JAMA Pediatrics.

Para periset meneliti kebiasaan mengirim pesan dari 39 hasil studi yang telah diterbitkan dengan melibatkan total 110.380 remaja. Para peserta berusia rata-rata 15 tahun, meski mereka berusia antara 12-17 tahun.

Karena anak-anak sekarang biasanya sudah menggunakan ponsel sejak usia 10

tahun, orang tua harus memperlakukan pesan-pesan seksual atau sexting sebagai pembicaraan sejak dini mengenai seks secara aman dan melindungi kerahasian pribadi mereka secara online, saran Madigan.
Seorang remaja perempuan memegang dua ponsel saat berfoto di pusat kota Shanghai, 22 Oktober 2012.
Seorang remaja perempuan memegang dua ponsel saat berfoto di pusat kota Shanghai, 22 Oktober 2012.

Ketimbang serta-merta melarang sexting, para orang tua juga harus mengajarkan anak-anak mempertimbangkan konsekuensi melakukan sexting dan membantu anak-anak untuk menolak tekanan agar melakukan hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman, saran Elizabeth Englander, pengarang tajuk yang menyertai tulisan dan direktur Pusat Pengurangan Agresi di Universitas Bridgewater.

“Remaja sering menganggap orang dewasa sebagai pencemas dan terlalu

berlebihan memperkirakan risiko, terutama untuk hal-hal yang melibatkan teknologi. Banyak remaja yang akan berhenti memperhatikan orang dewasa yang mengatakan “jangan lakukan ini,” kata Lisa Jones, seorang peneliti, pada Pusat Riset Kejahatan Pada Anak, di Universitas New Hampshire, di Durham.

“Tapi sexting berisiko dan pastinya membagikan gambar-gambar eksplisit tanpa persetujuan bisa merugikan dan bahkan berpotensi tindakan criminal,” kata Jones, yang tidak terlibat dalam studi itu, melalui email.

Riset ini bukanlah percobaan terkontrol yang dirancang untuk membuktikan

apakah atau bagaimana sexting bisa mengakibatkan masalah kesehatan bagi remaja. Kekurangan lain dari studi ini adalah studi-studi yang lebih kecil menggunakan definisi sexting yang berbeda dalam definisi masing-masing dan itu menyulitkan upaya menentukan seberapa sering para remaja membagikan pesan pendek atau sms, video atau foto yang berisi pesan seksual secara eksplisit.

 

Baca Juga :