Masa Pemerintahan Hindia Belanda

Masa Pemerintahan Hindia Belanda

Tahun 1800, Prancis di bawah pimpinan Napoleon sukses menguasai Belanda. Napoleon kemudian mengangkat adinya, yakni Louis Napoleon sebagai Raja Belanda. Seluruh area jajahan Belanda juga Indonesia secara tidak segera menjadi jajahan Prancis. Karena kala itu, Prancis tengah berperang dengan Inggris maka Louis Napoleon mengangkat Herman Willem Daendels sebagai gubernur Jenderal di Nusantara. Daendels jadi mobilisasi tugas pada 1808. Tugas utamanya yakni mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Tugas lain adalah menyesuaikan pemerintahan di Indonesia.

Pada era Daendels (1808 hingga 1811), bangsa Indonesia tambah menderita. Daendels laksanakan pembangunan fisik. Usaha pembangunan fisik dikerjakan dengan kerja paksa (Rodi) yang terlalu menyengsarakan rakyat. Kekejaman pada era Daendels tambah menambah kesengsaraan rakyat. Rakyat banyak yang meninggal gara-gara kelaparan. Pada suatu saat, Daendels dituduh korupsi dan memperkaya diri sendiri. Kemudian tahun 1811, dia dipanggil pulang oleh Louis Napoleon dan kekuasaan kudu diserahkan kepada Jan Willem Janssens.

Setelah Daendels digantikan Jansens, tentara Inggris di bawah pimpinan Lord Minto menyerang Jawa dan pada 1811, Inggris sukses merebut Batavia dan dengan tegas menghendaki Jansen untuk menyerahkan Pulau Jawa. Setelah berlangsung peperangan, Pulau Jawa jatuh ke tangan Inggris. Selanjutnya, Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles untuk menjadi penguasa di lokasi Hindia Belanda. Tidak lama sehabis Raffles berkuasa, Inggris dan Belanda mengadakan perjanjian, mengisi perjanjian itu adalah Inggris menyerahkan Nusantara kepada Belanda.

Akibat beraneka peperangan, terjadilah krisis keuangan di Belanda. Untuk itu, dalam usaha menangani masalah, diputuskan bahwa pulau Jawa kudu menjadi sumber utama pendapatan untuk Belanda. Akhirnya, Gubernur Jenderal Van den Bosch mendorong pemberlakukan ‘Tanam Paksa’ (Cultuurstelsel) pada 1830, proses ini mewajibkan penduduk Jawa menanam tanaman khusus yang bisa laku di pasaran Internasional. Penduduk kudu menyerahkan hasil tanamannya kepada pemerintahan kolonial melalui perantara penguasa setempat. Sistem tanam paksa ini jauh keras dan kejam dibandingkan monopoli VOC. https://www.biologi.co.id/6-ciri-ciri-makhluk-hidup/

Dari sudut pandang ekonomi, proses tanam paksa terlalu untung pemerinahan kolonial Belanda, hasil panen paksa menambahkan sumbangan besar bagi Belanda pada tahun 1835-1940. Belanda beroleh kekayaan bangsa Indonesia yang berlimpah untuk membangun negara Belanda dan menjadi negara kaya di Eropa. Namun kebalikannya dialami oleh rakyat Indonesia. Tanam paksa udah menyebabkan rakyat diperas bukan cuma tenaga melainkan juga kekayaan.

Baca Juga :