THR ASN 2018 Bakal Naik

THR ASN 2018 Bakal Naik

THR ASN 2018 Bakal Naik
THR ASN 2018 Bakal Naik

BANDUNG – Aparat Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Jawa Barat diminta menunjukan kinerja terbaik seiring rencana pemerintah menaikan besaran Tunjangan Hari Raya (THR) 2018 ini.

Sekda Jabar Iwa Karniwa mengatakan rencana kenaikan THR sangat diapresiasi dan disambut baik oleh pihaknya mengingat tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada kenaikan. “THR biasanya hanya satu kali gaji, sekarang alhamdulillah mau naik,” katanya di Bandung, Kamis (11/4/2018).

Menurutnya, rencana kenaikan THR yang mempertimbangkan faktor inflasi dan tunjangan kinerja sudah tepat mengingat kebutuhan ASN setiap tahun mengalami kenaikan. “Kami sangat berterima kasih pada pemerintah pusat atas rencana kenaikan THR ini,” ujarnya.

Karena itu Iwa berharap sekitar 13.000 ASN Pemprov Jabar memanfaatkan THR

ini sesuai kebutuhan dan pemanfaatan yang tepat dan baik. Selain itu, performa kinerja dan pelayanan publik harus makin meningkat.

“Teman-teman (ASN -red) harus menunjukan kinerja pelayanan pada masyarakat. Ini sesuai harapan pemerintah pusat bahwa kenaikan THR ini untuk peningkatan kinerja lebih baik, harus lebih baik daripada sebelumnya,” paparnya.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan

Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Asman Abnur mengatakan besaran THR untuk ASN aktif di tahun ini juga bakal lebih tinggi dibanding sebelumnya. Sebab, komponen tunjangan kinerja (tukin) juga bakal dimasukan dalam THR untuk ASN aktif tahun ini.

“Kita berikan THR ditambah lagi, dulu kan hanya gaji pokok, sekarang termasuk tukinnya, jadi tukin ditambah gaji pokok,” katanya.

Rencananya pencairan THR tersebut dilakukan sebelum lebaran atau hari raya

Idul Fitri 2018 yang jatuh pada 15-16 Juni 2018. Waktu pencairan THR ini sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Waktunya sama seperti tahun lalu, jadi tidak ada perubahan,” ujarnya.

 

Sumber :

https://www.kiwibox.com/alistudio/blog/entry/147702875/sejarah-bpupki/

Konsisten Perluas Ekspor Pasar Baru, Bio Farma raih kembali Penghargaan Primaniyarta 2018

Konsisten Perluas Ekspor Pasar Baru, Bio Farma raih kembali Penghargaan Primaniyarta 2018

Konsisten Perluas Ekspor Pasar Baru, Bio Farma raih kembali Penghargaan Primaniyarta 2018
Konsisten Perluas Ekspor Pasar Baru, Bio Farma raih kembali Penghargaan Primaniyarta 2018

TANGERANG-PT Bio Farma kembali meraih Penghargaan Primaniyarta kategori Pelopor Pasar Baru dari Kementerian Perdagangan, diterima oleh Sri Harsi Teteki, Direktur Pemasaran Bio Farma yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo, di Indonesia Convention Exhibition, BSD Tangerang Banten, Rabu (24/10).

“Kami satu-satunya BUMN yang mendapat apresiasi dari Pemerintah, tentunya turut serta berkontribusi bagi negara, kami terus upayakan peningkatan kapasitas dan kapabilitas produksi untuk mempertahankan dan meningkatkan kesinambungan Ekspor. Saat ini kapasitas kami : bulk (intermediate product) sekitar 2.3 miliar dosis, produk akhir vaksin sekitar 700 juta dosis,” kata Teki.

Teki menambahkan, mengenai pelopor pasar baru “Kami banyak melakukan ekspor ke negara tujuan yang mengandung risiko, baik, risiko politik, risiko ekonomi pada saat pembayaran, transportasi yang sulit, juga adanya negara-negara baru yang kami masuki,” ungkap Teki.

“Kami juga mengapresiasi dukungan Pemerintah yang akan memberikan kemudahan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam skema pembiayaan ekspor Indonesia,” tambahnya.

Keberhasilan perluasan pasar di negara-negara Afrika, tidak terlepas dari kerja sama yang dilakukan oleh Bio Farma dengan organisasi kerja sama negara-negara Islam (OKI), di mana Bio Farma ditunjuk sebagai “centre of excellence” serta vice chairman vaccine manufacturer group OIC.

Raihan penghargaan tersebut dilatarbelakangi oleh keberhasilan Bio Farma

dalam memperluas pasar vaksin dengan menambah jumlah “market” di negara-negara benua Asia dan Afrika, sehingga sampai dengan 2018, produk Bio Farma sudah digunakan di lebih dari 140 negara. Tahun ini untuk kali ke-7 Bio Farma raih penghargaan Primaniyarta.

“Tantangan kami saat ini ekspansi fasilitas untuk produk baru. Target kami ke

depan terus menjajaki peluang Ekspor untuk produk final bulk (HiB, Campak) dan produk jadi (Pentabio – Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B dan Haemophilus Influenza type B) serta memenuhi berbagai regulasi internasional (WHO, FDA dan Registrasi di negara tujuan) dan tentunya mempertahankan Pra Kualifikasi WHO untuk produk existing dan produk baru,” ujarnya.

Primaniyarta merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah

Indonesia kepada eksportir yang dinilai paling berprestasi di bidang ekspor dan dapat menjadi percontohan bagi eksportir lain. Penyelenggaraan Penghargaan Primaniyarta merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan cq Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, penghargaan diberikan bersamaan dengan acara Trade Expo Indonesia ke-33 dengan tema “Creating Products For Global Opportunities”. (Pun)

 

Baca Juga :

 

 

 

Jokowi: Keutuhan Indonesia Tak Lepas Dari Peran Ulama dan Santri

Jokowi: Keutuhan Indonesia Tak Lepas Dari Peran Ulama dan Santri

Jokowi Keutuhan Indonesia Tak Lepas Dari Peran Ulama dan Santri
Jokowi Keutuhan Indonesia Tak Lepas Dari Peran Ulama dan Santri

BANDUNG-Di tengah serangan faham radikal, semangat persatuan dalam berbangsa dan bernegara harus dijaga lebih kuat. Salah satu elemen bangsa yang berhasil mengawinkan keberagamaan dan semangat kebangsaan adalah kaum santri. Demikian diingatkan Presiden Jokowi pada acara malam puncak peringatan Hari Santri Nasional 2018 di lapangan Gasibu Bandung (21/10) pukul 19.30.

Presiden Jokowi yang mengenakan sarung, peci, dan baju koko dibalut jas hitam meminta semua elemen bangsa menjaga rumah bersama yang bernama NKRI. “Aset kita yang terbesar adalah persatuan, kerukunan, dan persaudaraan, maka mari kita jaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wataniyah,” katanya di depan 10 ribu pengunjung yang memadati lapangan Gasibu sejak sore.

Indonesia, lanjut Jokowi, adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan salah satu elemen terpenting yang menjaga keutuhan NKRI adalah kaum santri. “Kita patut bersukur karena bangsa indonesia dipandu tradisi kesantrian yang kuat,” katanya.

Bangsa Indonesia itu berbeda-beda, jangan sampai perbedaan itu memecah belah. Indonesia memiliki 17 ribu pulau, 34 provinsi, 514 kabupaten/kota, 263 juta penduduk yang terdiri dari 714 suku, 5 agama, dan 1100 bahasa. Menurut Jokowi, orang sering lupa bahwa kita saudara sebangsa dan setanah air.

Menurut Presiden, persatuan Indonesia yang terbangun sejauh ini tak lepas dari peran ulama. Sejarah mencatat peran besar mereka pada masa perjuangan kemerdekaan kemudian menjaga pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam pidatonya Jokowi menyampaikan, peringatan Hari Santri Nasional merupakan penghormatan dan rasa terima kasih negara kepada para alim ulama, kiyai, habaib, ajengan dan para santri serta seluruh komponen bangsa yang mengikuti keteladanan mereka. “Menjadi santri adalah menjadi islam yang cinta bangsa, muslim yang relijius, dan pelajar yang ahlaqul karimah sebagaimana diteladankan para kiyai kita,” katanya.

Untuk itu pemerintah telah memiliki beberapa program yang mendorong kemajuan pesantren secara kongkrit, misalnya Bank Wakaf Mikro dan Balai Latihan Ketrampilan yang saat ini tengah diuji coba.

“Kita akan terus mengevaluasi apakah itu semua berguna atau tidak. Persaingan

antar negara yang begitu ketat membutuhkan sumberdaya manusia yang tidak saja berahlaqul karimah tetapi juga berskill tinggi,” katanya.

Menteri Agama yang juga berbicara pada acara itu mengatakan, isu perdamaian diangkat guna merespon kondisi bangsa yang sedang ditimpa berbagai persoalan hoax, ujaran kebencian, propaganda kekerasan, dan terorisme.

Acara Hari Santri Nasional 2018 yang bertema “Bersama Santri Damailah

Negeri” ini, kata Menag, bukan hanya seremoni belaka, tetapi penegasan bahwa bernegara itu sama pentingnya dengan beragama. “Di malam Santriversary ini saya mengajak seluruh santri agar jangan pernah lelah mencintai indonesia,” katanya.

Peringatan Hari Santri Nasional pertama kali dilakukan tahun 2015 lalu, setelah

presiden Joko Widodo menandatangani Kepres No 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober. (Pun)

 

Sumber :

https://blog.dcc.ac.id/nama-latin-tumbuhan-paku/

Anak-anak Perusahaan PT Len Raih Penghargaan Energi di United Kingdom

Anak-anak Perusahaan PT Len Raih Penghargaan Energi di United Kingdom

Anak-anak Perusahaan PT Len Raih Penghargaan Energi di United Kingdom
Anak-anak Perusahaan PT Len Raih Penghargaan Energi di United Kingdom

BANDUNG-Anak perusahaan BUMN, memenangkan penghargaan Solar Power Portal Award 2018 untuk kategori Community Solar Installation of The Year 2018 di Hilton Metropole NEC, Birmingham, United Kingdom (17/10). PT Surya Energi Indotama (SEI), anak perusahaan PT Len Industri (Persero), yang bekerjasama dengan Proinso berhasil memenangkan kategori tersebut.

Ajang internasional bergengsi ini merupakan ajang International PV Installation yang ke-6 kalinya diselenggarakan oleh Solar Media, dimana 150 lebih peserta nominasi memperebutkan 16 kategori pemenang.

Energi terbarukan semakin menjadi pusat perhatian. Pada awal musim panas ini, tenaga surya, meskipun sebentar adalah sumber kekuatan nomor satu di United Kingdom. Total sudah ada 13GW modul surya yang beroperasi di negeri tersebut.

“Satu lagi bukti kemampuan anak bangsa yang mendunia, sekaligus satu lagi langkah maju bagi PT SEI dan PT Len Industri menuju industri teknologi kelas dunia. Dalam waktu dekat ini kami juga akan meluncurkan produk baru, Len Solar. Yaitu produk pemanfaatan PLTS yang dapat dinikmati oleh kalangan rumah tangga maupun perkantoran,” ujar Bambang Iswanto, Direktur Utama PT SEI melalui siaran pers Humas PT Len, Minggu (21/10)

Di malam penganugerahan, Bambang didampingi oleh Direktur Teknik & Operasional PT SEI, Tri Bakti, Komisaris PT Len Industri, WA Nugroho, VP Corsec PT Len Industri, Syaifuddin, serta GM Pemasaran PT SEI, Fajar Miftahul Falah.

Penghargaan tersebut berhasil diraih berkat kerjasama PT Surya Energi

Indotama (SEI) dan Proinso membangun Off-Grid PLTS berkapasitas 492 kWp di Sumba Timur. PLTS berhasil melistriki 852 rumah dan 57 fasilitas publik di area-area terpencil di lintasan sepanjang 48 Km. Desain unik sistem memanfaatkan tiang-tiang yang dapat membangkitkan listrik menggunakan panel surya yang dipasang di atasnya. Dengan desain ini maka tidak lagi diperlukan lahan yang luas seperti halnya pada PLTS konvensional.

Program bantuan ini menjadi penting karena di daerah-daerah terpencil yang

tidak terjangkau PLN, penggunaan PLTS akan mengatasi masalah ketersediaan listrik dengan biaya yang relatif terjangkau bagi masyarakat pedalaman dibandingkan menggunakan BBM.

PT Surya Energi Indotama melibatkan masyarakat setempat di setiap tahapan

yang diharapkan dapat menjadi pengelolaan jangka panjang. Selama proyek berlangsung, pelatihan dan mentoring di bidang manajemen dan kewirahusahaan juga diberikan bagi lebih dari 250 perempuan dan laki-laki di desa-desa terkait.jo

 

Sumber :

https://blog.dcc.ac.id/struktur-kulit-sebagai-organ-ekskresi/

Mengenal Tentang Danau

Mengenal Tentang Danau

Mengenal Tentang Danau
Mengenal Tentang Danau
Perairan tergenang diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yaitu badan air tergenang (standing waters atau lentik) dan badan air mengalir (flowing waters atau lotik).
Perairan tergenang meliputi danau, kolam, waduk (reservior), rawa (wetland), dan sebagainya (Effendi, 2003). Perairan pedalaman (inland water) diistilahkan untuk semua badan air (water body) yang ada di daratan. Air pada perairan pedalaman pada umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin. Dalam ilmu perairan (hidrologi) dikenal adanya dua macam perairan pedalaman yaitu perairan mengalir (lotik water) dan perairan tergenang (lentik water).

Danau merupakan

salah satu contoh perairan terganang selain rawa, situ, waduk, telaga, embung dan lainnya (Bratadiredja, 2010).

Menurut Mulyawan (2013), danau memiliki perbedaan ukuran dan kedalaman, tergantung pada cara terbentuknya, seperti di bawah ini :

1. Danau yang disebabkan oleh pengikisan

  • Danau gletser, terbentuk bila gletser dan lembaran es mengeruk permukaan bumi dan membentuk ceruk. Kemudian ceruk ini terisi air dan membentuk danau.
  • Danau lekukan gurun, terbentuk didaerah kering tempat angin menghasilkan lekukan. Bila dasar lekuk tersebut mencapai muka air tanah, maka terbentuklah sebuah danau.

2. Danau yang disebabkan oleh kegiatan vulkanik

  • Danau kaldera, terbentuk bila didalam kaldera atau bagian tengah gunung berapi yang runtuh terkumpul air. Danau ini umumnya bulat dan dalam. Danau Toba di Sumatera adalah suatu danau kaldera.
  • Danau kawah, terbentuk bila dalam kawah, atau lubang bulat mirip corong dipuncak gunung berapi terkumpul air. Contohnya ialah danau kawah Oregon (Amerika Serikat)
  • Danau bendungan lava, terbentuk bila aliran lava gunung berapi menyumbat lembah sungai dan menyebabkan terbentuknya danau. Contohnya adalah laut Galilea di Timur Tengah.

3. Danau yang dihasilkan oleh gerakan bumi 

a. Danau sesar, terjadi jika pergeseran di kerak bumi, maka terbentuklah lekukan atau lembah retak yang kemudian dapat menjadi danau. Contohnya ialah Danau Malawi di Lembah Retakan Afrika Timur.

4. Danau yang dihasilkan oleh sungai dan laut 

  • Danau tapal kuda, dihasilkan bila sungai yang berkelok-kelok melintasi daratan mengambil jalan pintas dan meninggalkan potongan-potongan yang akhirnya membentuk danau tepal kuda.
  • Danau delta, terbentuk di sepanjang pantai yang arus pantainya mengendapkan pasir dan membentuk gosong pasir. Akhirnya, gosong pasir itu sama sekali memisahkan sebagian kecil laut, dan dengan demikian membentuk laguna. Delta-delta terbesar di dunia mempunyai danau delta atau laguna.

(Sumber: https://pengajar.co.id/)

Mengenal Tentang Candi Borobudur

Mengenal Tentang Candi Borobudur

Mengenal Tentang Candi Borobudur
Mengenal Tentang Candi Borobudur

Candi Borobudur

merupakan bangunan suci, peninggalan sejarah agama Buddha mazhab Mahayana yang dibangun di atas bukit. Candi Borobudur adalah bukti sejarah kejayaan dan kemasyuran Agama Buddha khususnya Mazhab Mahayana di Indonesia. Candi-candi Budha lainnya antara lain : Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sewu, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Ngawen, Candi Sari, Candi Sojiwan dan Candi Lumbung. Semua bangunan candi sejarah itu terdapat di propinsi Jawa Tengah bagian Selatan. Selain itu ada pula Candi Muara Takus di Riau-Sumatera dan Candi Gunung Tua di Tapanuli Selatan.

Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sebenarnya sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat.

Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko, Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.

Nama Borobudur

Mengenai nama Borobudur, banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan BudurBhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Vihara atau kompleks candi atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari bahasa BaliBeduhur yang berarti di atas (tinggi). Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim, yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara atau asrama yang berada di atas sebuah bukit.

Teori yang lain menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara), di mana di lereng-lerengnya berbentuk teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan“para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.

Menurut Prof. JG. De Casparis, di prasasti Prasasti Karang Tengahterdapat nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan arwah-arwah leluhurnya (vihara nenek moyang) dari dinasti Syailendra, yang terletak diperbukitan. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.

Jadi berdasarkan prasasti tahun 842 tersebut, sejarahwan J.G. de Casparis, menyimpulkan bahwa bangunan candi yang bersejarah ini, sebenarnya bernama Bhumisambharabhuddhara, yang berarti Gunung himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Bodhisattva. Nama Bhumisanbharabudhara juga berarti timbunan tanah, bukit atau bangunan bertingkat-tingkat, yang diidentikan dengan sebutan vihara kamulan.

Lokasi Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di pusat jantung pulau Jawa, tepatnya di Propinsi Jawa Tengah. Candi ini terletak di atas perbukitan, di Desa Borobudur, Mungkid, Kabupaten Magelang, sekitar 42 km sebelah Barat Laut kota Yogyakarta dan sekitar 100 km Barat Daya kota Semarang.

Bangunan candi Borobudur menjulang tinggi dan bersandar pada sebuah bukit menoreh yang membujur dari arah Timur ke Barat, dan dikelilingi oleh gunung-gunung yang membentang disekitarnya. Di sebelah Timur terdapat gunung Merbabu dan Merapi, sebelah Barat terdapat gunung Sumbingserta gunung Sindoro dan sebelah Barat Laut terhampar bukit Menoreh, di sebelah Utara (di daerah Magelang) dikelilingi oleh gunung Telomoyodan Unggaran. Hal ini melambangkan kebulatan tekad dalam menyembah Ing Gusti (surat dari Dr. Beda Scramm kepada Mamoque).

Sejarah Pembangunan Candi Borobudur

Meskipun tidak kurang dari 500 buah buku telah ditulis oleh para ahli Indonesia maupun mancanegara mengenai Borobudur, tetapi sampai sekarang masih belum ada kesamaan pendapat, diantara para sarjana dan ahli arkeolog, tentang kapan Candi Borobudur didirikan, tahun berapa, oleh siapa, berapa lama bangunan ini digunakan sebagai bukit suci bagi agama Buddha dan kapan menghilang atau dengan sengaja dikubur ataukah ada sebab lain. Semua pertanyaan ini masih terus diteliti untuk memperoleh jawaban yang pasti dengan dukungan melalui bukti-bukti sejarah.

Dari Prasasti Karangtengah bertahun 824 M maupun Prasasti Sri Kahulungan bertahun 842 M, menyebutkan bahwa ada tiga buah candi yang didirikan untuk mengagungkan kebesaran Buddha, yaitu Candi MendutCandi Pawon dan Candi Borobudur. Candi Mendut didirikan oleh Pramudyawardani, Candi Pawon yang didirikan oleh Indra dan Borobudur didirikan oleh raja dari dynasti Syailendra bernama Samaratungga. Meskipun tidak diketahui dengan pasti urutan atau kronologi dibangunnya ketiga candi tersebut, namun ketiganya memiliki keterikatan, satu dengan yang lainnya.

Dari relief yang ada, Candi Mendhut didirikan untuk memperingati khotbah pertama Sang Buddha. Pada dinding itu jelas ditawarkan alternatif yang boleh dipilih oleh pengikut Sang Buddha, yaitu hidup meninggalkan keduniawian sebagai bhikkhu (pertapa) atau hidup dalam keduniawian demi kesejahteraan sesama menampilkan kemakmuran bagi bangsa dan negara. Buddha mengajarkan pemilihan tersebut dengan konsekwensi yang pasti dan jelas.

Untuk mengetahui lebih mendalam tentang kehidupan hingga tercapainya Nibbana (Nirvana), maka di Borobudur dijelaskan secara rinci, dari kehidupan penuh nafsu, melalui kelahiran demi kelahiran baik dalam alam binatang, alam dewa atau pun alam manusia hingga akhirnya tidak ada kelahiran lagi yang dinamakan Nibbana itu. Tetapi untuk mengetahui lebih mendalam akan makna yang tercantum pada dinding Borobudur, batin kita hendaknya dimatangkan dulu di Candi Pawon.

Demikianlah makna perjalan ziarah agama Buddha menuju Borobudur. Dari Mendhut, menyinggahi Pawon menuju Borobudur, bukannya sebaliknya dari yang termegah menuju awal mencari dharma. Ini juga dapat diterapkan pada kehidupan kita, mula-mula mencari pegangan hidup, memilih diantara alternatif yang tersedia kemudian melalui pendadaran yang penuh sepi dan keprihatinan untuk mencapai kejayaan. Ketiganya terletak pada satu garis lurus dari timur menuju barat.

Berdasarkan tulisan singkat berbentuk relief dari huruf Pallawa (huruf Jawa kuno), yang di pahatkan di atas pigura pada “kaki asli” Candi Borobudur (Karwa Wibhangga), menunjukan bahwa huruf-huruf yang dipahatkan, sejenis dengan yang di dapatkan di prasati, dimana tertulis akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9. Dari bukti-bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800 M.

Sejarah juga mencatat bahwa  candi Borobudur adalah candi Budha terbesar yang pernah dibangun sebagai penghormatan kepada sang Budha. Sejarahwan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950, berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan nenek moyang raja-raja Syailendra, agar nenek moyang mencapai ke-Buddhaan. Sepuluh tingkat Borobudur itu juga melambangkan, bahwa nenek moyang raja Sailendra yang mendirikan Borobudur itu berjumlah 10 orang. Prasasti Cri Kahuluan yang berasal dari abad IX (824 Masehi) yang diteliti oleh Prof Dr J.G. Casparis, mengungkapkan silsilah tiga Wangsa Syailendra yang berturut-turut berkuasa pada masa itu, yakni Raja Indra, Putranya Samaratungga. Kemudian, putrinya yang bernama Dyah Ayu Samaratungga Pramodhawardhani.

Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, candi Borobudur didirikan oleh penganut Budha Mahayana pada masa pemerintahan raja dari Wangsa Syailendra. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, sekitar tahun 824 M, dan selesai pada masa pemeintahan cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramudhawardhani. Pembangunannya diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784 M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya,yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman, sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana.

Kesimpulan tersebut di atas, ternyata sesuai benar dengan kerangka sejarah Indonesia pada umumnya dan juga sejarah yang berada di daerah Jawa Tengah pada khususnya, dimana pada periode antara abad ke-8 dan pertengahan abad ke-9, terkenal dengan abad ke-emas-an Wangsa Syailendra. Kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi di lereng-lereng gunung, yang kebanyakan berdiri khas bangunan Hindu, sedangkan yang bertebaran di dataran-dataran adalah khas bangunan Budha, tapi ada juga sebagian yang khas Hindu.

Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa Syailendra, yang terkenal dalam sejarah karena usahanya untuk menjungjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.

Salah satu pertanyaan yang sampai kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur? Beberapa mengatakan, Borobudur, awalnya berdiri dikelilingi rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.

Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca, pada tahun 1365 M, yang menyebutkan tentang adanya biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710), dikisahkan tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.

Dimensi Candi Borobudur

Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak-undak, sebanyak 10 tingkat, dengan tangga naik pada keempat sisinya (Utara, Selatan, Timur dan Barat), pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak bisa masuk, melainkan hanya bisa naik ke atas saja.

Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M, panjang bangunan Candi Borobudur 123 M, dan pada sudut yang membelok, panjangnya 113 M. Jadi luas bangunan candi Borobudur mencapai 15.129 m² dengan ketinggian awal, sebelum direnovasi adalah 42 m. Tetapi setelah direnovasi ketinggiannya hanya tinggal 35,29 m, karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Pada kaki yang asli di tutup oleh batu adhesit sebanyak 12.750 m kubik, sebagai selasar undaknya.

Dibutuhkan tak kurang dari 2 juta balok batu adhesit atau setara dengan 55.000 m kubik, untuk membangun Candi Borobudur ini. Batu-batu adhesit ini rata-rata berukuran 25 x 10 x 15 cm.  Panjang potongan batu ini jika diurutkan, dapat mencapai 500 km. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton. Seperti umumnya bangunan candi, Bororbudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki, badan dan bagian atas.

Struktur Borobudur

Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar yang tiap sisinya agak menonjol berliku-liku, sehingga memberi kesan bersudut banyak., tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.

Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Pada tahun 1929, Prof. Dr. W.F. Stutterheim telah mengemukakan teorinya, bahwa Candi Borobudur itu hakekatnya merupakan refleksi atau “tiruan” dari alam semesta yang menurut ajaran Buddha terdiri atas 3 bagian besar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan arca Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai arca Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada arca pada stupa utama, arca yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. menurut kepercayaan arca yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak arca seperti ini.

Di masa lalu, beberapa arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua arca singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja ThailandChulalongkorn, yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896, sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada hanyalah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala. Struktur Borobudur ini dibangun tanpa menggunakan semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

  1. Bagian kakidisebutKamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini menceritakan atau merefleksikan tentang alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini. Pada tingkat ini, manusia terikat pada hasrat bahkan di kuasai oleh hasrat kemauan, hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita berbentuk relief-relief, yang terdapat dibagian kaki asli dari candi dan menggambarkan Kammawibhangga yaitu menggambarkan hukum sebab akibat. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
  2. Bagian badanyang disebutRupadhatu, Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Jadi, menggambarkan tentang alam semesta (dunia rupa), dimana manusia atau dunia sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Bagian ini melambangkan dunia orang suci. Bagian ini terdapat pada lorong satu (lantai satu) sampai lorong empat (lantai empat) dengan dinding berelief di atasnya. Lantainya berbentuk persegi. Pada bagian Rupadhatu ini, arca-arca Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding yang menyerupai jendela, di atas ballustrade atau selasar.
  3. Bagian atasdisebutAruphadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Bagian ini menggambarkan alam atas, dunia tanpa rupa atau ketiadaan wujud, yaitu tempat para dewa. Di tingkat ini manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Karena itu bagian Arupadhatu itu digambarkan polos, tidak ber-relief. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan.

Bagian ini dimulai dari lantai atau teras kelima hingga ketujuh yang berbentuk bundar dan dindingnya tidak berelief. Bagian ini juga dilambangkan dalam bentuk stupa induk, yang kosong (stupa yang paling besar) yang terdapat dipuncak candi. Di Stupa Induk ini sebenarnya pernah ditemukan arca Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalah-sangkakan sebagai arca Adibuddha. Padahal melalui penelitian lebih lanjut, dinyatakan bahwa tidak pernah ada arca pada stupa utama. Arca yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. Menurut kepercayaan, arca yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak arca seperti ini. Dari luar arca-arca itu masih tampak samar-samar.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Upacara itu disebut pradaksima Tingkat-10.

Sejarawan Belanda Dr. J.G. Casparis dalam desertasinya untuk mendapat gelar doctor pada tahun 1950 mengemukakan, bahwa Borobudur yang bertingkat 10 itu, secara jelas menggambarkan filsafat Buddha Mahayana yang disebut “Dasabodhisatwabhumi”. Filsafat itu mengajarkan, bahwa setiap orang yang ingin mencapai tingkat kedudukan sebagai Buddha, harus melampaui 10 tingkatan Bodhisatwa. Apabila telah melampaui 10 tingkat itu, maka manusia akan mencapai kesempurnaan dan menjadi seorang Buddha.

Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

Arca-arca Dhayani Buddha

Jumlah arcanya ada 505 buah, terdiri dari : -Tingkat ke-1 Rupadhatu ditempat arca-arca Manushi Budha sebanyak 92 buah; -Tiga tingkat selebihnya masing-masing mempunyai 92 buah arca Dhyani Buddha; -Tingkat di atasnya mempunyai 64 arca Dhyani Buddha. Selanjutnya di tingkat Arupadhatu terdapat pula arca-arca Dhyani Buddha yang dikurung dalam stupa, masing-masing tingkat sebanyak : 32, 24 dan 16 jumlah 72 buah. Akhirnya di stupa induk paling atas, dahulunya terdapat pula sebuah arca Sang Adhi Buddha, yaitu Buddha tertinggi dalam agama Buddha Mahaya. Maka jumlah seluruhnya adalah 432 + 64 + 1 = 505 buah.

Agar lebih jelas susunan-susunan arca Budha yang terdapat pada candi Borobudur adalah sebagai berikut:
1. Langkah I terdapat               : 104 arca Budha
2. Langkah II terdapat              : 104 arca Budha
3. Langkah III terdapat             : 88 arca Budha
4. Langkah IV terdapat             : 22 arca Budha
5. Langkah V terdapat              : 64 arca Budha
6. Teras bundar I terdapat        : 32 arca Budha
7. Teras bundar II terdapat       : 24 arca Budha
8. Teras bundar III terdapat      : 16 arca Budha
Jumlah                                      : 504 arca Budha

Sekilas, arca Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu dengan lainya adalah dalam sikap tangannya yang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap arca. Sikap tangan arca Budha di Candi Borobudur sebenarnya ada 6 macam. Hanya saja, karena macam mudra yang di miliki menghadap ke semua arah (Timur, Selatan, Barat, dan Utara) dan pada bagian Rupadhatu yang terdapat di langkah V maupun pada bagian Arupadhatu, pada umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok hanya ada lima. Kelima mudra itu adalah Bhumispara Mudra, Wara Mudra, Dhayana Mudra, Abhaya Mudra, Dharma Cakra Mudra.

Pada bagian Rupadhatu, arca Dhayani Buddha digambarkan terbuka. Arca-arca ini ditempatkan di lubang dinding seperti di jendela terbuka. Tetapi dibagian Arupadhatu arca-arca itu ditempatkan di dalam stupa yang tutupnya berlubang-lubang seperti didalam kurungan. Dari luar masih tampak arca-arca itu samar-samar. Cara penempatan arca-arca tersebut rupanya dimaksudkan oelh penciptanya untuk melukiskan wujud samar-samar “antara ada dan tiada” sebagai suatu peralihan makna antra Rupadhatu dan Arupadhatu.

Arupa yang artinya tidak berupa atau tidak berwujud, sepenuhnya baru tercapai pada puncak dan pusat candi itu yaitu stupa terbesar dan tertinggi yang digambarkan polos (tanpa lubang-lubang), sehingga arca didalamnya sama sekali tidak tampak. Stupa-stupa yang mengurung arca-arca di bagian Arupadhatu, bagian bawahnya bergaris miring, sedang lubang-lubang diatasnya bergaris tegak.

Menurut almarhum Prof. Dr. Sucipta Wirjosaputro, lubang-lubang seperti tersebut merupakan lambang proses lenyapnya sisa nafsu secara bertahap. Lubang-lubang yang bergaris miring (lebih rendah dari lainnya) menggambarkan, bahwa di tingkat itu masih ada sisa-sisa dari nafsu, sedang pada tingkat di atasnya yang bergaris tegak, menggambarkan nafsu itu telah terkikis habis, dan hati pun telah lurus.

Arca Singa

Pada Candi Borobudur selain arca Budha, juga terdapat arca singa jumlah kurang lebih 32 buah arca singa, akan tetapi jiak saat ini di hitung, mungkin sekarang jumlahnya berkurang karena berbagai sebab. Salah satu arca singa yang sangat besar, berada pada halaman sisi barat, yang juga menghadap ke barat, seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.

Stupa

Di Candi Borobudur terdapat  tiga jenis stupa, masing-masing:

– Stupa Induk. yang berukuran lebih besar dari stupa-stupa lainya dan terletak di tengah-tengah bagian paling atas. Stupa induk ini merupakan mahkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur. Garis tengah Stupa induk berukuran sekitar 9,90 m, tinggi 7 m dan bagian puncak tertinggi di sebut pinakel atau Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga terletak di garis Harmika.

– Stupa Berlubang atau Stupa Terawang. Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana di dalamnya terdapat arca Budha. Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu dimana di teras I terdapat 32 Stupa, di teras II terdapat 24 Stupa, dan di teras III terdapat 16 Stupa. Jadi total berjumlah 72 Stupa

– Stupa kecil. Bentuknya hampir sama dengan stupa yang lainya, hanya saja perbedaan yang menonjol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah-olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur. Keberadaan stupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa stupa kecil yang berjumlah 1472 Buah.

Relief

Di setiap tingkatan, dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita. Menurut Drs. Moehkardi, relief-relief ini terususun dalam 1.460 panel atau adegan, sedangkan relief yang bersifat dekoratif (hiasan) ada 1212 buah. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jika rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km.

Semua relief yang ada pada dinding Candi Borobudur, pembacaan cerita-ceritanya senantiasa dimulai dari Gerbang Timur. Dari situ dapat disimpulkan bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita tentang Ramayanan dan jātaka.Tetapi secara keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Pada lantai pertama, segera membelok ke kiri berjalan searah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur.

Sebagai relief pertama dilukiskan ketika Sang Bodhisatta (Bodhisatva) berada di Nirvana Tusita, dibimbing oleh deva ketika akan lahir sebagai manusia. Barulah pada dinding ke 13 dilukiskan ketika Permaisuri Maya bermimpi seekor gajah masuk ke dalam rahimnya sebagai pertanda akan melahirkan putra mahkota pada usia lanjut. Mengelilingi dinding pertama hingga pada ujung Gerbang Timur lagi dilukiskan ketika Sang Buddha membabarkan dhamma (dharma) untuk pertama kali dihadapan lima orang pertapa di Taman Isipatana. Kisah kehidupan ini disebut Lilitavistatara.

Membaca relief lantai kedua sampai dengan lantai keempat secara pradaksina dapat disaksikan penggambaran ketiga Sang Bodhisatta tumimbal lahir sebelum kelahirannya yang teakhir sebagai manusia Siddhattha (Siddhartha). Himpunan cerita ini ada yang melukiskan ketika hidup sebagai kelinci, gajah, manusia bahkan dewa. Cerita ini diambil dari kitab kelima dari Sutta Pitaka, bagian dari Khudaka Nikaya yang disebut Jataka. Cerita dari Jataka ini sangat disukai oleh anak-anak beragama Buddha, dan menjadikannya berkeyakinan akan adanya tumimbal lahir sebelum tercapainya Nibbana.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Kalau empat lantai sebelumnya berbentuk bujursangkar, tiga lantai tanpa relief yang disebut Arupa-Datu berbentuk lingkaran. Bagian kesembilan adalah stupa induk. Masih ada lagi satu lantai basement (bawah tanah) yang hanya dibuka sedikit, disebut Kama-Datu, menggambarkan pemenuhan nafsu. Empat lantai berrelief oleh ahli sejarah disebut Rupa-Datu. Itulah sebabnya Borobudur disebut juga “ bangunan suci sepuluh tingkat”. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filosofi Budhisme sangha Mahayana. Filsafat itu mengajarkan bahwa setiap orang/mahluk yang mengabdikan diri bagi kemanusiaan dan sesama mendapat julukan Bodhisattva, yang menempuh proses 10 tahapan. Apabila telah melampaui semua tingkat itu, manusia akan mencapai kesempurnaan (moksa).

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut.

Bagan Relief
Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura
Kaki candi asli – —– Karmawibhangga 160 pigura
Tingkat I – dinding a. Lalitawistara 120 pigura
——- – —– b. jataka/awadana 120 pigura
——- – langkan a. jataka/awadana 372 pigura
——- – —– b. jataka/awadana 128 pigura
Tingkat II – dinding Gandawyuha 128 pigura
——– – langkan jataka/awadana 100 pigura
Tingkat III – dinding Gandawyuha 88 pigura
——– – langkan Gandawyuha 88 pigura
Tingkat IV – dinding Gandawyuha 84 pigura
——– – langkan Gandawyuha 72 pigura
——– Jumlah ——– 1460 pigura

Relief pada candi Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda. Isi ceritanya bermacam-macam, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana, ada pula relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).

Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :

Karmawibhangga

Bagian kaki candi yang terlihat sekarang ini, sebenarnya bukanlah sebagaimana bangunan aslinya. Sebagian besar dasar candi tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat kontruksi candi atau alasan tehnis lainnya. Hanya sebagian kecil dibuka sehingga orang dapat melihat relief bagian ini.

Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu, danberjumlah 160 buah pigura, yang secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan juga hukuman yang di terima, tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya. Jadi, sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batu yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma.

Deretan relief tersebut bukanlah merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, seperti yang tergambar mengenai mulut-mulut yang usil, orang yang suka mabuk-mabukan, dan perbuatan-perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa, tetapi juga perbuatan baik manusia beserta dengan pahala yang diterimanya, seperti yang tergambar dalam mengenai orang yang suka menolong, ziarah ke tempat suci, bermurah hati kepada sesama, dan lain-lain, yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman hidup dan pahala. Secara keseluruhan relief

Karmawibhanga, merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir – hidup – mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.

Lalitawistara

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa, dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur.

Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti “hukum”, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Permainan Angka Pada Candi Borobudur

Drs. Moehkardi mengemukakan adanya permainan angka dalam Candi Borobudur yang amat mengagumkan, sebagai berikut : Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8. Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm.

Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m. Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha. Perhatikan bukti-buktinya dibawah ini : Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada arca-arcanya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah arca-arca di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.

Sang Adhi Buddha dalam agama Buddha Mahaya tidak saja dianggap sebagai Buddha tertinggi, tetapi juga dianggap sebagai Asal dari segala Asal, dan juga asal dari keenam Dhyani Buddha, karenanya ia disebut sebagai “Yang Maha Esa”. Demikianlah keindahan Borobudur sebagai yang terlihat dan yang terasakan, mengandung filsafat tinggi seperti yang tersimpan dalam sanubari bangsa Timur, khususnya bangsa kita.

Tahapan pembangunan Borobudur

Tahap pertama

Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya akan dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

Tahap kedua

Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

Tahap ketiga

Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

Tahap keempat

Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief, perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

Penemuan Kembali Candi Borobudur

Candi Borobudur menjulang tinggi di antara dataran rendah di sekelilingnya. Rasanya sungguh tidak akan pernah masuk di akal, jika melihat karya seni yang sedemikian menakjubkan, dapat dibangun pada masa itu. Tetapi, tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur yang pernah mengalami kerusakan yang sedemikain hebat itu, dapat hilang dari ingatan dan perhatian orang. Tetapi memang demikianlah keadaannya. Candi Borobudur pernah terlupakan selama berabad-abad. Bangunan yang begitu megahnya, di hadapkan pada proses kehancuran.

Candi Borobudur yang sedemikian megahnya itu, digunakan sebagai pusat ziarah, hanya selama 150 tahun. Sungguh waktu yang relatif singkat bila di bandingkan dengan lamanya para pekerja menghiasi / membangun bukit alam Candi Borobudur dengan batu-batu. Memang semenjak berakhirnya kerajaan Mataram tahun 930 M, pusat kehidupan dan kebudayaan Jawa bergeser ke timur.

Demikianlah, karena terbengkalai, tak terurus, maka lama-lama di sana-sini tumbuh macam-macam tumbuhan liar, yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunan Candi Borobudur. Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan, kurang lebih selama 10 abad.

Penyelamatan dan Pemugaran Candi Borobudur

  1. Penyelamatan

Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M – 1816 M, mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu, Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bentuk bangunan candi menjadi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825.

Pada 1834 Residen Kedu bernama Hartman yang baru dua tahun menduduki jabatan mengusahakan pembersihan seluruh bangunan candi Borobudur dari segala sesuatu yang menutupi dan mengahalangi pemandangan. Puing-puing yang menutupi candi, disingkirkan. Tanah-tanah yang menutupi lorong-lorong candi juga disingkirkan, sehingga bangunan candi tampak semakin baik.

Stupa yang ternyata puncak candi diketahui sudah menganga, sejak ditangani Cornelius 20 tahun sebelumnya.. Selama kurun waktu 20 tahun itu tidak ada yang bertanggung jawab terhadap kawasan penemuan. Pada tahun 1842 Hartman melakukan penelitian pada stupa induk.

Dalam budaya agama Buddha, stupa didirikan untuk menyimpan relik Buddha atau relik para siswa Buddha yang telah mencapai kesucian. Dalam bahasa agama, relik disebut saririka dhatu, diambil dari sisa jasmani yang berupa kristal selesai dilaksanakan kremasi. Bila belum mencapai kesucian, sisa jasmani tidak berbentuk kristal dan tidak diambil. Bila berupa kristal akan diambil dan ditempatkan di dalam stupa. Diyakini bahwa relik ini mempunyai getaran suci yang mengarahkan pada perbuatan baik.

Pada setiap upacara Waisak, relik ini juga dibawa dalam prosesi dari Mendut ke Borobudur untuk ditempatkan pada altar utama di Pelataran Barat. Relik yang seharusnya berada di dalam stupa induk Borobudur hingga kini tidak diketahui siapa yang mengambil dan di mana disimpan.

Demikianlah, Borobudur yang ditemukan pada tahun 1814 mulai ditangani di bawah perintah Hartman antara lain dengan mendatangkan fotografer, pada tahun 1845 bernama Schaefer, namun hasilnya tidak memuaskan. Itulah sebabnya pada tahun 1849 diambil keputusan untuk menggambar saja bangunan Borobudur. Tugas mana dipercayakan pada FC Wilsen yang berhasilkan menyelesaikan 476 gambar dalam waktu 4 tahun.

Ada seorang lagi yang ditugaskan untuk membuat uraian tentang Borobudur yang masih berupa duga-duga, yaitu Brumund. Hasil Wilson maupun Brumund diserahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda kepada Leemans pada 1853 yang baru berhasil menyelesaikannya pada 1873 .

Selama penggarapan gambar yang duga-duga itu, oleh Hartman Borobudur dijadikan tempat rekreasi. Pada puncaknya didirikan bangunan untuk melihat keindahan alam sambil minum teh. Pembersihan batu-batuan terus berlangsung, ditempel-tempel asal jadi menurut dugaan asal-asalan saja. Anugerah untuk Raja Borobudur dibersihkan dari hari ke hari, hingga makin menarik. Sungguh fantastis bagi para penguasa Belanda menikmati pemandangan indah di atas bangunan kuno yang sedemikian besar.

Pada tahun 1896, Raja Thai, Chulalongkorn datang ke Hindia Belanda. Sebagai penganut agama Buddha tentu tidak akan melewatkan untuk menyaksikan bangunan stupa yang didengung-dengungkan oleh para pejabat pemerintah kolonial. Entah bagaimana ceriteranya, Pemerintah Belanda menawarkan Raja untuk membawa bagian dari batu-batuan Borobudur. Menurut catatan tidak kurang dari 8 gerobak melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Diantara yang diangkut ke Negara Gajah Putih tersebut ada 30 lempeng relief dinding candi, 5 buah arca Buddha, 2 arca singa dan 1 pancuran makara. Bilamana kita berada di istana

Raja Bhumibol Adulyagej kita dapat saksikan batu-batuan Borobudur yang terawat baik hingga kini.

Sebagai negara yang sebagian besar menganut Buddha, rakyat menyampaikan hormat dihadapan arca Buddha asal Borobudur sebagai lambang kebesaran Gurunya. Jadi, jauh sebelum batu-batuan Borobudur ditempatkan sebagaimana mestinya, bagian dari batu-batuan yang berada dalam istana dynasti Cakri telah diperlakukan dengan baik, karena keluarga raja di sana mengerti simbol-simbol yang terkandung dalam bagian kecil peninggalan agama yang dianutnya.

Pemugaran Pada tahun 1882 ada usul untuk membongkar seluruh batu-batuan Borobudur untuk ditempatkan dalam suatu museum. Usul ini tidak disetujui, bahkan mendorong usaha untuk membangun kembali reruntuhan hingga berbentuk candi. Dorongan lain untuk lebih membuka tabir misteri dalah diketemukannya satu lantai lagi dibawah lantai pertama candi oleh Vzerman pada 1885.

  1. Pemugaran

Semenjak Candi Borobudur di temukan, mulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali, bangunan Candi Borobudur. Pada awalnya, perbaikan dan pemugaran hanya dilakukan secara kecil-kecilan dan dilakukan pembuatan gambar-gambar serta foto-foto reliafnya.

Pada tahun 1900 dibentuklah Panitia Khusus perencanaan pemugaran Candi Borobudur. Setelah bekerja dua tahun, maka Panitia menyimpulkan bahwa tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemugaran yaitu:

Pertama : segera diusahakan penaggulangan bahaya runtuh yang sudah mendesak dengan cara memperkokoh sudut-sudut bangunan, menegakkan kembali dinding-dinding yang miring pada tingkat pertama, memperbaiki gapura-gapura, relung serta stupa, termasuk stupa induk.

Kedua : menjaga keadaan yang sudah diperbaiki dengan cara mengadakan pengawasan yang ketat dan tepat, menyempurnakan saluran air dengan jalan memperbaiki lantai-lantai serta lorong-lorong.

Ketiga : menampilkan candi dalam keadaan bersih dan utuh dengan jalan menyingkirkan semua batu-batuan yang lepas untuk dipasang kembali serta menyingkirkan semua bangunan tambahan.

Pada tahun 1905 keluarlah Keputusan Pemerintah Kerajaan Belanda yang menyetujui usul Panitia dengan penyediaan dana sebesar 48.800 gulden dan menunjuk Ir. Theodorus van Erp utnuk memimpin pemugaran tersebut. Pada bulan Agustus 1907, untuk pertama kalinya, dimulailah pemugaran candi Borobudur secara sungguh-sungguh, dibawah pimpinan Theodorur van Erp.Pemugaran ini dimaksudkan untuk menghindari kerusakan-kerusakan yang lebih besar lagi. Van Erp-lah yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang.

Walaupun banyak bagian tembok atau dinding-dinding bangunan Candi Borobudur, terutama tingkat tiga dari bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut, yang masih tampak miring dan sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjung maupun bangunannya sendiri secara keseluruhan, namun melalui pekerjaan Van Erp tersebut, untuk sementara Candi Borobudur dapat diselamatkan dari kerusakan yang lebih besar. Pemugaran berhasil diselesaikan pada tahun 1911. Sejak saat itu, candi Borobudur dapat dinikmati keindahannya secara utuh.

Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai dari falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya, tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur.

Mengenai gapura-gapura, hanya beberapa saja yang telah dikerjakan di masa itu, untuk mencoba mengembalikan kejayaan masa silam. Namun juga perlu disadari bahwa tahun-tahun yang dilalui Borobudur selama tersembunyi di semak-semak, sebenarnya secara tidak langsung telah menutupi dan melindungi candi Borobudur dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan candi ini. Van Erp berpendapat bahwa, miring dan meleseknya dinding-dinding dari bangunan itu, tidaklah sangat membahayakan bangunan itu. Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah. Akan tetapi sejak tahun 1960 M, pendapat Theodorus Van Erf itu mulai di ragukan, dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang lebih parah

Setelah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1948 Pemerintah RI yang masih dalam penataan negara, memperhatikan kerusakan Borobudur yang sudah diketahui sejak 1929 dengan mendatangkan dua orang ahli purbakala dari India. Sayang usaha ini tidak ada kelanjutannya.

Pada tahun 1955 pemerintah RI mengajukan permintaan bantuan kepada Unesco untuk menyelamatkan berbagai candi di Jawa, tidak terkecuali Borobudur . Usaha lebih mantap baru dimulai pada tahun 1960 yang terhenti karena pemberontakan G.30.S/PKI ketika bangsa dan negara mengkonsentrasikan diri menyelematkan masa depan yang hampir saja dikoyak komunis.

Pemugaran candi secara serius baru terlaksana pada masa Orde Baru, melalui SK Presiden RI No.217 tahun 1968. Pada konferensi ke 15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberikan bantuan guna menyelamatkan candi Borobudur. Pada 4 Juli 1968 dibentuk Panitia Nasional yang bertugas mengumpulkan dana dan melaksanakan pemugaran. Tahun berikutnya Presiden membubarkan Panitia tersebut dan membebankan tugas pemugaran kepada Menteri Perhubungan.

Pemugaran dan perbaikan Candi Borobudur berikutnya, dimulai tanggal 10 Agustus 1973 dan selesai pada tanggal 23 Februari 1983. Prasasti dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur. Tidak kurang dari 600 orang pekerja, diantaranya ada tenaga-tenaga muda lulusan SMA dan STM bangunan, yang memang sengaja diberikan pendidikan khusus mengenai teori dan praktek dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA ).

Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu-batu Candi Borobudur, sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu-batu yang sudah retak dan pecah. Pekerjaan-pekerjan di atas bersifat arkeologi semua, di tangani oleh badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan-bahan bangunan, di tangani oleh kontraktor ( P.T. Nidya Karya dan The Construction & Development Corporation of The Philipine).

Bagian-bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar. Kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk, ikut di pugar dan pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan Dr. Soekmono, dengan di tandai sebuah batu prasasti seberat lebih dari 20 Ton.

Prasasti peresmian selesainya pemugaran terletak di halaman barat, dan berbentuk batu yang sangat besar, seberat 20  ton dan di buat dengan satu bagian menghadap ke utara satu bagian lagi menghadap ke timur. Penulisan dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta, yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur. Usaha penyelamatan ini adalah yang paling mantap dalam sejarah perawatan Borobudur.

Ikhtisar waktu proses pemugaran Candi Borobudur

  • 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
  • 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan. Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi.
  • 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
  • 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
  • 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
  • 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
  • 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
  • 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
  • 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
  • 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
  • 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
  • 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh kelompok Islam ekstrem yang dipimpin Habib Husein Ali Alhabsyi
  • 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Budaya oleh UNESCO

Misteri seputar Candi Borobudur

Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan?.

Gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmiah, terutama tentang ruang yang ditemukan pada stupa induk candi dan arca Budha, di pusat atau zenith candi dalam stupa terbesar, diduga dulu ada sebuah arca penggambaran Adibuddha yang tidak sempurna yang hingga kini masih menjadi misteri.

 

(Sumber: https://thesrirachacookbook.com/)

Mencegah Anak Agar Tidak Mencoba Rokok

Mencegah Anak Agar Tidak Mencoba Rokok

Mencegah Anak Agar Tidak Mencoba Rokok
Mencegah Anak Agar Tidak Mencoba Rokok

 

Meskipun terdapat peraturan batasan usia untuk membeli rokok

bukan berarti bisa menghindarkan anak-anak dari barang yang satu itu. Karena tak sedikit orang yang sudah mulai mencoba merokok sejak anak-anak.

Hampir sebagian besar perokok dewasa mengakui sudah memulainya sejak masih kecil. Umumnya anak-anak mulai merokok karena alasan tertentu seperti agar terlihat keren, agar tidak ditinggalkan oleh teman-temannya, merasa sudah dewasa serta bebas.

Namun orangtua harus segera menyikapinya

dan menjaga anak-anak agar tidak pernah mencoba merokok. Seperti dikutip dari Health.MSN, Jumat (15/10/2010) diperlukan dasar komunikasi yang baik dengan anak untuk bisa mencegahnya agar tidak mencoba rokok.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua, yaitu:

  1. Cobalah untuk mendiskusikan topik yang sensitif dengan cara tidak menakut-nakuti atau semacam penghakiman.
  2. Tekankan pada anak-anak mengenai hal yang benar dan bukan mengenai yang salah, serta kepercayaan diri adalah perlindungan terbaik bagi anak agar terhindar dari tekanan teman sebayanya.
  3. Mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas yang melarang untuk merokok.
  4. Sangat penting untuk terus berbicara pada anak-anak tentang bahaya penggunaan rokok selama bertahun-tahun.
  5. Tanyakan pada anak apa yang menarik dan tidak menarik tentang rokok, usahakan orangtua menjadi pendengar yang sabar.
  6. Diskusikan dengan anak tentang cara anak menanggapi tekanan dari teman sebayanya. Mungkin akan sulit untuk mengatakan tidak, tapi cobalah memberikan respons alternatif seperti mengatakan bahwa merokok bisa membuat baju dan napasnya menjadi bau.
  7. Mendorong anak untuk meninggalkan teman-temannya yang tidak menghormati alasannya.
  8. Jelaskan pada anak bagaimana rokok bisa mengatur hidupnya, seperti bagaimana cara membeli rokok, dari mana anak-anak bisa mendapatkan uang dan hal lainnya.

 

Namun seringkali orangtua kecolongan

dan menemukan anaknya sudah mulai merokok, misalnya dengan mencium bau asap dari pakaiannya. Hal pertama yang dilakukan oleh orangtua cobalah untuk tidak bereaksi berlebihan. Tanyakan padanya apakah ia bergaul dengan teman-teman yang merokok atau hanya mencobanya saja, karena banyak anak yang hanya mencoba sekali lalu meninggalkan rokok.

Tapi jika setelah itu muncul tanda-tanda seperti anak sering batuk, suara serak, bau mulut, rentan terkena pilek, sesak napas dan seringkali menemukan bau asap di pakaiannya, maka ada kemungkinan anak sudah mulai terbiasa untuk merokok.

Kondisi ini masih bisa terjadi karena terkadang pondasi yang baik antara orangtua dan anak tidak cukup untuk menghentikan anak bereksperimen dengan rokok. Karenanya diperlukan komunikasi yang intens dan lebih fokus. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa membantu, yaitu:

  1. Cobalah untuk meminta anak mengungkapkan apa yang membuatnya tertarik dengan rokok dan meminta anak untuk berbicara jujur.
  2. Sebagian besar anak tidak bisa menghargai bahwa perilakunya saat ini dapat mempengaruhi kesehatan di masa depan. Untuk itu cobalah berbicara bahwa anak bisa membelikan suatu barang yang lebih berarti dengan uangnya dibandingkan membeli barang yang bisa membuatnya sesak napas, bau mulut dan gigi kuning.
  3. Jika anak mengungkapkan bahwa ia bisa berhenti merokok kapanpun ia menginginkannya, maka mintalah anak untuk menghentikan konsumsi makanan favoritnya selama seminggu. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mudah untuk berhenti merokok jika sudah kecanduan.
  4. Cobalah untuk tidak mengomel, karena akan semakin sulit untuk membuat anak berhenti merokok.
  5. Membantu anak untuk mengembangkan rencananya berhenti merokok serta tidak lupa memberinya pujian saat rencana tersebut berhasil.
  6. Jika hal tersebut tidak membantu dan frekuensi anak merokok semakin sering, maka ajaklah ia bertemu dengan dokter untuk merencanakan terapi menghentikan kebiasaan merokoknya.

Baca Juga : 

Manusia dan Keadilan

Manusia dan Keadilan

Manusia dan Keadilan
Manusia dan Keadilan

MANUSIA

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

Penggolongan manusia yang paling utama adalah

berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alaMANUSIAmiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.

 

Hakekat manusia adalah sebagai berikut :

a. Makhluk yang memiliki tenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
c. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
d. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
e. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
f. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
g. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
h. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Manusia adalah

mahluk yang luar biasa kompleks. Kita merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.

 

Rekomendasi Musyawarah Agung FKN XI Kepada Pemerintah

Rekomendasi Musyawarah Agung FKN XI Kepada Pemerintah

 

Rekomendasi Musyawarah Agung FKN XI Kepada Pemerintah

KOTA CIREBON

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) didampingi Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menutup rangkaian Fetival Keraton Nusantara (FKN) XI Tahun 2017 di Taman Air Goa Sunyaragi, Jl. By Pass Brigjen Dharsono Kota Cirebon, Senin malam (18/9/17). FKN kali ini menghasilkan sebuah rekomendasi hasil Musyawarah Agung Sultan dan Raja se-Nusantara kepada Pemerintah.

Tuan rumah penyelenggara FKN

Rekomendasi dibacakan langsung oleh tuan rumah penyelenggara FKN kali ini, yaitu Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat di hadapan Presiden Jokowi. Ada 7 (tujuh) butir rekomendasi hasil Musyawarah Agung FKN XI Tahun 2017, diantaranya:

Negara Kesatuan Republik Indonesia

1. Keraton se-Nusantara bertekad menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan melestarikan dan memasyarakatkan nilai-nilai luhur Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945,

2. Kebudayaan Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dilestarikan dan dimajukan, maka perlu ditingkatkan anggaran kebudayaan minimal sebesar 2% dari APBN dan APBD,

3. Sebagai sumber-sumber kebudayaan, revitalisasi pelestarian dan pengembangan keraton-keraton se-Nusantara perlu ditingkatkan agar bisa meningkatakn peran serta dalam pembangunan bidang Pariwisata nasional yang terbukti bisa menjadi sumber pendapatan negara, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi,

4. Dua per tiga luas Indonesia adalah lautan yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Keraton se-Nusantara bersama Pemerintah perlu meningkatkan budaya Maritim sebagai jati diri bangsa Indonesia yang berwawasan Nusantara,

5. Indonesia merupakan masyarakat agraris yang terdiri dari nelayan dan petani yang perlu ditingkatkan kesejahteraannya melalui reforma agraris dengan pengoptimalan tanah Keraton dan lahan tidur untuk mencapai swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional,

6. Sultan dan Raja sebagai pemimpin kebudayaan dan penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di daerah perlu peran aktif dengan masuk dalam Forum Koordinasi Pimpinan Daerah,

7. Festival Keraton Nusantara yang diselenggarakan pertama kali tahun 1995 di Solo bersama Pemerintah dan Keraton se-Nusantara perlu terus dilanjutkan dan dioptimalkan karena terbukti bisa menjalin silaturahmi, menjaga Kebhinekaan, dan persatuan antarkeraton, serta dapat melestarikan dan memajukan kebudayaan nasional dan pariwisata Indonesia.

Rekomendasi Musyawarah Agung Sultan dan Raja se-Nusantara

“Demikian Rekomendasi Musyawarah Agung Sultan dan Raja se-Nusantara dengan harapan Yang Mulia Presiden berkenan untuk menerima dan menindaklanjuti,” harap Arif usai membacakan rekomendasi tersebut.

Presiden Jokowi pun langsung menanggapi rekomendasi dari para Sultan dan Raja. Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan pihaknya akan mengudang para Sultan dan Raja ke Istana Negara di Jakarta. “Mengenai rekomendasi yang diberikan kepada Pemerintah. Jawaban saya, nanti saya undang saja ke Istana (Negara, Jakarta), sehingga rekomendasi-rekomendasi itu mana yang bisa kita jalankan, mana yang bisa kita selesaikan bersama-sama. Nanti kita bicarakan di Istana (Jakarta) saja,” kata Jokowi.

Lebih lanjut, menurut Jokowi sebagai pusat pelestarian budaya, Keraton berperan penting menjaga tradisi, nilai-nilai luhur sejarah dan nilai yang ada di dalam Keraton. Keraton dan Pemerintah harus bekerjasama dan menyesuaikan diri dengan perkebangan zaman untuk menjaga peranan penting Keraton dalam sejarah bangsa ini.

“Keraton juga berperan penting dalam perjuangan republik (Indonesia). Dan historis ini tetap masih kita harus jaga bersama-sama. Dan untuk memainkan peran terebut, keraton bersama Pemerintah harus bersama-sama menata diri, menyesuaikan dengan perkembangan zaman tetapi tetap memegang kemudi nilai-nilai tradisi dan budaya,” tutur Jokowi.

Warisan budaya Nusantara

Warisan budaya Nusantara bisa menjadi modal dalam menghadapi tantangan bangsa ini. Kekayaan Keraton Nusantara harus dilihat sebagai kekuatan untuk meraih kemajuan. Kekayaan budaya keraton bisa menjadi bekal dan penyemangat menghadapi persaingan global yang semakin sengit saat ini.

“Untuk itu, saya berharap Festival Keraton Nusantara ini bukan hanya semata-mata dimaksudkan untuk menyemarakan ajang Pariwisata daerah atau mengapresiasi kekayaan budaya Keraton se-Nusantara. Tetapi juga digunakan untuk mengokohkan kontribusi keraton-keraton Nusantara bagi kemajuan bangsa dan negara,” pungkas Jokowi.

Festival Keraton Nusantara ke XI ini digelar mulai 15-19 September 2017. Ada berbagai kegiatan dalam FKN kali ini, yaitu Kirab Agung Prajurit Keraton, Pagelaran Kesenian Keraton, Pameran Pusaka Keraton, Lomba Panahan Tradisional se-Indonesia, Seminar dan Pameran Naskah Kuno Keraton, dan Musyawarah Agung Raja/Sultan se-Nusantara.

Dalam acara penutupan ini, Gubernur Aher juga mendampingi Presiden Jokowi meresmikan Museum Pusaka Keraton Kasepuhan serta Portal Keraton Nusantara yang dikelola Perpustakaan Nasional RI.

 

Artikel terkait :

Ketua Forikan Kota Bogor Terima Bantuan CSR

Ketua Forikan Kota Bogor Terima Bantuan CSR

Ketua Forikan Kota Bogor Terima Bantuan CSR

Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan

Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Kota Bogor Yane Ardian seusai melakukan bincang-bincang yang digelar Megaswara (MGS) TV menerima bantuan dan dukungan dari beberapa pihak swasta (Corporate Social Responsibility). Penyerahan bantuan dilaksanakan di Pendopo Enam, Kompleks Perumahan Baranangsiang Indah, jalan Jatiluhur XIII, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Selasa (19/09/2017) siang.

Menurut Yane

Bantuan yang diterima ini sebagai bukti nyata atas program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang merupakan program nasional. “Secara pribadi saya sangat bangga kepada lembaga, instansi maupun organisasi yang ada di Kota Bogor yang memberikan dukungan. Alhamdulillah banyak sekali yang mendukung terlaksananya kegiatan Gemarikan, ” kata Yane.

Menurutnya, Gemarikan akan diselenggarakan di Taman Sempur pada Minggu (24/09) dengan melibatkan 1.000 pelajar SD dan SMP yang bertujuan untuk lebih menguatkan sosialisasi program Gemarikan juga melibatkan warga secara umum.

“Harapan saya yang pasti semoga banyak yang hadir, karena sebagus apapun kegiatan kalau masyarakat tidak terketuk hatinya dan tidak tersadarkan akan pentingnya dan bermanfaatnya kegiatan tersebut, akan percuma. Melalui kegiatan ini kami ingin mengedukasi warga Kota Bogor maupun masyarakat luas akan pentingnya mengkonsumsi ikan,” jelas Yane.

Corporate Social Responsibility

Penyerahan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) ini menurut Yane merupakan bantuan CSR yang kedua. Sebelumnya penyerahan bantuan telah dilakukan di Kantor Dinas Pertanian (Distan) Kota Bogor belum lama ini. Adapun pihak yang secara langsung memberikan bantuannya adalah pihak Lippo Malls, RSUD Kota Bogor, BJB Syariah Cabang Kota Bogor dan Telkomsel.

Program Gemarikan merupakan program nasional

Yane menyebut, program Gemarikan merupakan program nasional yang telah dicanangkan sejak tahun 2004. Sedangkan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Kota Bogor sendiri dibentuk berdasarkan Keputusan Wali Kota Bogor No.523.45-87 Tahun 2016 dengan tujuan membangun kesadaran gizi individu maupun kolektif masyarakat agar gemar mengkonsumsi ikan yang baik bagi kesehatan agar terbentuk manusia yang sehat dan cerdas.

 

Sumber : https://dogetek.co/