10 Langkah Revitalisasi SMK Yang Sangat Penting Dalam Beberapa Aspek

10 Langkah Revitalisasi SMK Yang Sangat Penting Dalam Beberapa Aspek

 

10 Langkah Revitalisasi SMK

Revitalisasi SMK sangatlah penting dalam beberapa aspek

Tujuan revitalisasi ini adalahagar SMK dapat meluluskan tenaga kerja terampil yang siap kerja di berbagai sektor ekonomi seperti pertanian, industri, pariwisata, bahkan ekonomi kreatif. Maka Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus menggencarkan revitalisasi SMK.

Sesuai dengan intruksi Presiden No. 9 Tahun 2016

ada empat poin yang menjadi fokus revitalisasi SMK, keempat poin tersebut melingkupi revitalisasi kurikulum, pendidik & tenaga kependidikan, kerja sama, dan lulusan. Kepala Bidang Pendidikan Menengah Kejuruan (PMK) Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dodin Rusmin Nuryadin mengatakan, seluruh SMK melakukan revitalisasi agar lebih berkembang. Ada pula beberapa SMK di Jawa Barat yang dijadikan Pilot Project revitalisasi SMK oleh pusat.

“Revitalisasi ini tidak hanya kompetensi jurusan, ada juga sarana prasarana, lulusannya, proses pembelajarannya dan lainnya,” ujar Dodin pada Rabu, 17 Oktober 2018.

Menurut buku Strategi Implementasi Revitalisasi SMK

10 Langkah Revitalisasi SMK, oleh Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) terdapat sepuluh langkah revitalisasi.

Sepuluh langkah revitalisasi tersebut

yaitu revitalisasi sumber daya manusia,  membangun Sistem Administrasi Sekolah (SAS) berbasisSistem Informasi Managemen (SIM),link and match dengan industry, kurikulum berbasis industry, teaching factory, penggunaan Media Video Tutorial dan Portofolio Berbasis Video e-Report Skill, Uji Sertifikasi Profesi, pemenuhan sarana dan prasarana, mengembangkan Kearifan Lokal dan peran SMK Sebagai Penggerak Ekonomi Lokal.

Artikel Terkait:

LKS 2018, Siswa SMK Unjuk Kemampuan Pengelasan

LKS 2018, Siswa SMK Unjuk Kemampuan Pengelasan

 

LKS 2018, Siswa SMK Unjuk Kemampuan Pengelasan

Dalam lanjutan Lomba Kompetensi Siswa(LKS)

Tingkat Provinsi Jawa Barat 2018, peserta bidang lomba Welding atau pengelasan mulai bertanding, di PT United Tractors Pandu Engeneering, Kawasan Industri Jababeka, Cikarang Baru, Kabupaten Bekasi, Rabu, 17 Oktober 2018. Sebanyak 18 peserta saling unjuk kemampuan dalam bidang tersebut.

Salah satu dewan juri,Sunarko menjelaskan

ada  tiga teknik yang menjadi penilaian dalam bidang tersebut, yakni teknik Shield Metal Arc Welding (SMAW), Gas Metal Arc Welding (GMAW) dan teknik Gas Tungsten Arc Welding (GTAW).

Dia pun menuturkan

menjadi penting kegiatan perlombaan ini karena ini mampu meningkatkan kompetensi siswa tersebut khususnya dalam bidang yang iyah tekuni. “ini menjadi penting untuk anak-anak untuk meningkatkan kompetensinya. Terlebih, lulusan teknik pengelasan itu enggak akan ada yang menganggur jika memiliki kompetensi dan standar yang tinggi,” ungkap Sunarko.

Alumni Institut Tekknologi Bandung tersebut menilai

Belum menunjangnya sarana dan prasarana  yang ada di sekolah bagi jurusan teknik pengelasan di SMK yang ada di Jawa Barat menjadi Pekerjaan rumah sendiri dalam proses peningkatan kompetensi siswa. “Jadi ini sebagai masukan untuk coba meningkatkan sarana dan prasarana di bidang tersebut. Kalau melihat potensi siswa, jika ditunjang oleh sarana dan sumber daya guru yang mumpuni, anak pasti akan jadi unggul,” ungkapnya.

Salah satu peserta

Riad Caewasaru mengaku mendapat pengalaman berharga karena menjadi bagian dari LKS 2018. “Ini lomba pertama dan saya dapat banyak pengalaman dari kegiatan ini. Ada beberapa teknik yang enggak pernah diajarin di sekolah, jadi ini nambah pengetahuan banget,” ungkap siswa SMKN 1 Sumedang tersebut.

Riad menceritakan

awal mulanya memilih jurusan teknik pengelasan karena merasa jurusan itu banyak dibutuhkan oleh industri. “Saat itu saya langsung mencari informasi mengenai kebutuhan industri terhadap bidang tersebut. Dan ternyata ada Peluangnya besar sekali,” ungkap Riad.

Setali tiga uang, SMKN 1 Sumedang baru membuka jurusan teknik pengelasan setelah melalui proses seleksi pria gun masuk sebagai siswa angkatan kedua di jurusan tersebut.

 

Sumber : https://pengajar.co.id/

PENGERTIAN TENAGA KERJA, ANGKATAN KERJA, DAN KESEMPATAN KERJA

PENGERTIAN TENAGA KERJA, ANGKATAN KERJA, DAN KESEMPATAN KERJA

PENGERTIAN TENAGA KERJA, ANGKATAN KERJA, DAN KESEMPATAN KERJA
PENGERTIAN TENAGA KERJA, ANGKATAN KERJA, DAN KESEMPATAN KERJA

1.    Tenaga Kerja

Setiap hari kalian melihat orang tuamu bekerja. Mereka bekerja untuk mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Orang tua kalian yang bekerja disebut tenaga kerja. Lalu siapa saja yang termasuk dalam tenaga kerja? Menurut UU No. 13 Tahun 2003, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat. Tenaga kerja dapat juga diartikan sebagai penduduk yang berada dalam batas usia kerja. Tenaga kerja disebut juga golongan produktif.
Tenaga kerja dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Penduduk yang termasuk angkatan kerja terdiri atas orang yang bekerja dan menganggur. Jika ada saudara kalian yang sedang mencari pekerjaan, maka ia termasuk dalam angkatan kerja. Sedangkan golongan bukan angkatan kerja terdiri atas
anak sekolah, ibu rumah tangga, dan pensiunan. Golongan bukan angkatan kerja ini jika mereka  mendapatkan pekerjaan  maka termasuk angkatan kerja. Sehingga golongan bukan angkatan kerja disebut juga angkatan kerja potensial.
Secara umum tenaga kerja dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja rohani dan tenaga kerja jasmani.
a.    Tenaga Kerja Rohani
Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang dalam kegiatan kerjanya lebih banyak menggunakan pikiran yang produktif dalam proses produksi. Contohnya manager, direktur, dan jenisnya.
b.    Tenaga Kerja Jasmani
Tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang dalam kegiatannya lebih banyak mencakup kegiatan pelaksanaan yang  produktif dalam produksi. Tenaga kerja jasmani terbagi dalam tiga jenis yaitu tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terlatih, dan tenaga kerja tidak terdidik.
1)    Tenaga kerja terdidik (skilled labour)
Tenaga kerja terdidik (skilled labour) adalah tenaga kerja yangmemerlukan pendidikan tinggi. Misalnya guru, dokter, dan sebagainya.
2)    Tenaga kerja terlatih (trained labour)
Tenaga kerja terlatih (trained labour) adalah tenaga kerja yang memerlukan pelatihan dan pengalaman terlebih dahulu. Misalnya sopir, montir, dan sebagainya.
3)    Tenaga kerja tak terdidik (unskilled labour)
Tenaga kerja tak terdidik (unskilled labour) adalah tenaga kerja yang tidak memerlukan pelatihan ataupun pendidikan khusus. Misalnya kuli bangunan dan buruh gendong.

2.    Angkatan Kerja

Angkatan kerja dapat didefinisikan sebagai penduduk yang berada dalam usia kerja yang bekerja ataupun belum bekerja namun siap untuk bekerja maupun sedang mencari pekerjaan.
Angkatan kerja terdiri atas orang yang bekerja dan menganggur. Penduduk yang bekerja adalah penduduk yang melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan jasa untuk memperoleh penghasilan. Adapun pengangguran adalah orang yang tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Pengangguran merupakan masalah yang sering dihadapi oleh pemerintah. Jenis-jenis pengangguran dapat dilihat berdasarkan penyebab dan sifatnya :
a.    Jenis Pengangguran Berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan penyebabnya, pengangguran dapat dibedakan menjadi pengangguran konjungtur, struktural, friksional, musiman, teknologi, dan voluntary.
1)    Pengangguran konjungtur (cyclical unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan-perubahan dalam tingkat kegiatan perekonomian. Pada waktu kegiatan ekonomi mengalami kemunduran, perusahaan-perusahaan harus mengurangi kegiatan produksi. Hal ini berarti jam kerja akan dikurangi, sebagian mesin produksi tidak digunakan, dan sebagian tenaga kerja diberhentikan. Akibatnya banyak tenaga kerja yang tidak dapat bekerja lagi.
2)    Pengangguran struktural.
Pertumbuhan dan perkembangan ekonomi selalu diikuti oleh perubahan struktur dan corak kegiatan ekonomi. Misalnya terjadi pergeseran dari sektor pertanian menjadi sektor industri. Akibatnya semakin banyak jumlah industri pengolahan, sedangkan kegiatan pertanian semakin berkurang. Bagi tenaga kerja di bidang pertanian yang tidak dapat bekerja di bidang industri karena keterbatasan keahlian  akan menganggur. Pengangguran tersebut dinamakan pengangguran struktural.
3)    Pengangguran friksional
Pengangguran jenis ini bersifat sementara dan terjadi karena adanya kesenjangan antara pencari kerja dan lowongan kerja. Kesenjangan ini dapat berupa kesenjangan waktu, informasi maupun jarak. Pengangguran friksional bukanlah sebagai akibat dari ketidakmampuan memperoleh pekerjaan, melainkan sebagai akibat dari keinginan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Di dalam proses mencari kerja yang lebih baik ada kalanya mereka harus menganggur. Masa mencari kerja/menganggur disebut dengan pengangguran friksional.
4)    Pengangguran musiman
Pengangguran musiman adalah jenis pengangguran yang terjadi secara berkala, misalnya pengangguran pada saat selang musim tanam dan musim panen. Di
sektor pertanian pekerjaan yang paling padat adalah pada saat musim tanam dan musim panen, sehingga saat selang antara musim tanam dan panen banyak terjadi pengangguran. Pengangguran jenis ini disebut pengangguran musiman.
5)    Pengangguran teknologi
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi karena adanya perubahan tenaga manusia menjadi tenaga mesin. Misalnya dahulu petani mengolah sawah dengan tenaga manusia, namun sekarang diganti dengan tenaga traktor. Adanya penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin dapat menyebabkan pengangguran teknologi.
6)    Pengangguran voluntary
Pengangguran voluntary terjadi karena ada orang yang sebenarnya masih dapat bekerja, namun dengan sukarela ia berhenti bekerja. Hal ini dapat terjadi karena ia telah mendapatkan warisan atau hal- hal lain yang membuat seseorang tidak perlu bekerja.
b.    Jenis Pengangguran Berdasarkan Sifatnya
Pengangguran berdasarkan sifatnya terdiri atas pengangguran terbuka, setengah menganggur, dan pengangguran terselubung.
1)    Pengangguran terbuka
Pengangguran terbuka adalah angkatan kerja yang benar-benar tidak mempunyai pekerjaan. Pengangguran jenis ini terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan, tidak mau bekerja, atau adanya ketidakcocokan antara lowongan pekerjaan dengan latar belakang pendidikan.
2)    Setengah menganggur
Setengah menganggur adalah angkatan kerja yang bekerja di bawah jam kerja normal. Ada juga yang mendefinisikan setengah menganggur sebagai angkatan kerja yang kurang dari 35 jam seminggu.
3)    Pengangguran terselubung
Pengangguran terselubung adalah angkatan kerja yang bekerja tidak optimal sehingga terjadi kelebihan tenaga kerja. Misalnya Pak Nyoman membuka usaha bengkel sepeda motor. Pak Nyoman dibantu oleh 1 orang anaknya. Sebenarnya tenaga kerjanya sudah cukup. Namun ada anak pamannya belum bekerja, maka ia ikut membantunya. Anak pamannya Pak Nyoman disebut pengangguran ter- selubung.

3.    Kesempatan Kerja

Kesempatan kerja adalah jumlah lapangan kerja yang tersedia bagi masyarakat. Kesempatan kerja ini erat hubungannya dengan kemampuan perusahaan-perusahaan dalam menyediakan atau menyerap tenaga kerja. Semakin banyak jumlah kesempatan kerja yang tersedia semakin banyak tenaga kerja yang terserap (dipekerjakan). Di Indonesia masalah kesempatan kerja ini dijamin dalam UUD 1945 pasal 27 ayat (2) yang berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak”. Berdasarkan bunyi UUD 1945 pasal 27 ayat (2) di atas, jelas bahwa pemerintah
Indonesia bertanggung jawab atas penciptaan kesempatan kerja serta perlindungan terhadap tenaga kerja. Hal ini dimaksudkan agar melalui pekerjaannya setiap warga negara dapat hidup layak.
Kesempatan kerja disebut juga lowongan pekerjaan. Pernahkah kalian membaca koran atau informasi lain mengenai lowongan kerja/kesempatan kerja? Informasi mengenai tersedianya kesempatan kerja pada suatu sektor kegiatan ekonomi dapat diperoleh melalui orang per orang, melalui iklan di surat kabar atau majalah, atau dapat juga diperoleh melalui Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Meskipun jumlah lowongan kerja yang kalian lihat di koran atau majalah jumlahnya banyak, namun hal itu belum mampu menampung semua angkatan kerja yang membutuhkan pekerjaan. Hal itu disebabkan karena jumlah pencari kerja jauh lebih banyak dibanding lowongan pekerjaan yang tersedia.

Baca Artikel Lainnya:

Pengertian dan Contoh Kalimat Causative

Pengertian dan Contoh Kalimat Causative

Pengertian dan Contoh Kalimat Causative
Pengertian dan Contoh Kalimat Causative

Causative verb adalah kata kerja yang biasa dipakai untuk menandakan bahwa seseorang menyebabkan orang lain melakukan sesuatu untuk dirinya. Dalam kenyataan sehari hari, kita dapat meminta, menyuruh orang lain untuk melakukan pekerjaan dengan cara meminta, menyuruh, memaksa atau mungkin juga membayar. Causative verbs ini terdiri dari have, get, make. Kita akan membahasnya satu persatu.

  1. Have / get

Clause yang mengikuti have / get dapat bermakna active maupun passive.

Pola Active :

Subject + have + object + verb 1
Subject + get + object + verb to inf

Keterangan :

Subject               : I, you, we, they, he, she, it

Causative            : Have (have, had, has)

                            Get (get, got)

Perhatikan contoh berikut ini : (Lihat kata yang diberi garis, “had” diikuti V1, sedangkan “get” diikuti “To inf”)

  1. had my friend repair my cell phone. (my friend repaired my cell phone)

(saya meminta temanku memperbaiki hand phone ku)

  1. got my friend to repair my cell phone. (my friend repaired my cell phone)

(saya meminta temanku memperbaiki hand phone aku.)

  1. The president had his advisors arrange a press conference.

(President meminta penasihatnya mengatur konferensi pers.)

  1. Indra has had a friend type all of his papers.

(Indra telah meminta seorang teman untuk mengetik semua tugasnya.)

  1. Edo is having his father contact an English teacher.

(Edo sedang meminta ayahnya menghubungi seorang guru bahasa Inggris)

  1. The editor had the contributor attend acomposition workshop.

(Editor meminta kontributor menghadiri workshop menulis)

  1. Joko got his son to type his poems.

(Joko meminta anak laki lakinya mengetik puisi – puisinya)

Pola Passive

Subject + have + object + Verb 3

Keterangan :

Subject               : I, you, we, they, he, she, it

Causative            : Have (have, had, has)

                            Get (get, got)

Perhatikan contoh berikut:

  1. Ali is having his car repaired this week.

(Ali sedang meminta mobilnya diperbaiki minggu ini)

  1. Siska got her paper typed by a friend.

(Siska meminta tugasnya diketik oleh seorang temannya)

  1. The president is having a press conference arranged by his advisors.

(Presideng sedamg meminta sebuah konferensi pers diatur oleh penasihatnya.)

  1. Angga was having his hair cut when Ani called.

(Angga sedang meminta rambutnya dipotong ketika Ani memanggil.)

  1. 2.  Make

Kata causative “make” hanya dapat diaplikasikan pada kalimat active (active clause). Make memiliki makna yang lebih kuat daripada have atau get.

Pola kalimat active

Subject + Make + Object + V1


Contoh penerapan causative “make” dalam kalimat: 

  1. The robber made the teller give hime the money.

(Perampok membuat petugas teller memberikan uangnya)

Catatan :

Kalimat tersebut sama dengan artinya “the robbers forced the teller to give him the money”

(Perampok memaksa petugas teller memberikan uangnya)

  1. The manager made the employee attend the meeting.

(Manager meminta/memaksa karyawan menghadiri pertemuan itu)

  1. The teacher always makes the children stay in their seats.

(Guru selalu memaksa/meminta anak anak tetap tinggal di tempat duduknya)

  1. Heny made her son be quiet in the meeting.

(heny membuat anak laki lakinya dia dipertemuan itu)

  1. The president is making his cabinet members sign this document.

(President sedang membuat/memaksa anggota kabinetnya menandatangani dokumen ini.)


3.    Let dan Help 

Kata let dan help sebenarnnya bukan kata kerja causative, namun banyak orang memasukan kata kata tersebut kedalam kata kerja causative, mengapa kata kata ini tidak termasuk kata kerja causative? Ini karena pada kedua kata kata tersebut tidak mengimplikasikan bahwa seseorang meminta orang lain melakukan sesuatu untuknya. Namun mari kita bahasa kedua kata tersebut:

  1. Let : Kata let mempunyai arti persamaan arti dengan kata allow atau permit yang berarti mengizinkan.

Pola kalimat ini adalah:

Subject + let + Object + Verb 1

Contoh penggunaan let dalam kalimat:

  1. Mr. Bronto let his daughter swim with her friends.
  2. Mr. Bronto allowed his daughter to swim with her friends.
  3. Mr. Bronto permitted his daughter to swim with her friends.cc

NOTE : ketika kalimat diatas mengandung kata yang sama yaitu “Pak Bronto mengizinkan anak perempuannya berenang dengan teman temannya”

  1. The teacher let the children leave the class early.

(Guru mengizinkan murud murid pulang awal”

  1. Dr. Andi let the students hand in the paper on Monday.

(Dr. Andi mengizinkan murid muridnya mengumpulkan tugasnya hari Senin)

  1. Mr. Indra always lets his children watch cartoons on Saturday morning.

(Pak Indra selalu membiarkan/mengizinkan anak anaknya menonton kartun pada Sabtu pagi)

  1. Help : Bila di masukkan kedalam kata kerja causative, kata ini biasa diikuti oleh kata kerja bentuk pertama.

Pola kalimat :

Subject + help/assist + Object + verb 1

Contoh dalam kalimat

  1. John helped mary wash the dishes.

(John membantu Mary mencuci piring)

  1. The teacher helped Mary find the research materials.

(guru membantu Mary menemukan materi penelitian)

Sampai disini dulu penjelasan tentang causative verb ini, lalu apa yang bisa kita simpulkan dari pelajaran kita ini:

  1. Kata kerja Causative adalah kata kerja yang menyebabkan orang lain melakukan sesuatu
  2. Kata kerja causative ini ada 3, yaitu have (meminta)get (meminta), dan make (memaksa)
  3. Let dan help bukanlah kata kerja causative karena mempunyai arti mengizinkan dan membantu.

Sampai jumpa lagi di pelajaran yang selanjutnya….

Keep learning, and see how far English will affect your life…. See you.

Sumber: https://www.sekolahbahasainggris.co.id/

Pengertian, Wujud, Prinsip, Hubungan dan Seni Budaya dalam Islam

Pengertian, Wujud, Prinsip, Hubungan dan Seni Budaya dalam Islam

Pengertian, Wujud, Prinsip, Hubungan dan Seni Budaya dalam Islam
Pengertian, Wujud, Prinsip, Hubungan dan Seni Budaya dalam Islam

Pengertian dan Hakikat Seni dan Budaya dalam Islam

            Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa : budaya adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Bahasa inggris sering menggunakan istillah Culture danCivilization untuk merujuk arti budaya. Sedangkan daalm bahasa arab, terdapat istillah al-tsaqafah dan al-hadlarah. Para ahli sosial cenderung berpendapat bahwa kata al-tsaqafah menunjuk pada aspek ide. Sedangkan kata al-hadlarah menunjuk kepada aspek material. Maka al-hadlarah lebih tepat sebagai terjemahan dari civilization, sementara kata al-tsaqafah lebih tepat diterjemahkan sebagai culture. Sedang kan kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan ( adat, akhlak, kesenian , ilmu dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudaaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, dan kelakuan.

Definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa jangkauan kebudayaan sangatlah luas. Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek : 1. Kehidupan Spritual 2. Bahasa dan Kesustraan 3. Kesenian 4. Sejarah 5. Ilmu Pengetahuan.  Menurut Taylor, kebudayaan adalah kompleks yang menyangkut pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Aspek kehidupan Spritual, mencakup kebudayaan fisik, seperti sarana (candi, patung nenek moyang, arsitektur) , peralatan (pakaian, makanan, alat-alat upacara). Juga mencakup sistem sosial, seperti upacara-upacara (kelahiran, pernikahan, kematian). Adapun aspek bahasa dan kesusteraan mencakup bahasa daerah, pantun, syair, novel-novel. Aspek seni dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu ; visual arts dan performing arts, yang mencakup ; seni rupa (melukis), seni pertunjukan (tari, musik) Seni Teater (wayang) Seni Arsitektur (rumah,bangunan , perahu). Aspek ilmu pengetahuan meliputi scince (ilmu-ilmu eksakta) dan humanities (sastra, filsafat kebudayaan dan sejarah).

  • Wujud Kebudayaan

Menurut Kontjaraningrat, wujud kebudayaan meliputi :

  1. Wujud ideal, berupa ide-ide,norma, peraturan, hukum, dan sebagainya
  2. Wujud tingkah laku, berupa aktivitas tingkah laku berpola dari manuasia dalam masyarakat. Pola tingkah laku yang mendasar dan dimaksudkan dalam ajaran islam meliputi hal-hal sebagai berikut :
  3. a)Ketakwaan, beriman, cinta , dan takut kepada allah swt. Tidak ada satupun yang patut disembah dan dihormati selain allah swt yang membuahkan kerendahan hati dan keberanian moral dan optimisme.
  4. b)Penyerahan diri mencakup penghindaran diri dari kejahatan nafsu hewani, memberikan kemuliaan sejati pada kepribadian, dan menjamin kelestarian serta usaha untuk kebajikan.
  5. c) Kebenaran menciptakan pola tingkah laku setia pada realita atau suatu pendekatan realistis terhadap kehidupan dan ketulusan.
  6. d) Keadilan baik terhadap diri sendiri, maupun orang lain,atau makhluk lain. Keadilan menjamin penghindaran diri dari perbuatan tidak adil yang tidak sepatutnya dilakukan terhadap siapapun. Keadilan pada diri sendiri menjamin upaya yang tinggi untuk meningkatkan kehidupan yang alamiah,sehat,dan teguh.
  7. e) Cinta terhadap makhluk tuhan, termasuk terhadap diri sendiri, akan membuahkan upaya yang simpati, kebaikan,rasa hormat,kemurahan hati dan menghindarkan diri dari melukai perasaan pihak lain.
  8. f) Hikmah mendorong seseorang untuk menumbuhkan tingkah laku berdasarkan keilmuan dan mencapai penalaran yang semakin tinggi terhadap realita dan fenomena.
  9. g) Keindahan membuahkan kemanisan, kelembutan, dan keluwesan yang muncul dalam moral dan kebiasaan.
  10. Wujud benda, berupa benda hasil karya. Peradaban sering disebut juga untuk kebudayaan yang memiliki sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, dan sebagainya. Maka, peradaban adalah bagian dari kebudayaan tapi tidak sebaliknya.
  • Prinsip-Prinsip Kebudayaan Islam

Suatu kebudayaan bisa bergerak kearah yang lebih maju atau bergerak mundur. Dalam istillah lain, suatu kebudayaan bisa bergerak kearah yang lebih baik atau bergerak ke arah yang lebih buruk. Dalam hal ini tergantung pada aktor-aktor penggeraknya.

                 Prinsip kebudayaan dalam islam adalah salah satu di antara dua alternatif. Sepanjang sejarah umat manusia, kebudayaan hanya mempunyai dua model tersebut yaitu membangun atau merusak. Kedua model kebudayaan itu hidup dan berkembang saling berganti (al-anbiya:104)

                 Di samping itu, prinsip kebudayaan dalam pandangan islam adalah adanya ruh (jiwa) di dalamnya dan ruh itu tidak lain adalah wahyu allah (al-quran menurut sunnah rasul-nya), seperti yang dinyatakan oleh surat asy-syuraa: 52 dan 53. Selain itu tentu saja ada ruh di luar wahyu.

                 Jika ruh budaya adalah wahyu allah, maka kebudayaan bergerak ke arah membangun. Seperti yang dibuktikan oleh para rasul allah sejak adam sampai nabi muhammad saw. Sebaliknya jika ruh budaya adalah bukan wahyu allah, maka kebudayaan bergerak ke arah yang merusak. Itulah model kebudayaan yang digerakkan fir’aun, qorun, para kapitalis, dan komunis.

  • Hubungan  Antara Agama dan Budaya

Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya meupakan dinamika ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insane yang beupa ilmu, tata hokum, tata Negara, kesenian, dan filsafat tak lain daipada proses realisasi diri dari ruh ilahi.

Sebaliknya, menurut kaum rohaniawan (terutama dari kalangan Katolik), menyatakan bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, agama merupakan keyakinan hidup rohani pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakanpemberian dari Tuhan, sedang kebudayaan merupakan karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan. Adapun menurut para ahli antropologi, bahwa agama merupakan salah satu unsure kebudayaan. Hal itu, karena para ahli antropologi mengatakan bahwa manusia mempunyai akal pikiran dan mempunyai sistem pengetahuan yang digunakan untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol – simbol agama. Pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakekat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing-masing agama. Mereka hanya dapat menafsirkan ayat-ayat suci tersebut sesuai dengan kemampuan nalanya.

Disinilah bahwa agama telah menjadi hasil kebudayaan manusia. Berbagai tingkah laku keagamaan, menurut ahli antropologi, bukanlah diatur oleh ayat-ayat dari kitab suci, melainkan oleh interpretasi mereka terhadap ayat-ayat suci tersebut. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa para ahli kebudayaan mempunyai pendapat yang berbeda di dalam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan.

Sebagai sebuah kenyataan, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi kaena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama dalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi, dan tidak mengenal perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat particular, relative dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat.

Interaksi antara agama dan kebudayaan itu dapat terjadi dengan :

  1.             Agama mempengaruhi kebudayaan dalam pembentukannya, nilainya adalah agama, tetapi simbolnya adalah kebudayaan. Contoh: bagaimana solat mempengaruhi bangunan.
  2.             Agama dapat mempengaruhi simbol agama.

        Contoh : kebudayaan Indonesia mempengaruhi Islam dengan pesantren dan kiai yang berasal dari padepokan.

  1.             Kebudayaan dapat menggantikan sistem nilai dan simbol agama.Agama dan kebudayaan mempunyai dua persamaan yaitu, keduanya adalah sistem nilai dan sistem simbol dan keduanya mudah sekali terancam setiap kali ada peubahan.

                  Agama dalam persepektif ilmu-ilmu sosial adalah sebuah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai konstruksi realitas, yang berperan besar dalam menjelaskan struktur tata normative dan tata sosial serta memahamkan dan menafsikan dunia sekitar. Sementara seni tradisi meupakan ekspresi cipta, karya, dan karsa manusia (dalam masyarakat tertentu) yang berisi nilai-nilai dan pesan-pesan religiusitas, wawasan filosofis dan kearifan lokal.

Baik agama maupun kebudayaan, sama-sama memberikan wawasan dan cara pandang dalam mensikapi kehidupan agar sesuai dengan kehendak Tuhan dan kemanusiaannya. Misalnya, dalam menyambut anak yang baru lahir, bila agama memberikan wawasan untuk melaksanakan aqiqah, sementara kebudayaan yang dikemas dalam marhaban dan bacaan berjanji memberikan wawasan dan cara pandang lain, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu mendoakan kesolehan anak yang baru lahir agar sesuai dengan harapn ketuhanan dan kemanusiaan. Demikian juga dalam tahlilan, baika agama maupun budaya lokal dalam tahlilan sama-sama saling memberikan wawasan dan cara pandang dalam menyikapi orang yang meninggal.

Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan membawa madharat di dalam kehidupannya. Sehingga islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaa.

Dari sudut pandang Islam, kebudayaan itu terbagi menjadi tiga macam :

  1.    Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam.

Dalam kaidah fiqh disebutkan : al-a’datu muhakkamatun. Maksudnya, adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yang merupakan bagian dari budaya manusia, mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum.  Tetapi yang perlu dicatat, bahwa kaidah tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada ketentuannya dalam syariat, seperti kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan.

  1. Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan ajaran Islam, kemudian direkonstruksi sehingga menjadi Islami.

Contohnya adalah tradisi jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti talbiyah yang sarat dengan kesyirikan, thawaf di Ka’bah dengan telanjang direkonstruksi dengan menghilangkan unsur-unsur jahiliyahnya menjadi bentuk ibadah yang telah ditetapkan aturan-aturannya. Dalam konteks seni sastra budaya Arab dalam bentuk syair-syair Jahiliyah isinya direkonstruksi dengan memasukkan nilai-nilai Islam.

  1. Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam.

Contohnya, budaya ngaben yang dilakukan oleh masyarakat Bali, yaitu upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan dalam suasana yang meriah dan gegap gempita dan secara besar-besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada penciptanya. Upacara semacam ini membutuhkan biaya yang sangat besar.

               Suatu hal yang harus disadari bahwa asas (fondasi) dari budaya Islam itu adalah menumbuh kembangkan kesadaran berketuhanan (rabbaniyah, ribbiyah). Maka dari itu, apapun bentuk manivestasi dari budaya Islam tersebut didasari dan dimaksudkan untuk tegaknya nilai-nilai ketuhanan pada setiap manusia dan tujuannya tidak lain dalam rangka mencari keredaan Tuhan. Karena itu dapat dipastikan dalam rangka mencari keredaan Tuhan tersebut, setiap muslim dalam aktivitasnya mengharapkan balasan dari Tuhan berupa pahala.

  • Seni Islami sebagai Manifestasi Budaya Umat Islam

Seni (fan,art) secara umum merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, dilahirkan dengan perantara alat komunikasi ke dalam bentuk yang ditangkap oleh indera pendengar (seni suara) penglihatan (seni tulis/lukis) atau dilahirkan dengan perantara gerak (seni tari, drama)” (Ensiklopedi Indonesia, V/3080,3081). Secara sederhana bisa dikatakan bahwa esensi dari seni itu adalah apa saja yang mengandung keindahan atau kebaikan. Penilaian terhadap keindahan atau kebaikan itu sendiri kadang-kadang sangat subyektif, temporer (tidak abadi), dan lokal (tidak global).

Dalam Islam, untuk menggambarkan sesuatu itu indah atau baik dapat digunakan istilah ihsan, shalih, atau jamil. Dalam hadis dijelaskan ihsan termasuk salah satu dari trilogy arkan al-din (tiang/fondasi agama), yaitu iman, islam, danihsan. Penjabaran dari ihsan bedasarkan hadis tersebut adalah “ engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihatnya, maka pasti sesungghunya Dia melihatmu. Sedang kata shalih  biasanya disandarkan dengan kata amal, sehingga menjadi amal shalih, secara harfiyah bermakna kerja yang baik. Perkataan jamil  biasanya dihubungkan dengan hadis Nabi yang popular, “ Allah itu indah (jamil) dan menyenangi keindahan”.

Secara definitive, seni menurut Islam pada hakikatnya sebgai refleksi dan ekspresi dari berbagai cita rasa, gagasan, dan ide sebgai media komunikasi yang begaya estetis untuk menggugah citarasa inderawi dan kesadaran manusiawi dalam memahami secara benar berbagai fenomena, panorama, dan aksioma yang menyangkut dimensi alam, kehidupan, manusia dan keesaan / keagungan ketuhanan berdasarkan konsepsi ilahi dan nilai-nilai fiti yang tertuang dan tesajikan dalam bentuk suara/ucapan, lukisan/tulisan, geak dan berbagai implementasi dan apresiasi lainnya. Oleh karena itu tiada satu pun bentuk apresiasi dan karya seni yang bebas nilai. Maka dalam menilai satu seni sebagai seni Islam diperlukan criteria dan rambu-rambu yang jelas sehingga dapat membedakan dan memilahkannya dari kesenian jahiliyah meskipun bernama ataupun menyebut lafal keislaman.

Di antara kaidah-kaidah (rambu-rambu) yang menjadi criteria seni Islam tersebut, menurut Yusuf Al-Qaradhawi, adalah :

  1. Harus mengandung pesan-pesan kebijakan dan ajaran kebaikan di antara sentuhan estetiknya agar terhindar laghwun (perilaku absurdisme, hampa, sia-sia).
  2. Menjaga dan menghormati nilai-nilai susila Islam dalam pertunjukkannya.
  3. Tetap menjaga aurat dan menghindari erotisme dan keseronokan.
  4. Menghindari semua syair, teknik, metode, sarana dan instrument yang diharamkan syariat terutama yang meniru gaya khas ritual religious agama lain (tasyabbuh bil kuffar)dan yang menjurus kemusyrikan.
  5. Menjauhi kata-kata, gerakan, gambaran yang tidak mendidik atau meracuni fitrah.
  6. Menjaga disiplin dan prinsip hijab.
  7. Menghindari perilaku takhanus (kebancian).
  8. Menghindari fitnah dan praktek kemaksiatan dalam penyajian dan pertunjukkannya.
  9. Dilakukan dan dinikmati sebatas keperluan dan menghindari berlebihan (israf dantabdzir) sehingga melalaikan kewajiban kepada Allah.

Menurut Islam seni bukan sekedar untuk seni yang absurd dan hampa nilai (laghwun). Keindahan bukan berhenti pada keindahan dan kepuasan estetis, sebab semua aktivitas hidup tidak terlepas dari lingkup ibadah yang universal. Seni Islam harus memiliki semua unsur pembentuknya yang penting yaitu, jiwanya, prinsipnya, metode, cara penyampaiannya, tujuan dan sasaran. Motivasi seni Islam adalah spirit ibadah kepada Allah menjalankan kebenaran (haq), menegakkan dan membelanya demi mencari ridha Allah swt, bukan mencari popularitas ataupun matei duniawi semata. Seni Islam harus memiliki risalah dakwah melalui sajian seninya yaitu melalui tiga pesan:

  1. Ketauhidan, dengan menguak dan mengungkap kekuasaan, keagungan dan transdensi (kelemahannya) dalamm segala-galanya, ekspresi dan penghayatan keindahan alam, ketakberdayaan manusia dan ketergantungannya terhadap Allah, prinsip-prinsip uluhiyah dan ubudiyah.
  2. Kemanusiaan dan penyelamatan hak-hak asasi manusia serta memelihara lingkungan seperti, mengutuk kezhaliman, penjajahan, perampasan hak, penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan, memberantas kriminalitas, dsb.
  3. Akhlak dan Kepribadian Islam, seperti pengabdian, pengorbanan, kesetiaan, kepahlawanan , dll. Juga penjelasan nilai-nilai Islam dalam berbagai segi menyangkut keluarga dan kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi, dan politik.

Puncak dari manifestasi seni Islam adalah Al-Qur’an. Maka dari itu ukuran jiwa seni bagi setiap Muslimitu adalah seberapa besar kesadaran dan penghayatan nilai-nilai Al-Qur’an pada dirinya. Penghayatan terhadap nilai-nilai Al-Qur’an tersebut menumbuhkan kesadaran terhadap ayat-ayat Tuhan lainnya, yakni jagad raya ini (ayat kauniyah). Artinya, estetika dan harmoni seni Islam tidak saja diwarnai oleh nilai-nilai Al-Qur’an.

Baca Artikel Lainnya:

8 Macam Model J.E Kemp

8 Macam Model J.E Kemp

8 Macam Model J.E Kemp
8 Macam Model J.E Kemp

Menurut Kemp (1977) pengembangan instruksional atau desain intruksional itu terdiri dari 8 langkah, yaitu:

  1. Menentukan Tujuan Intruksional Umum (TIU)

TIU merupakan tujuan yang ingin dicapai untuk masing-masing pokok bahasan

  1. Menganalisis karakterisasi peserta didik

Analisis ini dipergunakan untuk mengetahui latar belakang pendidikan sosial, budaya peserta didik, serta untuk menentukan langkah-langkah yang perlu diambil

  1. Menentukan TIK

TIK ini bagi peserta didik antara lain berguna untuk mengetahui apa yang harus dikerjakan, bagaimana mengerjakannya, dan kriterian keberhasilannya. Bagi guru TIK ini membantu dalam menentukan materi dan evaluasi pelajaran

  1. Menetukan materi pelajaran

Dalam menetukan pelajaran ini harus disesuaikan dengan TIK

  1. Menetapkan penjagaan awal
  2. Menentukan strategi belajar mengajar

Dalam memilih strategi belajar mengajar harus sesuai TIK selain itu juga harus memperhatikan faktor. a). efesien, b). efektivitas, c). ekonomi, d). peserta

  1. Mengkoordinasi sarana penunjang, yang meliputi tenaga fasilitas alat, waktu dan tenaga
  2. Mengadakan evaluasi

Evaluasi ini digunakan untuk mengontrol dan mengkaji keberhasilan dan program secara sistem

Sumber: https://sel.co.id/

Tujuan, Manfaat, Sifat dan Tugas Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat

Tujuan, Manfaat, Sifat dan Tugas Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat

Tujuan, Manfaat, Sifat dan Tugas Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Tujuan, Manfaat, Sifat dan Tugas Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat

Tujuan Hubungan Sekolah dan Masyarakat

Hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun dengan tujuan popularitas sekolah di mata masyarakat. Popularitas sekolah akan tinggi jika mampu menciptakan program-program sekolah yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan dan cita-cita bersama dan dari program tersebut mampu melahirkan sosok–sosok individu yang mapan secara intelektual dan spiritual. Dengan popularitas ini sekolah eksis dan semakin maju. Tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat diantaranya sebagai berikut:

1 Memberi penjelasan tentang kebijaksanaan penyelenggaraan sekolah situasi dan perkembangannya.

2 Menampung sarana-sarana dan pendapat-pendapat dari warga sekolah dalam hubungannya dengan pembinaan dan pengembangan sekolah.

3 Dapat memelihara hubungan yang harmonis dan terciptanya kerja sama antar warga sekolah sendiri.

Sedangkan menurut Mulyasa (2007: 50), tujuan dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah: (1) memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan peserta didik; (2) memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat; dan (3) menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.

Tujuan utama yang ingin dicapai dengan mengembangkan kegiatan husemas adalah:

  1. Peningkatan pemahaman masyarakat tentang tujuan serta sasaran yang ingin direalisasikan sekolah.
  2. Peningkatan pemahaman sekolah tentang kedudukan serta aspirasi masyrakat tersebut terhadap sekolah.
  3. Peningkatan usaha orang tua siswa dan guru-guru dalam memenuhi kebutuhan anak didik, serta meningkatkan kuantitas serta  kualitas bantuan orang tua siswa dalam kegiatan pendidikan di sekolah.
  4. Peningkatan kesadaran masyrakat tentang pentingnya peran serta mereka dalam memajukan pendidikan di sekolah dalam era pembangunan.
  5. Terpeliharanya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah serta apa yang dilakukan oleh sekolah.
  6. Pertanggung jawaban sekolah atas harapan yang disebabkan masyrakat kepada sekolah.
  7. Dukungan serta bantuan masyarakat dalam memperoleh sumber-sumber yang diperlukan untuk meneruskan dan meningkatkan program sekolah.

Manfaat Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Manfaat dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah menambah atau meningkatkan simpati masyarakat secara sadar dan sukarela yang dapat meningkatkan harga diri sekolah serta dukungan terhadap sekolah secar spiritual dan material atau finansial. Hal ini akan tampak sebagai berikut:

1 Adanya saling pengertian antara sekolah dengan pihak luar.

2 Adanya kegiatan yang membantu karena mengetahui manfaat, arti dan pentingnya peranan masing-masing.

3 Adanya kerjasama yang erat dengan masing-masing pihak dan merasa ikut bertanggungjawab atas suksesnya usaha pihak lain.

Sifat Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Bahwa pada dasarnya hubungan sekolah dengan masyarakat haruslah bersifat pedagogis, sosiologis dan produktif yang dapat mendatangkan manfaat untuk kemajuan sekolah. Dan secara rinci dapat dijelaskan di bawah ini:

  1. Hubungan timbal balik yang menghasilkan manfa’at bagi kedua belah pihak.
  2. Hubungan yang bersifat suka rela berdasarkan prinsip bahwa sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan (integral) dari masyarakat.
  3. Hubungan yang bersifat kontinyu atau berkesinambungan antara sekolah dengan masyarakat.
  4. Hubungan keluar sekolah guna menambah simpati masyarakat terhadap sekolah.
  5. Hubungan ke dalam sekolah menambah keyakinan mempertebal pengertian para civitas akademika tentang segala pemilikan material dan immaterial sekolah.

Tugas Pokok Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat

  1. Memberikan informasi dan menyampaikan ide atau gagasan kepada masyarakat atau pihak-pihak lain yang membutuhkannya.
  2. Membantu pemimpin yang karena tugas-tugasnya tidak dapat langsung memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak-pihak yang memerlukannya.
  3. Membantu pemimpin mempersiapkan bahan-bahan tentang permasalahan dan informasi yang akan disampaikan atau yang menarik perhatian masyarakat pada saat tertentu.
  4. Membantu pemimpin dalam mengembangkan rencana dan kegiatan lanjutan yang berhubungan dengan pelaksanaaan kepada masyarakat sebagai akibat dari komunikasi timbal balik dengan pihak luar, yang ternyata menumbuhkan harapan untuk penyempurnaaan kegiatan yang telah dilakukan oleh organisasi.
  5. Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam masyarakat tentang masalah pendidikan.
  6. Membantu kepala sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh bantuan dan kerja sama.
  7. Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan.
  8. Menunjukkan pergantian keadaan pendapat umum.

Sumber: https://duniapendidikan.co.id/

PPDB 2019, SKTM Melalui Proses Verifikasi

PPDB 2019, SKTM Melalui Proses Verifikasi

 

PPDB 2019, SKTM Melalui Proses Verifikasi

Calon peserta didik pemegang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang mendaftar pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 akan melalui tahap verifikasi. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) tentang sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020 yang masih digodok oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Seperti yang dikutip dari kemdikbud.go.id

Kemendikbud akan membuat aturan yang tegas agar pemegang SKTM wajib diverifikasi oleh pemerintah daerah yang mengeluarkan untuk bisa digunakan sebagai syarat jalur keluarga miskin PPDB 2019.

“(Permendikbud) tidak banyak yang berubah. Tapi item-itemnya jauh lebih tegas. Misalnya SKTM harus diverifikasi,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikdasmen) Hamid Muhammad, saat Taklimat Media di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis, 27 Desember 2018.

Bekaca pada PPDB 2018

Hamid mengatakan sekolah tidak bisa disalahkan begitu saja atas kasus penyalahgunaan SKTM pada pelaksanaan PPDB. Pada dasarnya sekolah hanya menerima SKTM dari para calon peserta didik. Jadi, sebenarnya bukan sekolah yang harusnya melakukan verifikasi SKTM, tetapi pihak yang menerbitkan.

Validasi atau verifikasi

“Seharusnya yang menerbitkanlah yang melakukan validasi atau verifikasi. Sekolah tidak punya jangkauan ke instansi pemda yang mengeluarkan SKTM. SKTM kan surat keterangan yang dikeluarkan pemda. Jadi bukan mendorong sekolah melakukan verifikasi, justru harusnya yang menerbitkan (SKTM). Nembaknya bukan ke sekolah atau Kemendikbud, itu salah nembak. Harusnya tanya ke dinas kependudukan dan catatan sipil atau instansi pemda yang mengeluarkan,” ujar Hamid menegaskan.

Hamid menjelaskan

Kemendikbud menargetkan Permendikbud tersebut terbit pada minggu kedua Januari 2019 setelah berkoordinasi dan mendapatkan validasi dari kepala daerah. Saat ini Kemendikbud sudah memetakan zona di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah zona yang telah dipetakan mencapai 2.580 zona. Diharapkan Permendikbud tentang Zonasi diterbitkan pada awal tahun 2019.

Artikel Terkait:

SMKN 1 Mundu Cirebon Bekali Siswa dengan Basic Safety Training

SMKN 1 Mundu Cirebon Bekali Siswa dengan Basic Safety Training

 

SMKN 1 Mundu Cirebon Bekali Siswa dengan Basic Safety Training

SMKN 1 Mundu Cirebon

DISDIK JABAR – SMKN 1 Mundu Cirebon memberikan program keterampilan kepada siswa untuk meningkatkan potensi dalam memasuki dunia kerja. Program tersebut berupa pelatihan kelautan yaitu Diklat Basic Safety Training (BST). BST merupakan pembekalan untuk para pelaut atau calon pelaut dibidang keterampilan yang berstandar dan bersertifikasi sesuai ketentuan.

Wakil Kepala SMKN 1 Mundu Cirebon

Wakil Kepala SMKN 1 Mundu Cirebon Bidang Hubungan Industri, Rachmat Indrianto mengatakan standard dan sertifikasi Diklat BST, sesuaidengan ketentuan konvensi internasional (STCW 1995) Amandemen 2010 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, telah mendapat pengesahan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan, Jakarta.

Sertifikasi

“Sertifikasi tersebut merupakan syarat orang untuk bekerja di laut yang berlaku secara internasional dengan berstandar STCW 1995 Amandemen 2010 oleh IMO (International Maritime Organization),” ujar Rachmat saat ditemui di SMKN 1 Mundu Cirebon, Jl. Kalijaga Mundu Pesisir, Kabupaten Cirebon, Rabu (2/1/2019).

Rachmat mengatakan diklat tersebut melatih peserta dalam konsep, prinsip dan teknik penyelamatan diri, pencegahan kebakaran dan pemadaman kebakaran, pertolongan pertama kecelakaan, keamanan diri dan tanggung jawab sosial di kapal, sesuai dengan peraturan.

Diklat BST

Selain itu, sasaran dari pelaksanaan Diklat BST adalah mencetak pelaut pemula dan pelaut berpengalaman, sebagai bagian dari awak kapal yang bertanggung jawab untuk keamanan dan pencegahan polusi dalam pengoperasian kapal.

Materi yang dipelajari diantaranya adalah Elementary First Aid (IMO Model Course 1.13), Personal Survival Techniques (IMO Model Course 1.19), Fire Prevention and Fire Fighting (IMO Model Course 1.20), Personal Safety and Social Responsibilities (IMO Model Course 1.21), dan Review and Assessment.

“Mesin kapal dikirim lengkap dari pemerintahan pusat. Di SMKN 1 Mundu Cirebon juga terdapat area simulasi bertahan hidup di laut. Selain itu, sekarang standar sekoci harus tertutup dan ada total 16 orang yang masuk,” ujar Rachmat.

 

Sumber : https://pendidikan.co.id/

Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif

Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif

Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif
Contoh Paragraf Deduktif dan Induktif

 

Induktif

Contoh paragraf induktif :

a. Maka dari itu saya sangat setuju dengan adanya kegiatan kerja bakti seminggu sekali. Karena, jika lingkungan hidup bersih maka kita juga akan sehat. Maka dari itu, kegiatan kerjanbakti sangat penting di lingkungan sekolah.

Contoh paragraf induktif dari koran :

a. Padalah DPRD Surabaya sudah memproduksi banyak perda. Bila dihitung dari awal 2012, jumlah perda yang di sahkan DPRD mencapai belasan aturan. Namun, sampai kini tak pernak ada proses pengenalan kepada masyarakat.

b. Dalam APBD 2012, terungkap dana tersebut mencapai RP 248 juta. Berdasar alokasi anggaran, sosialisasi sedianya dilakukan terhadap dua ribu orang. Namun, sampai sekarang dana itu masih utuh alias tak terpakai sama sekali.

Deduktif

Contoh paragraf deduktif :

Kebersihan sangat menjadi masalah di sekolah. Ini terjadi karena banyak murid-murid yang tidak sadar akan kebersihan. Padahal “kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Contoh paragraf deduktif dari koran :

a. KOTA – Jarang ada pasar tradisional yang menyediakan layanan kesehatan seperti pasar Songgolangit Ponorogo. Dinamakan pos kesehatan pasar alias poskespas karena ditujukan melayani pedagang dan pembeli. Tingkat kunjungan pasien mencapai 20 orang perhari kendati letak poskespas itu terpencil di dekat area parkir. “Letakya nyelempit, kalau orang baru pasti bingung mencari, ungkap karmini, salah seorang pedagang yang menjadi pasien setia poskespas Pasar Songgolangit, kemarin (16/8).
b. Pos kesehatan di pasar itu memang di khususkan melayani pedagang dan pembeli. Pedagang tidak akan khawatir meninggalkan dagangannya karena haanya berobat masih di kawasan pasar. Mereka dapat antre saat sepi pembeli. “kebanyakan periksa gula darah dan rematik, mayoritas pasiennya berusia tua,” papar Yayuk. (pra/hw)
c. Ada juga perda penyelenggaraan pendidikan. Aturan itu juga menggariskan sejumlah kebijakan baru di bidang pendidikan. Misalnya, alokasi bantuan personal kepada sisiwa SD, SMP, SMA/MK swasta. Dengan alokasi itu, siswa tidak mampu tidak perlu khawatir memikirkan biaya membeli seragam, hinnga buku tulis. Sebab, pemkot akan menanggung dalam bentuk barang.

Sumber : https://www.dosenmatematika.co.id/