Lipoma

Lipoma

Lipoma yakni salah satu jenis penyakit kulit yang tidak berbahaya, namun dapat membuat penderita malu, karena terdapat benjolan yang besar pada tubuh manapun. Ciri-ciri terkena limpoma terdapat benjolan, jika ditekan bergesar dan lembek. Faktor penyebab yakni genetika, mengalami penyakit lain, bertambah usia.

  1. Mata Ikan (clavus)

weeklyhealthylife com

Mata ikan dapat disebut(clavus) yakni salah satu jenis penyakit kulit manusia. Dimana penyakit dapat tumbuh di jari, tengan, kaki dll. Virus penyebab mata ikan yakni human papilomavirus (HPV). Fakto resiko terkena clavus yakni terjadi gesekan menerus didaerah tersebut.

  1. Neurofibromatosis
drsandeepinchanalkar com

Neurofibromatosis yakni salah satu jenis penyakit kulit tumbuh tumor-tumor jinak di jaringan saraf. Faktor penyebab yakni faktor keturunan (genetik).

  1. Rubella (Gabangen)
nhs uk

Rubeola atau disebut (gabangen)/campak yakni salah satu jenis penyakit kulit sering menyerang anak-anak. Virus penyebab yakni golongan paramixovirus. Tanda/gejala campak ditandai panas tubuh, demam, batuk, mata merah, pilek. timbul bercak pada kulit. Resiko penyebab campak yakni tidak melakukan vaksinansi, imunisasi kedua.

  1. Cacar Ular
i1.walesonline.co uk

Cacar ular yakni salah satu jenis penyakit kulit. Dimana cacar air ini akan timbul beberapa tahun sesudah penderita mengalami cacar air. Virus penyebab cacar ular yakni varicela. Faktor resiko terkena menurun sistem imun, umur bertambah,dll.

  1. Cacar Monyet (Impetigo Bulosa)
img.medscapestatic com

Cacar monyet (impetigo bulosa) yakni suatu bentuk pioderma superfisialis, bakteri penyebab yakni staphylococcus aureus. Penyakit ini dapat tumbuh di punggung, ketiak, bokong dll.

  1. Psoriasis Pustular
medicalpoint org

Psoriasis pustular yakni salah satu jenis penyakit kulit pada manusia. Penyakit ini mampu timbul pada kaki, tangan. Gejala ditandai turun BB, demam, mengigil, gatal-gatal dibagian tersebut. Faktor penyebab yakni genetika, autoimun.

  1. Xanthelasma
images.emedicinehealth com

Xanhelasma yakni kumpulan kolesterol dibawah kulit yang batas tegas warna kekuningan. Jenis penyakit kulit ini mampu timbul pada sekitar mata. Faktor resiko penyebab yakni kadar lipid tinggi dalam darah. Cara mencegah yakni mengendalikan kadar kolesterol.

  1. Argyria (Argyrosis)
i.dailymail.co uk

Argyria dapat disebut (argyrosis) yakni salah satu jenis penyakit kulit aneh. Ciri-ciri penderita akan mengalami kulit kebiruan dan mengkilap. Faktor penyebab diduga colloidal silver.

  1. Xanthoma
cursoenarm net

Xanthoma yakni salah satu jenis penyakit kulit disebabkan penumpukan lemak di makrofag kekebalan kulit. Faktor penyebab yakni gangguan metabolisme lipid.

  1. Xeroderma Pigmentosum (XP)
14p ir

XP dapat disebut (xerederma pigmentosum) yakni salah satu jenis penyakit kulit yang jarang terjadi. Ciri-ciri terkena penyakit ini yakni peka terhadap cahaya, perubahan warna kulit, terasa terbaka saat terkena UV. Faktor penyebab yakni faktor genetika, gangguan autosomal.

  1. Zoonosis
i.dailymail.co uk

Zoonosis yakni salah satu jenis penyakit kulit langka. Faktor penyebab yakni terkena gigitan serangga sandfly.

  1. Varises (Varicose Veins)
veinclinicca com

Varises yakni pembuluh darah yang membesar. Varises sering menyerang pada kaki, apabila berjalan mampu meningkatkan tekanan pembuluh darah , bagi penderita tentu akan mengalami rasa sakit dan tidak nyaman yang mampu menimbulkan masalah serius. Faktor resiko penyebab terkena varises yakni genetik, bertambah umur, kegemukan.

  1. Virus Singapura (Flu Singapura)
lamandel com

Virus singapura dapat disebut (flu singapura) yakni salah satu jenis penyakit kulit disebabkan virus. Penyakit yang sering menyerang anak-anak, ciri-ciri flu singapura yakni bintil-bintil kecil, luka-luka pada tangan, kaki bahkan mulut. Virus penyebab flu singapura yakni enterovirus A. Faktor penyebab terkena virus singapura yakni tertular dengan penderita, sistem imun lemah.

 

Baca juga:

Intertrigo

Intertrigo

Intertigo yakni salah satu jenis penyakit kulit infeksi jamur yang banyak menyerang anak-anak/wanita. Penyakit intertigo mampu tumbuh bagian lembab seperti ketiak, lipatan tubuh, paha. Ciri ciri intertigo kulit terasa gatal, nyeri bila terjadi gesekan dan berwarna merah. Jamur penyebab intertigo yakni candida albicans, faktor resiko terkena intertigo yakni lembab, tidak mendapatkan angin.

  1. Pityriasis Versicolor (Panu)

medthical com

Pityriasis versicolor yakni salah satu jenis penyakit kulit yang banyak menyerang remaja. Ciri-ciri pityriasis yakni kulit gatal ketika berkeringat, timbul bercak putih dan berisisik. Jamur penyebab yakni candida albiacans. Faktor resiko kurang kebersihan dan penularan.

  1. Kutu Air (Rangen)
ecs12.tokopedia net

Kutu air atau disebut (rangen) yakni salah satu penyebab gatal pada kulit. Penyakit ini sering menjangkit pada bagian kaki, tangan, dan tubuh lainnya. Jamur penyebab kutu air dapat disebabkan oleh trichophyton. Faktor penyebab terkena kutu air yakni kurang menjadi kebersihan, tempat lembab, menggunakan sepatu lembab dan berbau.

  1. Ringworm (Dermatophytosis)
askdrsears com

Ringworm dapat disebut (dermatophytosis) /kurap yakni salah satu jenis penyakit gatal pada kulit. Jamur penyebab kurap yakni dermatofit. Ciri-ciri kuraplingkaran dan bercak-bercak putih, kulit tebal, berair dan gatal-gatal. Faktor penyebab kurap yakni kurang menjaga kebersihan.

  1. Scabies (Gudik)
i.ytimg com

Scabies dapat disebut (gudik) yakni salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit dapat menimbulkan rasa sangat gatal dimalam hari. Parasit penyebab scabies yakni tungau sarcoptes scabiei varian hominis. Faktor resiko terkena scabiek yakni tertular dengan penderita lewat melalui beberapa cara seperti memakai pakian penderita atau bersentuhan.

51.Diabetic blisters

onlinedermclinic com

Diabetic blisters yakni jenis penyakit kulit banyak menyerang penderita diabetes. Tanda/gejala yakni terdapat benjolan, melepuh, ruam.

  1. Paederus Fuscipes
2.bp.blogspot com

Gigitan tomcat dapat disebut (paederus fuscipes) yakni salah satu jenis penyakit kulit yang berasal dari racun paederin dari serangga tomcat. Ciri-ciri terkena gigitan tomcat seperti timbul peradangan, kulit terasa gatal, iritasi, warna kulit memerah.

  1. Harlequin ichthyosis
pbs.twimg com

Harlequin ichthyosis yakni salah satu jenis penyakit kulit yang langka. Karena pasien akan mengalami kulit benar-benar kering yang sering menyerang bayi.

  1. Tungiasis
thekcp org

Penyakit kulit tungiasis yakni salah satu penyakit kulit disebabkan oleh gigitan kutu tunga penetran (betina).

  1. Ulat

Ulat yakni salah satu jenis penyakit aneh dan langka. karena dalam luka tersebut terdapat ulat. Faktor penyebab belum diketahui.

  1. Larva (Cutaneous Larva Migrans)

Larva atau disebut (Cutaneous larva migrans) yakni salah satu jenis penyakit kulit pada manusia. Dimana larva pindah dibawah permukaan kulit. Banyak parasit penyebab penyakit kulit ini yakni Ancylostoma caninum, ancylostoma braziliense, uncinaria dll. Faktor penyebab terkena larva yakni berjalan kaki tanpa memakai alas, bermain tempat kotor, tidak mencuci kaki.

Sumber: https://ngegas.com/dolmus-driver-apk/

Dermatitis Seboroik (Seborrhea)

Dermatitis Seboroik (Seborrhea)

Dermatitis seboroik dapat disebut (seborrhea) yakni salah satu penyakit kulit yang ada di indonesia. Penyakit ini dapat tumbuh pada kepala, wajah, punggung dan lainnya. Jamur penyebab dermatitis seboroik yakni malassezia. Faktor resiko terjankit dapat karena stes, pengaruh cuaca, diabetes, obat dan kebiasaan sering mengaruk saat tangan kotor.

  1. Dermatitis Atopik

salinetherapy com

Dermatitis atopik yakni salah satu penyakit kulit yang banyak menyerang anak-anak. Penyakit kulit ini merupakan kronis karena dapat betahan lama kadang muncul dan kembali. Gejala penyakit atopik yakni terasa gatal dimalam hari, lepuhan berisi cairan, kulit menebal, bersisik, bercak-bercak dan berwarna merah. Bakteri penyebab dermatitis atopik yakni staphylococcus aureus. Faktor penyebab lain kekebalan lemah, makanan, mengalami infeksi kulit, alergi kulit.

  1. Acrodermatitis Enteropati
dermaamin com

Acrodermatitis enteropati yakni suatu peradaan pada kulit terdapat pada ektremitas. Virus penyebab acordermatitis banyak dikaitkan dengan Enterovirus, Coxsackie virus, virus Syncytal,  Parainfluensa virus dan lainya.

  1. Folikulitis Pseudomonas
newhealthadvisor com

Furikulitis pseoudomonas yakni salah satu peradangan terjadi pada rambut (folikel), penyakit kulit disebabkan oleh bakteri. Bakteri penyebab furikulitis yakni staphylococcus aureus. Faktor penyebab pemicu folikulitis seperti menggunakan air untuk mandi atau mencuci tidak bersih, mencukur rambut, berkeringat, riwayat jerawat, mengalami gesekan, kulit lembab.

  1. Frambusia
healthhype com

Frambusia yakni salah satu penyakit kulit yang dapat mudah untuk menular. Ciri-ciri penyakit ini ditandai bintil-bintil kecil, kemudian akan berubah menjadi nanah, sesudah kering menjadi bekas dan berkerak diiringi dengan rasa nyeri sendi bahkan terasa pusing kepala.

  1. HIV/AIDS
2.bp.blogspot com

HIV/AIDS yakni salah satu penyakit kulit menular, berbahaya dan mengancam nyawa penderita. Selain itu virus ini dapat merusak sistem imum penderita shingga dapat terserang berbagai penyakit lainnya. Faktor penyebab terkena virus HIV/AIDS diantaranya melakukan hubungan tidak sehat, pemakian jarum tidak steril, transfusi darah dengan penderita, bahkan transmisi ibu pada anak.

  1. Hives, Urtikaria (Biduran)
upload.wikimedia org

Hives disebut biduran atau (Urtikaria) yakni salah satu raksi alergi pada sesuatu. Penyebab hives masih belum diketahui secara pasti, karena banyak yang menjadi penyebab alergi kulit itu muncul seperti faktor genetik, obat, manakan, gigitan serangga, stres, trauma fisik dan lain-lain. Gejala biduran dapat ditandai dengan kemunculan bentol-bentol / bercak-bercak merah, terasa terbakar dan perih.

  1. Dyshidrotic Eczema (Eksim Dishidrotik)
healthool com

Dyshidrotic eczema dapat disebut (eksim dishidrotik) yakni dimana kondisi ruam terasa gatal yang timbul jari tangan, telapak tangan bahkan pada kaki. Ciri-ciri eksim dishidrotik yakni bintik-bintik kecil berisi cairan, yang kondisi tersebut bisa datang lalu kembali lagi. Penyebab penyakit ini belum tahu secara pasti, namun diduga dapat karena dermatitis kontak, infeksi jamur/bakteri, dermatofitid.

  1. Fungal Nail Infection
alpha.nhs uk

Fungal nail infection atau disebut (infeksi pada kuku) yakni salah satu penyakit kulit menyerang pada kuku kaki. Faktor penyebab memakai sepatu sempit, usia lanjut, riwayat diabetes, kuku kaki sering mengalami lembab.

  1. Caplak, Catak (Kutil)
eyelidsurgery.co uk

Camplak, catak dapat disebut (kutil) yakni penyakit kulit pada manusia. Virus penyebab yakni human papillomavirus. Faktor resiko terkena yakni kurang menjaga kebersihan, penularan oleh penderita, sensual tidak menggunakan pengaman.

 

Sumber: https://whypoll.org/crashing-season-apk/

Mengenal Tentang Candi Borobudur

Mengenal Tentang Candi Borobudur

Mengenal Tentang Candi Borobudur
Mengenal Tentang Candi Borobudur

Candi Borobudur

merupakan bangunan suci, peninggalan sejarah agama Buddha mazhab Mahayana yang dibangun di atas bukit. Candi Borobudur adalah bukti sejarah kejayaan dan kemasyuran Agama Buddha khususnya Mazhab Mahayana di Indonesia. Candi-candi Budha lainnya antara lain : Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sewu, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Ngawen, Candi Sari, Candi Sojiwan dan Candi Lumbung. Semua bangunan candi sejarah itu terdapat di propinsi Jawa Tengah bagian Selatan. Selain itu ada pula Candi Muara Takus di Riau-Sumatera dan Candi Gunung Tua di Tapanuli Selatan.

Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sebenarnya sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat.

Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko, Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.

Nama Borobudur

Mengenai nama Borobudur, banyak ahli purbakala yang menafsirkannya, di antaranya Prof. Dr. Poerbotjoroko menerangkan bahwa kata Borobudur berasal dari dua kata Bhoro dan BudurBhoro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Vihara atau kompleks candi atau asrama, sedangkan kata Budur merujuk pada kata yang berasal dari bahasa BaliBeduhur yang berarti di atas (tinggi). Pendapat ini dikuatkan oleh Prof. Dr. WF. Stutterheim, yang berpendapat bahwa Borobudur berarti Bihara atau asrama yang berada di atas sebuah bukit.

Teori yang lain menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara), di mana di lereng-lerengnya berbentuk teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan“para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur.

Menurut Prof. JG. De Casparis, di prasasti Prasasti Karang Tengahterdapat nama Bhumisambharabhudhara yang berarti tempat pemujaan arwah-arwah leluhurnya (vihara nenek moyang) dari dinasti Syailendra, yang terletak diperbukitan. Bagaimana pergeseran kata itu terjadi menjadi Borobudur? Hal ini terjadi karena faktor pengucapan masyarakat setempat.

Jadi berdasarkan prasasti tahun 842 tersebut, sejarahwan J.G. de Casparis, menyimpulkan bahwa bangunan candi yang bersejarah ini, sebenarnya bernama Bhumisambharabhuddhara, yang berarti Gunung himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Bodhisattva. Nama Bhumisanbharabudhara juga berarti timbunan tanah, bukit atau bangunan bertingkat-tingkat, yang diidentikan dengan sebutan vihara kamulan.

Lokasi Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di pusat jantung pulau Jawa, tepatnya di Propinsi Jawa Tengah. Candi ini terletak di atas perbukitan, di Desa Borobudur, Mungkid, Kabupaten Magelang, sekitar 42 km sebelah Barat Laut kota Yogyakarta dan sekitar 100 km Barat Daya kota Semarang.

Bangunan candi Borobudur menjulang tinggi dan bersandar pada sebuah bukit menoreh yang membujur dari arah Timur ke Barat, dan dikelilingi oleh gunung-gunung yang membentang disekitarnya. Di sebelah Timur terdapat gunung Merbabu dan Merapi, sebelah Barat terdapat gunung Sumbingserta gunung Sindoro dan sebelah Barat Laut terhampar bukit Menoreh, di sebelah Utara (di daerah Magelang) dikelilingi oleh gunung Telomoyodan Unggaran. Hal ini melambangkan kebulatan tekad dalam menyembah Ing Gusti (surat dari Dr. Beda Scramm kepada Mamoque).

Sejarah Pembangunan Candi Borobudur

Meskipun tidak kurang dari 500 buah buku telah ditulis oleh para ahli Indonesia maupun mancanegara mengenai Borobudur, tetapi sampai sekarang masih belum ada kesamaan pendapat, diantara para sarjana dan ahli arkeolog, tentang kapan Candi Borobudur didirikan, tahun berapa, oleh siapa, berapa lama bangunan ini digunakan sebagai bukit suci bagi agama Buddha dan kapan menghilang atau dengan sengaja dikubur ataukah ada sebab lain. Semua pertanyaan ini masih terus diteliti untuk memperoleh jawaban yang pasti dengan dukungan melalui bukti-bukti sejarah.

Dari Prasasti Karangtengah bertahun 824 M maupun Prasasti Sri Kahulungan bertahun 842 M, menyebutkan bahwa ada tiga buah candi yang didirikan untuk mengagungkan kebesaran Buddha, yaitu Candi MendutCandi Pawon dan Candi Borobudur. Candi Mendut didirikan oleh Pramudyawardani, Candi Pawon yang didirikan oleh Indra dan Borobudur didirikan oleh raja dari dynasti Syailendra bernama Samaratungga. Meskipun tidak diketahui dengan pasti urutan atau kronologi dibangunnya ketiga candi tersebut, namun ketiganya memiliki keterikatan, satu dengan yang lainnya.

Dari relief yang ada, Candi Mendhut didirikan untuk memperingati khotbah pertama Sang Buddha. Pada dinding itu jelas ditawarkan alternatif yang boleh dipilih oleh pengikut Sang Buddha, yaitu hidup meninggalkan keduniawian sebagai bhikkhu (pertapa) atau hidup dalam keduniawian demi kesejahteraan sesama menampilkan kemakmuran bagi bangsa dan negara. Buddha mengajarkan pemilihan tersebut dengan konsekwensi yang pasti dan jelas.

Untuk mengetahui lebih mendalam tentang kehidupan hingga tercapainya Nibbana (Nirvana), maka di Borobudur dijelaskan secara rinci, dari kehidupan penuh nafsu, melalui kelahiran demi kelahiran baik dalam alam binatang, alam dewa atau pun alam manusia hingga akhirnya tidak ada kelahiran lagi yang dinamakan Nibbana itu. Tetapi untuk mengetahui lebih mendalam akan makna yang tercantum pada dinding Borobudur, batin kita hendaknya dimatangkan dulu di Candi Pawon.

Demikianlah makna perjalan ziarah agama Buddha menuju Borobudur. Dari Mendhut, menyinggahi Pawon menuju Borobudur, bukannya sebaliknya dari yang termegah menuju awal mencari dharma. Ini juga dapat diterapkan pada kehidupan kita, mula-mula mencari pegangan hidup, memilih diantara alternatif yang tersedia kemudian melalui pendadaran yang penuh sepi dan keprihatinan untuk mencapai kejayaan. Ketiganya terletak pada satu garis lurus dari timur menuju barat.

Berdasarkan tulisan singkat berbentuk relief dari huruf Pallawa (huruf Jawa kuno), yang di pahatkan di atas pigura pada “kaki asli” Candi Borobudur (Karwa Wibhangga), menunjukan bahwa huruf-huruf yang dipahatkan, sejenis dengan yang di dapatkan di prasati, dimana tertulis akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9. Dari bukti-bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800 M.

Sejarah juga mencatat bahwa  candi Borobudur adalah candi Budha terbesar yang pernah dibangun sebagai penghormatan kepada sang Budha. Sejarahwan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950, berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan nenek moyang raja-raja Syailendra, agar nenek moyang mencapai ke-Buddhaan. Sepuluh tingkat Borobudur itu juga melambangkan, bahwa nenek moyang raja Sailendra yang mendirikan Borobudur itu berjumlah 10 orang. Prasasti Cri Kahuluan yang berasal dari abad IX (824 Masehi) yang diteliti oleh Prof Dr J.G. Casparis, mengungkapkan silsilah tiga Wangsa Syailendra yang berturut-turut berkuasa pada masa itu, yakni Raja Indra, Putranya Samaratungga. Kemudian, putrinya yang bernama Dyah Ayu Samaratungga Pramodhawardhani.

Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, candi Borobudur didirikan oleh penganut Budha Mahayana pada masa pemerintahan raja dari Wangsa Syailendra. Pembangunan candi ini dimulai pada masa Maha Raja Dananjaya yang bergelar Sri Sanggramadananjaya, dilanjutkan oleh putranya, Samarotthungga, sekitar tahun 824 M, dan selesai pada masa pemeintahan cucu perempuannya, Dyah Ayu Pramudhawardhani. Pembangunannya diperkirakan memakan waktu setengah abad.

Arsitektur yang menciptakan candi, berdasarkan tuturan masyarakat bernama Gunadharma. Pembangunan candi itu selesai pada tahun 847 M. Menurut prasasti Kulrak (784 M) pembuatan candi ini dibantu oleh seorang guru dari Ghandadwipa (Bengalore) bernama Kumaragacya,yang sangat dihormati, dan seorang pangeran dari Kashmir bernama Visvawarman, sebagai penasihat yang ahli dalam ajaran Buddis Tantra Vajrayana.

Kesimpulan tersebut di atas, ternyata sesuai benar dengan kerangka sejarah Indonesia pada umumnya dan juga sejarah yang berada di daerah Jawa Tengah pada khususnya, dimana pada periode antara abad ke-8 dan pertengahan abad ke-9, terkenal dengan abad ke-emas-an Wangsa Syailendra. Kejayaan ini di tandai di bangunnya sejumlah besar candi di lereng-lereng gunung, yang kebanyakan berdiri khas bangunan Hindu, sedangkan yang bertebaran di dataran-dataran adalah khas bangunan Budha, tapi ada juga sebagian yang khas Hindu.

Dengan demikian dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di bangun oleh wangsa Syailendra, yang terkenal dalam sejarah karena usahanya untuk menjungjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.

Salah satu pertanyaan yang sampai kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur? Beberapa mengatakan, Borobudur, awalnya berdiri dikelilingi rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.

Sekitar tiga ratus tahun lampau, tempat candi ini berada masih berupa hutan belukar yang oleh penduduk sekitarnya disebut Redi Borobudur. Untuk pertama kalinya, nama Borobudur diketahui dari naskah Negarakertagama karya Mpu Prapanca, pada tahun 1365 M, yang menyebutkan tentang adanya biara di Budur. Kemudian pada Naskah Babad Tanah Jawi (1709-1710), dikisahkan tentang Mas Dana, seorang pemberontak terhadap Raja Paku Buwono I, yang tertangkap di Redi Borobudur dan dijatuhi hukuman mati. Kemudian pada tahun 1758, tercetus berita tentang seorang pangeran dari Yogyakarta, yakni Pangeran Monconagoro, yang berminat melihat arca seorang ksatria yang terkurung dalam sangkar.

Dimensi Candi Borobudur

Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Candi Borobudur berbentuk limas yang berundak-undak, sebanyak 10 tingkat, dengan tangga naik pada keempat sisinya (Utara, Selatan, Timur dan Barat), pada Candi Borobudur tidak ada ruangan di mana orang tak bisa masuk, melainkan hanya bisa naik ke atas saja.

Lebar bangunan Candi Borobudur 123 M, panjang bangunan Candi Borobudur 123 M, dan pada sudut yang membelok, panjangnya 113 M. Jadi luas bangunan candi Borobudur mencapai 15.129 m² dengan ketinggian awal, sebelum direnovasi adalah 42 m. Tetapi setelah direnovasi ketinggiannya hanya tinggal 35,29 m, karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Pada kaki yang asli di tutup oleh batu adhesit sebanyak 12.750 m kubik, sebagai selasar undaknya.

Dibutuhkan tak kurang dari 2 juta balok batu adhesit atau setara dengan 55.000 m kubik, untuk membangun Candi Borobudur ini. Batu-batu adhesit ini rata-rata berukuran 25 x 10 x 15 cm.  Panjang potongan batu ini jika diurutkan, dapat mencapai 500 km. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton. Seperti umumnya bangunan candi, Bororbudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki, badan dan bagian atas.

Struktur Borobudur

Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar yang tiap sisinya agak menonjol berliku-liku, sehingga memberi kesan bersudut banyak., tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.

Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Pada tahun 1929, Prof. Dr. W.F. Stutterheim telah mengemukakan teorinya, bahwa Candi Borobudur itu hakekatnya merupakan refleksi atau “tiruan” dari alam semesta yang menurut ajaran Buddha terdiri atas 3 bagian besar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan arca Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai arca Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada arca pada stupa utama, arca yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. menurut kepercayaan arca yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak arca seperti ini.

Di masa lalu, beberapa arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua arca singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja ThailandChulalongkorn, yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896, sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada hanyalah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala. Struktur Borobudur ini dibangun tanpa menggunakan semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

  1. Bagian kakidisebutKamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini menceritakan atau merefleksikan tentang alam bawah atau dunia hasrat dalam dunia ini. Pada tingkat ini, manusia terikat pada hasrat bahkan di kuasai oleh hasrat kemauan, hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita berbentuk relief-relief, yang terdapat dibagian kaki asli dari candi dan menggambarkan Kammawibhangga yaitu menggambarkan hukum sebab akibat. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
  2. Bagian badanyang disebutRupadhatu, Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Jadi, menggambarkan tentang alam semesta (dunia rupa), dimana manusia atau dunia sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Bagian ini melambangkan dunia orang suci. Bagian ini terdapat pada lorong satu (lantai satu) sampai lorong empat (lantai empat) dengan dinding berelief di atasnya. Lantainya berbentuk persegi. Pada bagian Rupadhatu ini, arca-arca Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding yang menyerupai jendela, di atas ballustrade atau selasar.
  3. Bagian atasdisebutAruphadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Bagian ini menggambarkan alam atas, dunia tanpa rupa atau ketiadaan wujud, yaitu tempat para dewa. Di tingkat ini manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Karena itu bagian Arupadhatu itu digambarkan polos, tidak ber-relief. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan.

Bagian ini dimulai dari lantai atau teras kelima hingga ketujuh yang berbentuk bundar dan dindingnya tidak berelief. Bagian ini juga dilambangkan dalam bentuk stupa induk, yang kosong (stupa yang paling besar) yang terdapat dipuncak candi. Di Stupa Induk ini sebenarnya pernah ditemukan arca Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalah-sangkakan sebagai arca Adibuddha. Padahal melalui penelitian lebih lanjut, dinyatakan bahwa tidak pernah ada arca pada stupa utama. Arca yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. Menurut kepercayaan, arca yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak arca seperti ini. Dari luar arca-arca itu masih tampak samar-samar.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Upacara itu disebut pradaksima Tingkat-10.

Sejarawan Belanda Dr. J.G. Casparis dalam desertasinya untuk mendapat gelar doctor pada tahun 1950 mengemukakan, bahwa Borobudur yang bertingkat 10 itu, secara jelas menggambarkan filsafat Buddha Mahayana yang disebut “Dasabodhisatwabhumi”. Filsafat itu mengajarkan, bahwa setiap orang yang ingin mencapai tingkat kedudukan sebagai Buddha, harus melampaui 10 tingkatan Bodhisatwa. Apabila telah melampaui 10 tingkat itu, maka manusia akan mencapai kesempurnaan dan menjadi seorang Buddha.

Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

Arca-arca Dhayani Buddha

Jumlah arcanya ada 505 buah, terdiri dari : -Tingkat ke-1 Rupadhatu ditempat arca-arca Manushi Budha sebanyak 92 buah; -Tiga tingkat selebihnya masing-masing mempunyai 92 buah arca Dhyani Buddha; -Tingkat di atasnya mempunyai 64 arca Dhyani Buddha. Selanjutnya di tingkat Arupadhatu terdapat pula arca-arca Dhyani Buddha yang dikurung dalam stupa, masing-masing tingkat sebanyak : 32, 24 dan 16 jumlah 72 buah. Akhirnya di stupa induk paling atas, dahulunya terdapat pula sebuah arca Sang Adhi Buddha, yaitu Buddha tertinggi dalam agama Buddha Mahaya. Maka jumlah seluruhnya adalah 432 + 64 + 1 = 505 buah.

Agar lebih jelas susunan-susunan arca Budha yang terdapat pada candi Borobudur adalah sebagai berikut:
1. Langkah I terdapat               : 104 arca Budha
2. Langkah II terdapat              : 104 arca Budha
3. Langkah III terdapat             : 88 arca Budha
4. Langkah IV terdapat             : 22 arca Budha
5. Langkah V terdapat              : 64 arca Budha
6. Teras bundar I terdapat        : 32 arca Budha
7. Teras bundar II terdapat       : 24 arca Budha
8. Teras bundar III terdapat      : 16 arca Budha
Jumlah                                      : 504 arca Budha

Sekilas, arca Budha itu tampak serupa semuanya namun sesunguhnya ada juga perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas dan juga yang membedakan satu dengan lainya adalah dalam sikap tangannya yang di sebut Mudra dan merupakan ciri khas untuk setiap arca. Sikap tangan arca Budha di Candi Borobudur sebenarnya ada 6 macam. Hanya saja, karena macam mudra yang di miliki menghadap ke semua arah (Timur, Selatan, Barat, dan Utara) dan pada bagian Rupadhatu yang terdapat di langkah V maupun pada bagian Arupadhatu, pada umumnya menggambarkan maksud yang sama maka jumlah mudra yang pokok hanya ada lima. Kelima mudra itu adalah Bhumispara Mudra, Wara Mudra, Dhayana Mudra, Abhaya Mudra, Dharma Cakra Mudra.

Pada bagian Rupadhatu, arca Dhayani Buddha digambarkan terbuka. Arca-arca ini ditempatkan di lubang dinding seperti di jendela terbuka. Tetapi dibagian Arupadhatu arca-arca itu ditempatkan di dalam stupa yang tutupnya berlubang-lubang seperti didalam kurungan. Dari luar masih tampak arca-arca itu samar-samar. Cara penempatan arca-arca tersebut rupanya dimaksudkan oelh penciptanya untuk melukiskan wujud samar-samar “antara ada dan tiada” sebagai suatu peralihan makna antra Rupadhatu dan Arupadhatu.

Arupa yang artinya tidak berupa atau tidak berwujud, sepenuhnya baru tercapai pada puncak dan pusat candi itu yaitu stupa terbesar dan tertinggi yang digambarkan polos (tanpa lubang-lubang), sehingga arca didalamnya sama sekali tidak tampak. Stupa-stupa yang mengurung arca-arca di bagian Arupadhatu, bagian bawahnya bergaris miring, sedang lubang-lubang diatasnya bergaris tegak.

Menurut almarhum Prof. Dr. Sucipta Wirjosaputro, lubang-lubang seperti tersebut merupakan lambang proses lenyapnya sisa nafsu secara bertahap. Lubang-lubang yang bergaris miring (lebih rendah dari lainnya) menggambarkan, bahwa di tingkat itu masih ada sisa-sisa dari nafsu, sedang pada tingkat di atasnya yang bergaris tegak, menggambarkan nafsu itu telah terkikis habis, dan hati pun telah lurus.

Arca Singa

Pada Candi Borobudur selain arca Budha, juga terdapat arca singa jumlah kurang lebih 32 buah arca singa, akan tetapi jiak saat ini di hitung, mungkin sekarang jumlahnya berkurang karena berbagai sebab. Salah satu arca singa yang sangat besar, berada pada halaman sisi barat, yang juga menghadap ke barat, seolah – olah sedang menjaga bangunan Candi Borobudur yang megah dan anggun.

Stupa

Di Candi Borobudur terdapat  tiga jenis stupa, masing-masing:

– Stupa Induk. yang berukuran lebih besar dari stupa-stupa lainya dan terletak di tengah-tengah bagian paling atas. Stupa induk ini merupakan mahkota dari seluruh monumen bangunan Candi Borobudur. Garis tengah Stupa induk berukuran sekitar 9,90 m, tinggi 7 m dan bagian puncak tertinggi di sebut pinakel atau Yasti Cikkara, terletak di atas Padmaganda dan juga terletak di garis Harmika.

– Stupa Berlubang atau Stupa Terawang. Yang dimaksud stupa berlubang atau terawang ialah Stupa yang terdapat pada teras I, II, III di mana di dalamnya terdapat arca Budha. Di Candi Borobudur jumlah stupa berlubang seluruhnya 72 Buah, stupa – stupa tersebut berada pada tingkat Arupadhatu dimana di teras I terdapat 32 Stupa, di teras II terdapat 24 Stupa, dan di teras III terdapat 16 Stupa. Jadi total berjumlah 72 Stupa

– Stupa kecil. Bentuknya hampir sama dengan stupa yang lainya, hanya saja perbedaan yang menonjol adalah ukurannya yang lebih kecil dari stupa yang lainya, seolah-olah menjadi hiasan bangunan Candi Borobudur. Keberadaan stupa ini menempati relung – relung pada langkah ke II saampai langkah ke V sedangkan pada langkah I berupa Keben dan sebagian berupa stupa kecil yang berjumlah 1472 Buah.

Relief

Di setiap tingkatan, dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita. Menurut Drs. Moehkardi, relief-relief ini terususun dalam 1.460 panel atau adegan, sedangkan relief yang bersifat dekoratif (hiasan) ada 1212 buah. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jika rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km.

Semua relief yang ada pada dinding Candi Borobudur, pembacaan cerita-ceritanya senantiasa dimulai dari Gerbang Timur. Dari situ dapat disimpulkan bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita tentang Ramayanan dan jātaka.Tetapi secara keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Pada lantai pertama, segera membelok ke kiri berjalan searah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur.

Sebagai relief pertama dilukiskan ketika Sang Bodhisatta (Bodhisatva) berada di Nirvana Tusita, dibimbing oleh deva ketika akan lahir sebagai manusia. Barulah pada dinding ke 13 dilukiskan ketika Permaisuri Maya bermimpi seekor gajah masuk ke dalam rahimnya sebagai pertanda akan melahirkan putra mahkota pada usia lanjut. Mengelilingi dinding pertama hingga pada ujung Gerbang Timur lagi dilukiskan ketika Sang Buddha membabarkan dhamma (dharma) untuk pertama kali dihadapan lima orang pertapa di Taman Isipatana. Kisah kehidupan ini disebut Lilitavistatara.

Membaca relief lantai kedua sampai dengan lantai keempat secara pradaksina dapat disaksikan penggambaran ketiga Sang Bodhisatta tumimbal lahir sebelum kelahirannya yang teakhir sebagai manusia Siddhattha (Siddhartha). Himpunan cerita ini ada yang melukiskan ketika hidup sebagai kelinci, gajah, manusia bahkan dewa. Cerita ini diambil dari kitab kelima dari Sutta Pitaka, bagian dari Khudaka Nikaya yang disebut Jataka. Cerita dari Jataka ini sangat disukai oleh anak-anak beragama Buddha, dan menjadikannya berkeyakinan akan adanya tumimbal lahir sebelum tercapainya Nibbana.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Kalau empat lantai sebelumnya berbentuk bujursangkar, tiga lantai tanpa relief yang disebut Arupa-Datu berbentuk lingkaran. Bagian kesembilan adalah stupa induk. Masih ada lagi satu lantai basement (bawah tanah) yang hanya dibuka sedikit, disebut Kama-Datu, menggambarkan pemenuhan nafsu. Empat lantai berrelief oleh ahli sejarah disebut Rupa-Datu. Itulah sebabnya Borobudur disebut juga “ bangunan suci sepuluh tingkat”. Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filosofi Budhisme sangha Mahayana. Filsafat itu mengajarkan bahwa setiap orang/mahluk yang mengabdikan diri bagi kemanusiaan dan sesama mendapat julukan Bodhisattva, yang menempuh proses 10 tahapan. Apabila telah melampaui semua tingkat itu, manusia akan mencapai kesempurnaan (moksa).

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut.

Bagan Relief
Tingkat Posisi/letak Cerita Relief Jumlah Pigura
Kaki candi asli – —– Karmawibhangga 160 pigura
Tingkat I – dinding a. Lalitawistara 120 pigura
——- – —– b. jataka/awadana 120 pigura
——- – langkan a. jataka/awadana 372 pigura
——- – —– b. jataka/awadana 128 pigura
Tingkat II – dinding Gandawyuha 128 pigura
——– – langkan jataka/awadana 100 pigura
Tingkat III – dinding Gandawyuha 88 pigura
——– – langkan Gandawyuha 88 pigura
Tingkat IV – dinding Gandawyuha 84 pigura
——– – langkan Gandawyuha 72 pigura
——– Jumlah ——– 1460 pigura

Relief pada candi Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda. Isi ceritanya bermacam-macam, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana, ada pula relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).

Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :

Karmawibhangga

Bagian kaki candi yang terlihat sekarang ini, sebenarnya bukanlah sebagaimana bangunan aslinya. Sebagian besar dasar candi tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat kontruksi candi atau alasan tehnis lainnya. Hanya sebagian kecil dibuka sehingga orang dapat melihat relief bagian ini.

Relief Karmawibhanga yang terdapat pada bagian Kamadhatu, danberjumlah 160 buah pigura, yang secara jelas menggambarkan tentang hawa nafsu dan kenikmatan serta akibat perbuatan dosa dan juga hukuman yang di terima, tetapi ada juga perbuatan baik serta pahalanya. Jadi, sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batu yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma.

Deretan relief tersebut bukanlah merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, seperti yang tergambar mengenai mulut-mulut yang usil, orang yang suka mabuk-mabukan, dan perbuatan-perbuatan lain yang mengakibatkan suatu dosa, tetapi juga perbuatan baik manusia beserta dengan pahala yang diterimanya, seperti yang tergambar dalam mengenai orang yang suka menolong, ziarah ke tempat suci, bermurah hati kepada sesama, dan lain-lain, yang mengakibatkan orang mendapat ketentraman hidup dan pahala. Secara keseluruhan relief

Karmawibhanga, merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir – hidup – mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.

Lalitawistara

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa, dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur.

Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti “hukum”, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Permainan Angka Pada Candi Borobudur

Drs. Moehkardi mengemukakan adanya permainan angka dalam Candi Borobudur yang amat mengagumkan, sebagai berikut : Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8. Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm.

Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m. Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha. Perhatikan bukti-buktinya dibawah ini : Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada arca-arcanya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah arca-arca di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.

Sang Adhi Buddha dalam agama Buddha Mahaya tidak saja dianggap sebagai Buddha tertinggi, tetapi juga dianggap sebagai Asal dari segala Asal, dan juga asal dari keenam Dhyani Buddha, karenanya ia disebut sebagai “Yang Maha Esa”. Demikianlah keindahan Borobudur sebagai yang terlihat dan yang terasakan, mengandung filsafat tinggi seperti yang tersimpan dalam sanubari bangsa Timur, khususnya bangsa kita.

Tahapan pembangunan Borobudur

Tahap pertama

Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya akan dirancang sebagai piramida berundak, tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

Tahap kedua

Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

Tahap ketiga

Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

Tahap keempat

Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief, perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

Penemuan Kembali Candi Borobudur

Candi Borobudur menjulang tinggi di antara dataran rendah di sekelilingnya. Rasanya sungguh tidak akan pernah masuk di akal, jika melihat karya seni yang sedemikian menakjubkan, dapat dibangun pada masa itu. Tetapi, tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi Borobudur yang pernah mengalami kerusakan yang sedemikain hebat itu, dapat hilang dari ingatan dan perhatian orang. Tetapi memang demikianlah keadaannya. Candi Borobudur pernah terlupakan selama berabad-abad. Bangunan yang begitu megahnya, di hadapkan pada proses kehancuran.

Candi Borobudur yang sedemikian megahnya itu, digunakan sebagai pusat ziarah, hanya selama 150 tahun. Sungguh waktu yang relatif singkat bila di bandingkan dengan lamanya para pekerja menghiasi / membangun bukit alam Candi Borobudur dengan batu-batu. Memang semenjak berakhirnya kerajaan Mataram tahun 930 M, pusat kehidupan dan kebudayaan Jawa bergeser ke timur.

Demikianlah, karena terbengkalai, tak terurus, maka lama-lama di sana-sini tumbuh macam-macam tumbuhan liar, yang lama kelamaan menjadi rimbun dan menutupi bangunan Candi Borobudur. Candi Borobudur terbengkalai dan terlupakan, kurang lebih selama 10 abad.

Penyelamatan dan Pemugaran Candi Borobudur

  1. Penyelamatan

Sebelum dipugar, Candi Borobudur hanya berupa reruntuhan seperti halnya artefak-artefak candi yang baru ditemukan. Pada tahun 1814, Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah Inggris pada tahun 1811 M – 1816 M, mendapat berita dari bawahannya tentang adanya bukit yang dipenuhi dengan batu-batu berukir. Berdasarkan berita itu, Raffles mengutus Cornelius, seorang pengagum seni dan sejarah, untuk membersihkan bukit itu. Setelah dibersihkan selama dua bulan dengan bantuan 200 orang penduduk, bentuk bangunan candi menjadi semakin jelas dan pemugaran dilanjutkan pada 1825.

Pada 1834 Residen Kedu bernama Hartman yang baru dua tahun menduduki jabatan mengusahakan pembersihan seluruh bangunan candi Borobudur dari segala sesuatu yang menutupi dan mengahalangi pemandangan. Puing-puing yang menutupi candi, disingkirkan. Tanah-tanah yang menutupi lorong-lorong candi juga disingkirkan, sehingga bangunan candi tampak semakin baik.

Stupa yang ternyata puncak candi diketahui sudah menganga, sejak ditangani Cornelius 20 tahun sebelumnya.. Selama kurun waktu 20 tahun itu tidak ada yang bertanggung jawab terhadap kawasan penemuan. Pada tahun 1842 Hartman melakukan penelitian pada stupa induk.

Dalam budaya agama Buddha, stupa didirikan untuk menyimpan relik Buddha atau relik para siswa Buddha yang telah mencapai kesucian. Dalam bahasa agama, relik disebut saririka dhatu, diambil dari sisa jasmani yang berupa kristal selesai dilaksanakan kremasi. Bila belum mencapai kesucian, sisa jasmani tidak berbentuk kristal dan tidak diambil. Bila berupa kristal akan diambil dan ditempatkan di dalam stupa. Diyakini bahwa relik ini mempunyai getaran suci yang mengarahkan pada perbuatan baik.

Pada setiap upacara Waisak, relik ini juga dibawa dalam prosesi dari Mendut ke Borobudur untuk ditempatkan pada altar utama di Pelataran Barat. Relik yang seharusnya berada di dalam stupa induk Borobudur hingga kini tidak diketahui siapa yang mengambil dan di mana disimpan.

Demikianlah, Borobudur yang ditemukan pada tahun 1814 mulai ditangani di bawah perintah Hartman antara lain dengan mendatangkan fotografer, pada tahun 1845 bernama Schaefer, namun hasilnya tidak memuaskan. Itulah sebabnya pada tahun 1849 diambil keputusan untuk menggambar saja bangunan Borobudur. Tugas mana dipercayakan pada FC Wilsen yang berhasilkan menyelesaikan 476 gambar dalam waktu 4 tahun.

Ada seorang lagi yang ditugaskan untuk membuat uraian tentang Borobudur yang masih berupa duga-duga, yaitu Brumund. Hasil Wilson maupun Brumund diserahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda kepada Leemans pada 1853 yang baru berhasil menyelesaikannya pada 1873 .

Selama penggarapan gambar yang duga-duga itu, oleh Hartman Borobudur dijadikan tempat rekreasi. Pada puncaknya didirikan bangunan untuk melihat keindahan alam sambil minum teh. Pembersihan batu-batuan terus berlangsung, ditempel-tempel asal jadi menurut dugaan asal-asalan saja. Anugerah untuk Raja Borobudur dibersihkan dari hari ke hari, hingga makin menarik. Sungguh fantastis bagi para penguasa Belanda menikmati pemandangan indah di atas bangunan kuno yang sedemikian besar.

Pada tahun 1896, Raja Thai, Chulalongkorn datang ke Hindia Belanda. Sebagai penganut agama Buddha tentu tidak akan melewatkan untuk menyaksikan bangunan stupa yang didengung-dengungkan oleh para pejabat pemerintah kolonial. Entah bagaimana ceriteranya, Pemerintah Belanda menawarkan Raja untuk membawa bagian dari batu-batuan Borobudur. Menurut catatan tidak kurang dari 8 gerobak melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Diantara yang diangkut ke Negara Gajah Putih tersebut ada 30 lempeng relief dinding candi, 5 buah arca Buddha, 2 arca singa dan 1 pancuran makara. Bilamana kita berada di istana

Raja Bhumibol Adulyagej kita dapat saksikan batu-batuan Borobudur yang terawat baik hingga kini.

Sebagai negara yang sebagian besar menganut Buddha, rakyat menyampaikan hormat dihadapan arca Buddha asal Borobudur sebagai lambang kebesaran Gurunya. Jadi, jauh sebelum batu-batuan Borobudur ditempatkan sebagaimana mestinya, bagian dari batu-batuan yang berada dalam istana dynasti Cakri telah diperlakukan dengan baik, karena keluarga raja di sana mengerti simbol-simbol yang terkandung dalam bagian kecil peninggalan agama yang dianutnya.

Pemugaran Pada tahun 1882 ada usul untuk membongkar seluruh batu-batuan Borobudur untuk ditempatkan dalam suatu museum. Usul ini tidak disetujui, bahkan mendorong usaha untuk membangun kembali reruntuhan hingga berbentuk candi. Dorongan lain untuk lebih membuka tabir misteri dalah diketemukannya satu lantai lagi dibawah lantai pertama candi oleh Vzerman pada 1885.

  1. Pemugaran

Semenjak Candi Borobudur di temukan, mulailah usaha perbaikan dan pemugaran kembali, bangunan Candi Borobudur. Pada awalnya, perbaikan dan pemugaran hanya dilakukan secara kecil-kecilan dan dilakukan pembuatan gambar-gambar serta foto-foto reliafnya.

Pada tahun 1900 dibentuklah Panitia Khusus perencanaan pemugaran Candi Borobudur. Setelah bekerja dua tahun, maka Panitia menyimpulkan bahwa tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pemugaran yaitu:

Pertama : segera diusahakan penaggulangan bahaya runtuh yang sudah mendesak dengan cara memperkokoh sudut-sudut bangunan, menegakkan kembali dinding-dinding yang miring pada tingkat pertama, memperbaiki gapura-gapura, relung serta stupa, termasuk stupa induk.

Kedua : menjaga keadaan yang sudah diperbaiki dengan cara mengadakan pengawasan yang ketat dan tepat, menyempurnakan saluran air dengan jalan memperbaiki lantai-lantai serta lorong-lorong.

Ketiga : menampilkan candi dalam keadaan bersih dan utuh dengan jalan menyingkirkan semua batu-batuan yang lepas untuk dipasang kembali serta menyingkirkan semua bangunan tambahan.

Pada tahun 1905 keluarlah Keputusan Pemerintah Kerajaan Belanda yang menyetujui usul Panitia dengan penyediaan dana sebesar 48.800 gulden dan menunjuk Ir. Theodorus van Erp utnuk memimpin pemugaran tersebut. Pada bulan Agustus 1907, untuk pertama kalinya, dimulailah pemugaran candi Borobudur secara sungguh-sungguh, dibawah pimpinan Theodorur van Erp.Pemugaran ini dimaksudkan untuk menghindari kerusakan-kerusakan yang lebih besar lagi. Van Erp-lah yang membangun kembali susunan bentuk candi dari reruntuhan karena dimakan zaman sampai kepada bentuk sekarang.

Walaupun banyak bagian tembok atau dinding-dinding bangunan Candi Borobudur, terutama tingkat tiga dari bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut, yang masih tampak miring dan sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjung maupun bangunannya sendiri secara keseluruhan, namun melalui pekerjaan Van Erp tersebut, untuk sementara Candi Borobudur dapat diselamatkan dari kerusakan yang lebih besar. Pemugaran berhasil diselesaikan pada tahun 1911. Sejak saat itu, candi Borobudur dapat dinikmati keindahannya secara utuh.

Van Erp sebetulnya seorang ahli teknik bangunan Genie Militer dengan pangkat letnan satu, tetapi kemudian tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk-beluk Candi Borobudur, mulai dari falsafahnya sampai kepada ajaran-ajaran yang dikandungnya. Untuk itu dia mencoba melakukan studi banding selama beberapa tahun di India. Ia juga pergi ke Sri Langka untuk melihat susunan bangunan puncak stupa Sanchi di Kandy, sampai akhirnya van Erp menemukan bentuk Candi Borobudur. Sedangkan mengenai landasan falsafah dan agamanya ditemukan oleh Stutterheim dan NJ. Krom, yakni tentang ajaran Buddha Dharma dengan aliran Mahayana-Yogacara dan ada kecenderungan pula bercampur dengan aliran Tantrayana-Vajrayana.

Penelitian terhadap susunan bangunan candi dan falsafah yang dibawanya, tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan bangunan-bangunan candi lainnya yang masih satu rumpun. Seperti halnya antara Candi Borobudur dengan Candi Pawon dan Candi Mendut yang secara geografis berada pada satu jalur.

Mengenai gapura-gapura, hanya beberapa saja yang telah dikerjakan di masa itu, untuk mencoba mengembalikan kejayaan masa silam. Namun juga perlu disadari bahwa tahun-tahun yang dilalui Borobudur selama tersembunyi di semak-semak, sebenarnya secara tidak langsung telah menutupi dan melindungi candi Borobudur dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan candi ini. Van Erp berpendapat bahwa, miring dan meleseknya dinding-dinding dari bangunan itu, tidaklah sangat membahayakan bangunan itu. Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang tidak salah. Akan tetapi sejak tahun 1960 M, pendapat Theodorus Van Erf itu mulai di ragukan, dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang lebih parah

Setelah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1948 Pemerintah RI yang masih dalam penataan negara, memperhatikan kerusakan Borobudur yang sudah diketahui sejak 1929 dengan mendatangkan dua orang ahli purbakala dari India. Sayang usaha ini tidak ada kelanjutannya.

Pada tahun 1955 pemerintah RI mengajukan permintaan bantuan kepada Unesco untuk menyelamatkan berbagai candi di Jawa, tidak terkecuali Borobudur . Usaha lebih mantap baru dimulai pada tahun 1960 yang terhenti karena pemberontakan G.30.S/PKI ketika bangsa dan negara mengkonsentrasikan diri menyelematkan masa depan yang hampir saja dikoyak komunis.

Pemugaran candi secara serius baru terlaksana pada masa Orde Baru, melalui SK Presiden RI No.217 tahun 1968. Pada konferensi ke 15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberikan bantuan guna menyelamatkan candi Borobudur. Pada 4 Juli 1968 dibentuk Panitia Nasional yang bertugas mengumpulkan dana dan melaksanakan pemugaran. Tahun berikutnya Presiden membubarkan Panitia tersebut dan membebankan tugas pemugaran kepada Menteri Perhubungan.

Pemugaran dan perbaikan Candi Borobudur berikutnya, dimulai tanggal 10 Agustus 1973 dan selesai pada tanggal 23 Februari 1983. Prasasti dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur. Tidak kurang dari 600 orang pekerja, diantaranya ada tenaga-tenaga muda lulusan SMA dan STM bangunan, yang memang sengaja diberikan pendidikan khusus mengenai teori dan praktek dalam bidang Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA ).

Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan memasang batu-batu Candi Borobudur, sedangkan Chemika Arkeologi bertugas membersihkan serta memperbaiki batu-batu yang sudah retak dan pecah. Pekerjaan-pekerjan di atas bersifat arkeologi semua, di tangani oleh badan pemugaran Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi pengadaaan bahan-bahan bangunan, di tangani oleh kontraktor ( P.T. Nidya Karya dan The Construction & Development Corporation of The Philipine).

Bagian-bagian Candi Borobudur yang di pugar ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur sangkar. Kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk, ikut di pugar dan pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah pimpinan Dr. Soekmono, dengan di tandai sebuah batu prasasti seberat lebih dari 20 Ton.

Prasasti peresmian selesainya pemugaran terletak di halaman barat, dan berbentuk batu yang sangat besar, seberat 20  ton dan di buat dengan satu bagian menghadap ke utara satu bagian lagi menghadap ke timur. Penulisan dalam prasasti tersebut di tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta, yang bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur. Usaha penyelamatan ini adalah yang paling mantap dalam sejarah perawatan Borobudur.

Ikhtisar waktu proses pemugaran Candi Borobudur

  • 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
  • 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan. Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi.
  • 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
  • 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
  • 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
  • 1956 – pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
  • 1963 – pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
  • 1968 – pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
  • 1971 – pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
  • 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
  • 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
  • 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh kelompok Islam ekstrem yang dipimpin Habib Husein Ali Alhabsyi
  • 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Budaya oleh UNESCO

Misteri seputar Candi Borobudur

Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan?.

Gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmiah, terutama tentang ruang yang ditemukan pada stupa induk candi dan arca Budha, di pusat atau zenith candi dalam stupa terbesar, diduga dulu ada sebuah arca penggambaran Adibuddha yang tidak sempurna yang hingga kini masih menjadi misteri.


Sumber: https://merkterbaru.id/

Mengenal Tentang Danau

Mengenal Tentang Danau

Mengenal Tentang Danau
Mengenal Tentang Danau
Perairan tergenang diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yaitu badan air tergenang (standing waters atau lentik) dan badan air mengalir (flowing waters atau lotik).
Perairan tergenang meliputi danau, kolam, waduk (reservior), rawa (wetland), dan sebagainya (Effendi, 2003). Perairan pedalaman (inland water) diistilahkan untuk semua badan air (water body) yang ada di daratan. Air pada perairan pedalaman pada umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin. Dalam ilmu perairan (hidrologi) dikenal adanya dua macam perairan pedalaman yaitu perairan mengalir (lotik water) dan perairan tergenang (lentik water).

Danau merupakan

salah satu contoh perairan terganang selain rawa, situ, waduk, telaga, embung dan lainnya (Bratadiredja, 2010).

Menurut Mulyawan (2013), danau memiliki perbedaan ukuran dan kedalaman, tergantung pada cara terbentuknya, seperti di bawah ini :

1. Danau yang disebabkan oleh pengikisan

  • Danau gletser, terbentuk bila gletser dan lembaran es mengeruk permukaan bumi dan membentuk ceruk. Kemudian ceruk ini terisi air dan membentuk danau.
  • Danau lekukan gurun, terbentuk didaerah kering tempat angin menghasilkan lekukan. Bila dasar lekuk tersebut mencapai muka air tanah, maka terbentuklah sebuah danau.

2. Danau yang disebabkan oleh kegiatan vulkanik

  • Danau kaldera, terbentuk bila didalam kaldera atau bagian tengah gunung berapi yang runtuh terkumpul air. Danau ini umumnya bulat dan dalam. Danau Toba di Sumatera adalah suatu danau kaldera.
  • Danau kawah, terbentuk bila dalam kawah, atau lubang bulat mirip corong dipuncak gunung berapi terkumpul air. Contohnya ialah danau kawah Oregon (Amerika Serikat)
  • Danau bendungan lava, terbentuk bila aliran lava gunung berapi menyumbat lembah sungai dan menyebabkan terbentuknya danau. Contohnya adalah laut Galilea di Timur Tengah.

3. Danau yang dihasilkan oleh gerakan bumi 

a. Danau sesar, terjadi jika pergeseran di kerak bumi, maka terbentuklah lekukan atau lembah retak yang kemudian dapat menjadi danau. Contohnya ialah Danau Malawi di Lembah Retakan Afrika Timur.

4. Danau yang dihasilkan oleh sungai dan laut 

  • Danau tapal kuda, dihasilkan bila sungai yang berkelok-kelok melintasi daratan mengambil jalan pintas dan meninggalkan potongan-potongan yang akhirnya membentuk danau tepal kuda.
  • Danau delta, terbentuk di sepanjang pantai yang arus pantainya mengendapkan pasir dan membentuk gosong pasir. Akhirnya, gosong pasir itu sama sekali memisahkan sebagian kecil laut, dan dengan demikian membentuk laguna. Delta-delta terbesar di dunia mempunyai danau delta atau laguna.

Sumber: https://appbrain.co.id/

Manusia dan Keadilan

Manusia dan Keadilan

Manusia dan Keadilan
Manusia dan Keadilan

MANUSIA

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

Penggolongan manusia yang paling utama adalah

berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alaMANUSIAmiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.

 

Hakekat manusia adalah sebagai berikut :

a. Makhluk yang memiliki tenga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
c. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
d. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
e. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
f. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
g. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
h. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Manusia adalah

mahluk yang luar biasa kompleks. Kita merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.

Baca Juga :

PERAWATAN TEMPAT RUMPUT LAUT

PERAWATAN TEMPAT RUMPUT LAUT

Perawatan Tempat Rumput Laut sebagai berikut:
  • Pada saat pengangkutan bibit tetap terendam didalam air laut dengan menggunakan kotak styrofoam atau karton berlapis plastik.lalu Bibit disusun berlapis dan berselang-seling antara pangkal tallus dan ujung tallus dan antara lapisan dibatasi dengan kain yang sudah dibasahi air laut.
  • Hindari bibit agar tidak terkena minyak, kehujanan maupun kekeringan.
  • selanjutnya Bibit diikat dengan tali raffia pada tali penggantung.
  • Penanaman bisa langsung dikerjakan dengan cara merentangkan tali Ris yang telah berisi ikatan tanaman. Pada tali Ris utama, posisi tanaman sekitar 30 cm didasar perairan.
  • Patok dari kayu berdiameter sekitar 5 cm panjang 1 m dan runcing pada ujung bawahnya. Jarak antara patok untuk merentangkan tali Ris sekitar 2,5 m.
  • Setiap patok yang berjajar dihubungkan dengan tali Ris Polyethylen (PE) berdiameter 8 mm. Adapun jarak ideal antara tali rentang sekitar 20 – 25 cm.

 

PERAWATAN DAN PEMELIHARAAN:

Perawatan dan Pemeliharaan rumput laut adalah sebagai berikut:
  • Bersihkan tallus dari tumbuhan liar dan lumpur yang menempel, sehingga tidak menghalangi tanaman dari sinar matahari.
  • Bersihkan tali penggantung dari sampah atau tumbuhan liar.
  • Periksa keutuhan tali gantungan, perbaiki jika ada yang putus atau kencangkan jika tali agak kendor atau ganti dengan tali yang baru.
  • Periksa tanaman dari gangguan penyakit.
  • Hama lain rumput lain yang harus diwaspadai antara lain larva bulu babi, teripang, ikan-ikan herbivora seperti baronang.

 

PEMANENAN DAN PENGERINGAN:
Pemanenan dan Pengeringan rumput laut sebagai berikut:
  • Waktu pemanenan tergantung dari tujuannya. Untuk mendapatkan bibit, pemanenan dilakukan pada umur 25 – 35 hari, dan untuk produksi dengan kualitas tinggi yang kandungan keraginannya banyak, panen dilakukan pada umur 45 hari.
  • Pemanenan dilakukan dengan mengangkat seluruh tanaman beserta tali penggantungnya. Pelepasan tanaman dari tali dilakukan di darat dengan cara memotong tali.
  • Setelah panen dilakukan, segera dikeringkan langsung dengan menjemur.
  • Rumput laut dijemur dengan menggantungkan atau diletakkan pada para-para sehingga tidak tercampur pasir, tanah dan benda lainnya.
  • Sambil penjemuran dilakukan pembersihan dari kotoran dengan mengambil benda-benda asing seperti batu, sampah dan lainnya.
  • Jika cuaca cerah, penjemuran cukup 3 – 4 hari yang ditandai dengan warna ungu keputihan dilapisi kristal garam.

 

Seperti itulah informasi Cara Budidaya Rumput Laut Yang Berkualitas yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat menginspirasi anda. Dan jangan lupa kunjungi juga Cara Budidaya Ikan Nila Hasil Berkualitas sebagai tambahan referensi untuk anda. Terima Kasih

Cara Budidaya Rumput Laut Yang Berkualitas

Cara Budidaya Rumput Laut Yang Berkualitas

Cara Budidaya Rumput Laut Yang Berkualitas – Metode budidaya rumput laut di lautan ada 3 cara yaitu lepas dasar, rakit apung dan metode long line. Industri rumput laut yang semakin dicari pengelola produk rumput laut, menjadi nilai ekonomis rumput laut, cukup mengiurkan. Rumput laut seperti Ucheuma cottoni merupakan salah satu jenis rumput laut merah dan berubah nama menjadi Kappaphycus alvarezii karena keraginan yang dihasilkan termasuk fraksi kappa-karaginan. Umumnya Eucheuma tumbuh dengan baik di daerah pantai terumbu. Habitat khasnya adalah daerah yang memperoleh aliran air laut yang tetap, variasi suhu harian yang kecil dan substrat batu karang mati.
Rumput laut Eucheuma mempunyai peranan penting dalam dunia perdagangan internasional sebagai penghasil ekstrak keraginan, sehingga memiliki nilai ekspor yang sangat baik. Kadar keraginan dalam setiap spesies Eucheuma berkisar antara 54 – 73 % tergantung pada jenis dan lokasi tempat tumbuhnya.

PERSYARATAN BUDIDAYA:

Lingkungan yang cocok untuk budidaya Eucheuma adalah :
Substrat stabil, terlindung dari ombak yang kuat dan umumnya di daerah terumbu karang. Kedalaman air pada surut terendah 1 – 30 cm. Perairan dilalui arus tetap dari laut lepas sepanjang pantai. Kecepatan arus antara 20 – 40 m/menit.Jauh dari muara sungai, tidak mengandung lumpur dan airnya jernih.Suhu air berkisar 27 – 28oC, salinitas berkisar 30 – 37 ppt dan pH 6,5 – 8,5.
METODE BUDIDAYA:
Beberapa metode budidaya rumput laut jenis ini adalah sebagai berikut:
Metode Lepas Dasar digunakan pada dasar perairan berpasir atau berlumpur pasir, sehingga memudahkan menancapkan patok/tiang pancang.
Metode Rakit Apung dilakukan pada perairan berkarang, karena pergerakan air didominasi ombak, sehingga penanamannya dengan menggunakan rakit bambu/kayu.
Metode Long Line menggunakan tali panjang 50 – 100 m yang dibentangkan, dan pada kedua ujungnya diberi jangkar serta pelampung besar. Setiap 25 m diberi pelampung utama terbuat dari drum plastik.
Proses Pengikatan dan Peletakkan Rumput Laut:
Pilih bibit rumput laut yang baik dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  • Bercabang banyak dan rimbun
  • Tidak terdapat bercak
  • Tidak terkelupas
  • Warna cerah
  • Umur 25 – 35 hari
  • Sebaiknya dikumpulkan dari perairan pantai sekitar lokasi dan jumlahnya sesuai dengan kebutuhan.

Sumber: https://newsinfilm.com/

Pembersihan Jaring Apung Budidaya Kakap Putih:

  • Penempelan organisme sangat menggangu pertukaran air dan menyebabkan kurungan bertambah berat. Pembersihan kotoran dilakukan secara periodik paing sedikit 1 bulan sekali dilakukan secara berkala atau bisa juga tergantung kepada banyak sedikitnya organisme yang menempel.
  • Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan algae tersebut.
  • Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi.

c. Pengontrolan Ikan Budidaya Kakap Putih:

  • Selain pengelolaan terhadap sarana /jaring, pengelolaan terhadap ikan peliharaan juga termasuk kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan.
  • Setiap hari dilakukan pengontrolan terhadap ikan peliharaan secara berkala, guna untuk menghindari sifat kanibalisme atau kerusakan fisik pada ikan.
  • Disamping itu juga untuk menghindari terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan.
  • Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan, perlu dihindari jangan sampai terjadi stress.
5. PANEN
  • Lama pemeliharan mulai dari awal penebaran sampai mencapai ukuran ± 500 gram/ekor diperlukan waktu 5-6 bulan.
  • Dengan tingkat kelulusan hidup/survival rate sebesar 90% akan didapat produksi sebesar 2.250 kg/unit/periode budidaya.
  • Pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat jaring keluar rakit, kemudian dilakukan penyerokan.
6. PENYAKIT
Ikan kakap putih ini termasuk diantara jenis-jenis ikan teleostei. Ikan jenis ini sering kali diserang virus, bakteri dan jamur.
Gejala-gejala ikan yang terserang penyakit antara lain adalah, kurang nafsu makan, kelainan tingkah laku, kelainan bentuk tubuh dll. Tindakan yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi penyakit ini adalah:
  • Menghentikan pemberian pakan terhadap ikan dan menggantinya dengan jenis yang lain
  • Memisahkan ikan yang terserang penyakit, serta mengurangi kepadatan
  • Memberikan obat sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.
Begitulah informasi yang dapat kami sampaikan mengenai Cara Pemijahan Budidaya Ikan Kakap Putih Di Jaring Apung semoga dapat menambah wawasan anda. Dan jangan lupa kunjungi juga Cara Budidaya Rumput Laut Yang Berkualitas untuk anda. Terima Kasih dan sukses selalu.

Perkembangan Ekologi Administrasi Negara di Indonesia

Perkembangan Ekologi Administrasi Negara di Indonesia

Pada tahun lima puluhan (1950-an) sekelompok ilmuwan politik dan administrasi negara menyadari bahwa memindahkan begitu saja sistem dan lembaga-lembaga atau pranata politik dan administrasi negara dari suatu lingkungan masyarakat, bangsa dan negara tertentu ke lingkungan masyarakat, bangsa dan negara yang lain tidaklah tepat.

Ilmu sosiologi, antropologi, ekonomi dan lain-lain memperkuat pandangan tersebut bahwa apa yang baik dalam lingkungan masyarakat, bangsa dan negara tertentu belum tentu baik pula bagi masyarakat, bangsa dan negara lain.

Dalam rangka penyempurnaan sistem dan pranata administrasi negara dari negara berkembang perlu didukung oleh suatu pengkajian perbandingan.Dalam perbandingan ini digunakan pendekatan secara ekologi (ecological approach).

Prof. Fred W. Riggs adalah pendorong utama perkembangan Ekologi Admnistrasi Negara yang pada tahun lima puluhan telah memberikan ceramah-ceramah yang kemudian dibukukan dengan judul “The Ecology Of Public Administration”.