Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University

Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University

Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University

Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University
Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University

Bonobo merupakan salah satu primata besar yang berkerabat dekat dengan simpanse. Primata ini menjadi menarik untuk diteliti karena dapat digunakan untuk mempelajari aspek kehidupan makhluk hidup lainnya, salah satunya adalah tentang terjadinya penuaan atau aging suatu spesies.

Pemaparan tentang Bonobo disampaikan oleh Heungjin Ryu, PhD dari Primate Research Institute, Kyoto University, Jepang saat memberikan kuliah tamu di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), IPB University, di Kampus Dramaga, Bogor (16/08).

“Kita sering mendengar pendapat tentang satu tahun hidup anjing adalah sepuluh tahun hidup manusia. Jika itu benar, pendapat tersebut tidak dapat diterapkan pada Bonobo yang dalam kehidupan liarnya bisa hidup hingga lima puluh tahun,” tutur Heungjin dalam presentasinya. Ia juga menjelaskan melalui perbandingan terjadinya penuaan pada organ mata Bonobo dengan organ mata manusia, pendapat tersebut tidak benar. Dua tahun hidup manusia tidak sebanding dengan satu tahun hidup Bonobo.

Menurut Heungjin, jarak antara tangan ke mata Bonobo berubah seiring

bertambahnya usia. Heungjin pun menunjukkan gambar saat menunjukkan gambar dua ekor Bonobo berumur dua puluh tujuh tahun dan empat puluh lima tahun yang sedang mencari kutu dengan jarak tangan ke mata terpanjang dimiliki oleh Bonobo berumur empat puluh lima tahun.

Lebih lanjut Heungjin menjelaskan bahwa penglihatan jauh manusia berkembang pesat saat manusia mencapai usia empat puluh tahun. Rata-rata manusia pada usia empat puluh lima tahun membutuhkan sekitar dua puluh centimeter untuk mendapatkan fokus yang jelas pada suatu objek (jarak fokus terdekat). Pada saat manusia mencapai usia lima puluh tahun, jarak fokus terdekat menjadi empat puluh centimeter.

“Studi saya menemukan bahwa perubahan tergantung pada usia dalam jarak

fokus terdekat. Baik Bonobo maupun manusia tidak memiliki perbedaan dalam hal tersebut, sehingga data ini belum bisa memberikan perbedaan umur panjang antara kedua spesies ini,” tangkas Heungjin dalam pemaparannya.

Lebih lanjut Heungjin menjelaskan meskipun digunakan lebih banyak data tentang penuaan di bagian organ tubuh yang lain, tidak ada banyak perbedaan dalam penuaan bagian organ tubuh lainnya. Sebagai contoh, simpanse betina di alam liar biasanya berhenti bereproduksi pada umur lima puluh tahun yang hampir sama dengan manusia perempuan.

Pada akhir presentasi Heungjin memberikan kesimpulan bahwa mempelajari

primata dapat membantu untuk memahami manusia dengan lebih baik. Contohnya evolusi sistem penuaan dan sistem kawin makhluk hidup. Kecepatan penuaan dari berbagai spesies mencerminkan sistem perkawinan mereka yang merupakan salah satu bentuk adaptasi makhluk hidup terhadap seleksi alam.

“Saat ini primata liar sangat terancam dan kita perlu lebih banyak upaya pelestarian dan konservasi agar manfaatnya dapat terus dirasakan,” tutup Heungjin kepada peserta guest lecturer yang berasal dari kalangan dosen dan mahasiswa sarjana serta pascasarjana IPB University.

 

Sumber :

https://www.kaskus.co.id/thread/5d6d8687337f93427b5fb01e/