Ekspresionisme

Table of Contents

Ekspresionisme

Ekspresionisme adalah seni menyatakan ekspresionisme dalam bentuk drama yang lahir sesudah masa peperangan dunia I, banyak mendapat pengaruh realisme, bersifat ekstrem atau lebih menantang, mementaskan khaos dengan kekosongan, hanya sedikit naskah yang tinggal, sangat berkembang dinegara-negara yang mengalami kehebatan perang dan revolusi seperti jerman dan rusia.

Ciri-cirinya

Ø  Pergantian adegan cepat

Ø  Pengunaan pentas yang ekstrim.

Ø  Fragmen-fragmen yang filis ( meniru gaya dan cara film) misalnya layar diproyeksikan seperti filem.

Pelopornya adalah

Ø  Vincent Van Gogh, Paul Klee, Emile Nolde, W . Kandinsky, dan Edvard Munch

  1. Realis

Realisme pada umumnya adalah aliran seni yang berusaha untuk mencapai kenyataan dengan ilusi, tentu saja pengambaran kenyataan dalam sebuah seni belum pasti sama dengan yang nyata, kejadian yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun namun digambarkan beberapa jam saja, harus berfantasi dan memilih isi-isi pokok-pokok yang penting, melalui karya seorang yang aliran realis mencapai pokok-pokok pada suatu kenyataan yang terjadi meski tidak terlihat seperti kenyataan, drama realis tidak hanya memberikan hiburan-hiburan melulu, tetapi membebaskan problem-problem suatu masa.

Realisme terbagi atas dua macam seperti:

  1. Realisme Sosial

Biasanya problem social dan phisikologis saling mempengaruhi dan jarang dipisahkan, namun dalam drama realistis masalah social dapat dipisahkan dari masalah phisikologis.

Ciri-cirinya:

1)      Peran utama biasanya rakyat jelata.

2)      aktingnya wajar seperti yang dilihat dalam hidup keseharian tidak patetis.

  1. Realisme Psikologis

Ciri-ciri aliran realisme psikologis yaitu:

1)      Pemain ditekankan pada peristiwa-peristiwa intern/unsur-unsur kejiwaan.

2)      Secara teknis segala perhatian di arahkan pada akting yang wajar dan tekanan intonasi yang tepat.

3)      Suasana digambarkan dengan mengunakan perlambang.

Tokoh :

Ø  Jean Francois, Millet dan Honore Daumier

 

Mandiri

Teater Mandiri didirikan di Jakarta pada 1971. Kata mandiri berasal dari bahasa Jawa, yang dipopulerkan oleh Professor Djojodigoena dalam kuliah sosiologi di Pagelaran, Yogyakarta, pada tahun 60-an. Artinya orang yang sanggup berdiri sendiri, namun juga bisa bekerjasama dengan orang lain. Kata itu nampak sangat dibutuhkan dalam pembangunan kepribadian/jatidiri bangsa,di era lepas dari penjajahan phisik namun masih digondel banyak hambatan secara mentalitas..

Mula-mula Teater Mandiri membuat pertunjukan untuk televisi (Orang-Orang Mandiri, Apa Boleh Buat, Tidak, Kasak-Kusuk, Aduh). Aduh dan Kasak-Kusuk walaupun sudah direkam tetapi tidak disiarkan karena situasi politik saat itu. Selanjutnya dengan lakon ADUH, pada 1974 Teater Mandiri mulai main di TIM. Sejak itu Teater Mandiri setiap tahun muncul di TIM dan Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Naskah yang pernah dipentaskan: Anu, Lho, Entah, Nol, Blong, Hum-Pim-Pah, Awas, Dor, Edan, Aum, Gerr, Los, Tai, Aib, Yel, Bor, Ngeh, Wah, War, Luka, Dar-Der-Dor, Zoom, Jangan Menangis Indonesia, Zetan, Zero, Cipoa) dll.

Semua naskah itu ditulis dan disutradarai oleh Putu Wijaya. Hanya satu kali teater Mandiri mmentaskan naskah lain, yakni The Coffin Is Too Big for The Hole karya Kuo Pao Kun (Singapura) untuk Festival Asia di Tokyo pada tahun 2000. Alasan Putu hanya memainkan naskahnya sendiri, adalah karena dia tidak hanya ingin menyutradarai pertunjukan tetapi juga menghasilkan naskah – sesuatu yang memang sedang diupayakan dalam kehidupan teater modern di Indonesia.

Naskah-naskah Teater Mandiri memang memiliki sesuatu yang khusus. Judulnya hanya satu kata. Karena dalam kata-kata seruan yang umumnya terdiri dari satu suku kata seperti wah, lho, dor dan sebagainya, tersimpan banyak rasa dan pengertian. Ambuitas kata-kata itu menimbulkan kelucuan, keanehann tetapi juga kedalaman bagi yang suka berpikir.

Tokoh-tokohnya rata-rata tidak bernama, bahkan tidak jelas latar belakangnya, sehingga hanya mirip seperti ide sana. Ini untuk mengantisipasi kemajemukan di In donesia yang meliputi banyak hal. Perbedaan bahasa, idiologi, agama, standar sosial, pendidikan dan sebagainya. Dengan membuat karakter seperti tokoh dongeng, lakon jadi netral, bisa diadaptasikan ke mana saja. Memang resikonya, lakon jadi tidak eksklusif.

Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/usaha-barbershop/