Ekstasis (Samadhi)

Ekstasis (Samadhi)

Ekstasis (Samadhi)

Ekstasis (Samadhi)

Pada bagian konsentrasi dan meditasi, sudah dijelaskan bahwa konsentrasi (dharana) mengarah pada meditasi (dhyana). Kemudian kita akan mleihat bahwa meditasi (dhyana) mengarah pada penyatuan (samadhi). Kondisi samadhi dapat tercapai jika semua modifikasi (vritti) dalam kesadaran bangun sudah dihentikan melalui latihan meditasi.  Karena itu, konsentrasi, meditasi dan penyatuan merupakan tiga fase dari satu proses yang berkesinambungan (samyama). Yoga Sutras memberikan (3.3) memberikan definisi samadhi sebagai:

“samadhi adalah kondisi meditasi yang sama, dimana hanya ada objek saja, seolah tidak ada bentuknya”.

Samadhi adalah suatu kondisi puncak yang dicapai melalui sebuah proses disiplin mental yang panjang dan sulit.

Etika Yoga

Secara umum, konsep etika dalam Yoga termasuk dalam latihan yama dan niyama, yaitu disiplin moral dan disiplin diri. Aturan-aturan yang ada dalam yama dan niyama, juga berfungsi sebagai kontrol sosial dalam mengatur moral manusia. Akan tetapi, dalam bukunya Tattwa Darsana, I Gede Rudia menjelaskan bahwa etika dalam yoga adalah sebagai berikut.

Dalam samadhi, seorang Yogi memasuki ketenangan tertinggi yang tidak tersentuh oleh suara-suara yang tak henti-hentinya, yang berasal dari luar dan pikiran kehilangan fungsinya, di mana indera-indera terserap ke dalam pikiran. Apabila semua perubahan pikiran terkendalikan, si pengamat atau Purusa, terhenti dalam dirinya sendiri dan di dalam Yoga-Sutra Patanjali disebut sebagai Svarupa Avasthanam (kedudukan dalam diri seseorang yang sesungguhnya).

Dalam filsafat Yoga, maka yoga berarti penghentian kegoncangan-kegoncangan pikiran. Ada lima keadaan pikiran itu. Keadaaan pikiran itu ditentukan oleh intensitas sattwa, rajas dan tamas. Kelima keadaaan pikiran itu adalah:

  1. Ksipta artinya tidak diam-diam

Dalam keadaan pikiran itu diombang-ambingkan oleh rajas dan tamas, dan ditarik-tarik oleh objek indriya dan sarana-sarana untuk mencapaInya, pikiran melompat-lompat dari satu objek ke objek yang lain tanpa terhenti pada satu objek.

  1. Mudha artinya lamban dan malas

Ini idsebabkan oleh pengaruh tamas yang menguasai alam pikiran. Akibatnya orang yang alam  pikirannya demikian cenderung bodoh, senang tidur dan sebagainya.

  1. Wiksipta artinya bingung, kacau.

Hal ini disebabkan oleh pengaruh rajas. Karena pengaruh ini , pikiran mempu mewujudkan semua objek dan mengarahkannya pada kebajikan, pengetahuan, dan sebagainya. Ini merupakan tahap  pemusatan pikiran pada suatu objek, namun sifatnya sementara, sebab akan disusul lagi oleh kekuatan pikiran.

  1. Ekarga artinya terpusat.

Di sini, Citta terhapus dari cemarnya rajas sehingga sattva lah yang menguasai pikiran. Ini merupakan awal pemusatan pikiran pada suatu objek yang memungkinkan ia mengetahui alamnya yang sejati sebagai persiapan untuk menghentikan perubahan-perubahan pikiran.

  1. Niruddha artinya terkendali

Dalam tahap ini, berhentilah semua kegiatan pikiran, hanya ketenanganlah yang ada.

Ekagra dan Niruddha merupakan persiapan dan bantuan untuk mencapai tujuan akhir, yaitu kelepasan. Ekagra bila dapat berlangsung terus menerus, maka disebut samprajna-yoga atau meditasi yang dalam, yang padanya ada perenungan kesadaran akan suatu objek yang terang.

Tingkatan Niruddha juga disebut asaniprajnata-yoga, karena semua perubahan dan kegoncangan pikiran terhenti, tiada satu pun diketahui oleh pikiran lagi. Dalam keadaan demikian, tidak ada riak-riak gelombang kecil sekali pun dalam permukaan alam pikiran atau citta itu. Inilah yang dinamakan orang samadhi yoga.

Ada empat macam samparjnana-yoga menurut jenis objek renungannya. Keempat jenis itu adalah:

  1. Sawitarka ialah apabila pikiran dipusatkan pada suatu objek benda kasar seperti arca dewa atau dewi.
  2. Sawicara ialah bila pikiran dipusatkan pada objek yang halus yang tidak nyata seperti tanmantra.
  3. Sananda, ialah bila pikiran dipusatkan pada suatu objek yang halus seperti rasa indriya.
  4. Sasmita, ialah bila pikiran dipusatkan pada asmita, yaitu anasir rasa aku yang biasanya roh menyamakan dirinya dengan ini.

Tuhan dalam Ajaran Yoga

Patanjali menerima eksistensi Tuhan (Isvara) dimana Tuhan menurutnya adalah The Perfect Supreme Being, bersifat abadi, meliputi segalanya, Maha Kuasa, Maha Tahu, dan Maha ada. Tuhan adalah purusa yang khusus yang tidak dipengaruhi oleh kebodohan, egoisme, nafsu, kebencian dan takut akan kematian. Ia bebas dari Karma, Karmaphala dan impresi-impresi yang bersifat laten.

Patanjali beranggapan bahwa individu-individu memiliki esensi yang sama dengan Tuhan, akan tetapi oleh karena ia dibatasi oleh sesuatu yang dihasilkan oleh keterikatan dan karma, maka ia berpisah dengan kesadarannya tentang Tuhan dan menjadi korban dari dunia material ini.

Tujuan dan aspirasi manusia bukanlah bersatu dengan Tuhan, tetapi pemisahan yang tegas antara Purusan dan Prakrti (SR, hal371). Hanya satu Tuhan. Menurut Vijnanabhisu:

“dari semua jenis kesadaran meditasi, bermeditasi kepada kepribadian Tuhan adalah meditasi yang tertinggi. (SR, 372) Ada bebagai obyek yang dijadikan sebagai pemusatan meditasi yaitu bermeditasi pada sesuatu yang ada di luar diri kita, bermeditasi kepada suatu tempat yang ada pada tubuh kita sendiri dan yang tertinggi adalah bermeditasi yang di pusatkan kepada Tuhan.

Kebodohan menyatakan bahwa ada dualisme dari satu realitas yang disebut Tuhan. Ketika kebodohan dihilangkan oleh pengetahuan maka dualisme hilang dan kesatuan penuh akan dicapai. Ketika seseorang mengatasi kebodohan maka dualisme hilang maka ia menyatu dengan The Perfect Single Being tetapi kesempurnaan The Single Being itu selalu ada dan tetap tersisa sebagai sesuatu yang sempurna dan satu. Tak ada perubahan dalam lautan, seberapa banyakpun sungai-sungai yang mengalirkan airnya dan bermuara padanya. Ketidak berubahan adalah keadaan dasar dari kesempurnaan.


Baca Juga :