formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.

formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.

formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.

formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.Apabila dilihat perkembangan vegetasinya yang ada di daerah pantai (littoral), maka sesungguhnya sering dijumpai dua formasi vegetasi (komunitas), yaitu formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.

1) Formasi Pescaprae

Formasi ini terdapat pada tumpukan-tumpukan pasir yang mengalami proses peninggian di sepanjang pantai dan hampir terdapat di seluruh pantai Indonesia. Komposisi dari spesies tumbuhan pada formasi pescaprae di mana saja hampir sama karena spesies tumbuhannya didominasi oleh Ipomoea pescaprae (kaki kambing) salah satu spesies tumbuhan menjalar, herba rendah yang akarnya dapat mengikat pasir.

2) Formasi Barringtonia
Formasi ini terdapat di atas formasi pescaprae yaitu terdapat di daerah pantai, persis di belakang formasi pescaprae yang telah memungkinkan untuk ditumbuhi berbagai spesies pohon khas hutan pantai. Disebut sebagai formasi Barringtonia karena spesies tumuhan yang dominan di daerah ini adalah spesies pohon Barringtonia asiatica. Pada umumnya yang dimaksud ekosistem hutan pantai ialah formasi Barringtonia ini.

Formasi hutan merupakan tipe atau bentuk susunan hutan yang terjadi akibat pengaruh faktor lingkungan yang dominan terhadap pembentukan dan perkembangan komunitas di dalam hutan.  Adanya pengelompokan formasi hutan didasari oleh paham tentang klimaks, yaitu komunitas akhir yang terjadi selama proses suksesi.  Paham klimaks berkaitan dengan adaptasi tumbuhan secara keseluruhan mencakup segi fisiologis, morfologis, syarat pertumbuhan, dan bentuk tumbuhnya, sehingga kondisi ekstrem dari pengaruh iklim dan tanah akan menyebabkan efek adaptasi pohon serta tetumbuhan lainnya menjadi nyata (Arief, 1994).  Hal tersebut akan berpengaruh terhadap bentuk susunan ekosistem hutan (formasi hutan).

Berdasarkan atas faktor lingkungan yang memiliki pengaruh dominan terhadap bentuk susunan komunitas atau ekosistem hutan, maka ekosistem hutan dikelompokkan ke dalam dua formasi, yaitu formasi klimatis dan formasi edafis (Santoso, 1996; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976).

1) Formasi Klimatis
Formasi klimatis adalah formasi hutan yang dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim, misalnya temperatur, kelembapan udara, intensitas cahaya, dan angin. Ekosistem hutan yang termasuk ke dalam formasi klimatis, yaitu hutan hujan tropis, hutan musim, dan hutan gambut (Santoso, 1996; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976).

Menurut Davy (1938) dalam Arief (1994), hutan yang termasuk ke dalam formasi klimatis adalah hutan hujan tropis, hutan semi hujan, hutan musim, hutan pegunungan atau hutan temperate, hutan konifer, hutan bambu atau hutan Gramineae berkayu, dan hutan Alpine.


2) Formasi Edafis
Formasi edafis adalah formasi hutan yang dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah, misalnya sifat-sifat fisika, sifat kimia, dan sifat biologi tanah, serta kelembapan tanah. Ekosistem hutan yang termasuk ke dalam formasi edafis, yaitu hutan rawa, hutan payau, dan hutan pantai. Schimper (1903) dalam Arief (1994), menyebutkan hutan-hutan yang termasuk ke dalam formasi edafis mencakup hutan tepian, hutan rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove.

Menurut Davy (1938) dalam Arief (1994), yang termasuk ke dalam kelompok formasi edafis, yaitu hutan riparian, hutan rawa, hutan mangrove, hutan pantai, hutan kering selalu hijau, hutan sabana, hutan palma atau hutan nipah, dan hutan duri. Hutan riparian (riparian forest) dianggap sebagai sub tipe hutan hujan tropis, sedangkan hutan nipah (nipha forest) sering dianggap sebagai konsosiasi dari hutan payau atau hutan rawa; bergantung kepada faktor edafisnya.

Sumber: https://imii.co.id/ini-ilmuwan-peraih-hadiah-nobel-fisika-2017/