Hubungan Kehidupan Perkotaan dengan Munculnya Pergerakan Kebangsaan Indonesia

  Hubungan Kehidupan Perkotaan dengan Munculnya Pergerakan Kebangsaan Indonesia

Kota memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan selalu menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah. Kehidupan dan mentalitas masyarakat kota, biasanya mencari dan menemukan identitas baru, pluralistis (suku, agama, profesi), modern (relative maju dan toleran). Oleh karena itu, kota menjadi tempat yang sangat strategis dalam upaya memunculkan dan mengembangkan pergerakan nasional Indonesia. Dari kota-kota tersebut muncullah golongan-golongan elite baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia, seperti golongan terpelajar, golongan profesional, dan golongan pers.

1.      Golongan Terpelajar

Golongan terpelajar termasuk ke dalam kelompok elite minoritas dari bangsa Indonesia, tetapi kedudukan dan peranannya sangat besar dalam lingkungan masyarakat. Dikatakan minoritas karena di dalam susunan masyarakat jumlahnya relatif kecil apabila dibandingkan dengan kelompok-kelompok di bawahnya. Golongan ini muncul pada kota, khususnya kota-kota besar yang dijadikan pusat dan tempat untuk mengadu nasib, juga merupakan tempat bertemunya ide-ide para pelajar, mahasiswa, sarjana dan pemuda lain dari berbagai daerah dengan adat istiadat yang berbeda-beda.

Para pemuda pelajar mulai menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menghadapi penjajah Belanda. Mereka juga melihat pentingnya perluasan pengajaran bagi kemajuan bangsa seperti yang ditegaskan oleh para pelajar STOVIA di Batavia. Begitu pula di dalam menghadapi kaum kapitalis asing, tidak ada jalan yang lebih baik kecuali jika para pedagang pribumi bersatu seperti yang dinyatakan oleh pendiri Sarekat Islam, yaitu Haji Samanhudi.

2.      Golongan Profesional

Golongan profesional lebih banyak muncul dan mengembangkan profesinya pada daerah perkotaan. Pada masa kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda, golongan profesional ini memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat di daerah perkotaan. Golongan profesional terdiri atas berbagai profesi seperti profesi guru, dokter, dan sebagainya.

3.      Peranan Pers Indonesia

Pada abad ke-19, pers masuk ke wilayah Indonesia dan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kota-kota di Indonesia. Wujud perkembangan pers itu dalam bentuk surat kabar ataupun majalah. Munculnya surat kabar dimodali oleh orang-orang Cina dengan menggunakan bahasa Melayu. Derngan demikian, surat kabar yang diterbitkan secara tidak langsung ikut serta di dalam mempopulerkan penggunaan bahasa Melayu. Surat kabar juga memuat isu-isu politik yang sedang berkembang, sehingga secara tidak langsung telah banyak memberikan pendidikan politik pada masyarakat Indonesia. Surat kabar berbahasa Melayu berkembang sejak awal abad ke-20, antara lain sebagai berikut.

a)      Sumatra: Sinar Soematra, Tjahaja Soematra, Pemberita Atjeh, Pertja Barat.

b)      Jawa: Bromantani, Pewarta Soerabaja, Kabar Perniagaan, Pemberitaan Betawi, Pewarta Hindia, Bintang Pagi, Sinar Djawa, Hampaet, Melayu, Poetera Hindia.

c)      Kalimantan: Pewarta Borneo.

d)     Sulawesi: Pewarta Manado.

Surat kabar mempunyai fungsi sosial dasar, yaitu memperluas pengetahuan bagi para pembacanya dan dapat membentuk opini umum. Akan tetapi, ruang gerak persuratkabaran pada zaman kolonial Belanda dibatasi dan dikontrol ketat. Selain surat kabar yang membawa suara nasionalisme, terbit surat kabar yang merupakan pembawa suara pemerintah kolonial Hindia Belanda, seperti  Pantjaran Warta dan Bentara Hindia di Jakarta, Sinar Matahari di Makassar, dan Medan Priyayi di Bandung.

Muncul dan berkembangnya pergerakan nasional dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam maupun dari luar, yaitu sebagai berikut:

1.      Pengaruh dari dalam  (internal)

a)      Kenangan kejayaan masa lampau, misalnya  kejayaan kerajaan Sriwijaya, dan Kerajaan Majapahit.

b)      Penderitaan dan kesengsaraan akibat imperialisme dari kaum penjajah.

c)      Muncunya golongan cendekiawan yag berasal dari sekolah dalam negeri buatan belanda, dan dari sekolah di luar negeri, maupun cendekiawan dari negeri belanda.

d)     Kemajuan dibidang politik, sosial- ekonomi, dan kebudayaan, yaitu munculnya partai- partai poltik, pengahpusan eksploitasi ekonomi asing, dan perlindungan kebudayaan asli akibat kedatangan budaya dari barat.

2.      Pengaruh dari luar (eksternal)

a)      Kemenangan Jepang atas Rusia (1905).

b)      Pergerakan kebangsaan India dalm mengahadapi penjajaahan Inggris.

c)      Gerakan kebangsaan Filipina melawan Spanyol, dan Amerika Serikat.

d)     Gerakan Nasionalis China yang dipimpin Dr. Sun Yat Sen.

e)      Pergerakan Turki muda (1908).

f)       Pergerakan Nasionalisme Mesir, dipimpin oleh Arabhi Pasha (1881- 1882).

Sumber :

https://linda134.student.unidar.ac.id/2020/07/apple-kembali-pimpin-pasar-wearable.html