Nabi saw bersabda

Nabi saw bersabda

“Serahkanlah bagian-bagian itu kepada yang lebih berhak, kemudian sisanya untuk laki-laki yang lebih utama (dekat kepada mayyit).” (Muttafaqun’alaih: Fatul Bari XII: 11 no: 6732, Muslim III: 1233 no: 1615, Tirmidzi III: 283 no: 2179 dan yang semakna dengannya diriwayatkan Abu Dawud, ‘Aunul Ma’bud VIII: 104 no: 2881, Sunan Ibnu Majah II: 915 no. 2740).

  1. Suami.

Allah swt berfirman:

“Dan bagimu (suami-isteri) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (QS An Nisaa’: 12).

  1. Laki-laki yang memerdekakan budak.

Sabda Nabi saw:

“Hak ketuanan itu milik orang yang telah memerdekakannya.”

  1. Perempuan-perempuan yang Mendapat Warisan

Perempuan-perempuan yang berhak menjadi ahli waris ada tujuh:

1 dan 2. Anak perempuan dan puteri dari anak laki-laki dan seterusnya.

Firman-Nya:

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.” (QS An Nisaa’: 11).

3 dan 4. Ibu dan nenek.

Firman-Nya:

Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masing seperenam.” (QS An Nisaa’: 11).

  1. Saudara perempuan.

Allah swt berfirman:

“Jika seorang meninggal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkan itu.” (QS An Nisaa’: 176).

  1. Istri.

Allah swt berfirman:

“Para isteri memperoleh seperempat dari harta yang kamu tinggalkan.” (QS An Nisaa’: 12).

  1. Perempuan yang memerdekakan budak.

Sabda Nabi saw:

“Hak ketuanan itu menjadi hak milik orang yang memerdekakannya.” (Muttafaqun’alaih: Fathul Bari I: 550 no: 456, Muslim II: 1141 no: 1504, ’Aunul Ma’bud X: 438 no: 3910, Ibnu Majah II: 842 no: 2521).

  1. Hak Waris Janin dalam Kandungan

Janin dalam kandungan berhak menerima waris dengan memenuhi dua persyaratan:

  1. Janin tersebut diketahui secara pasti keberadaannya dalam kandungan ibunya ketika pewaris wafat.
  2. Bayi dalam keadaan hidup ketika keluar dari perut ibunya, sehingga dapat dipastikan sebagai anak yang berhak mendapat warisan.

Syarat pertama dapat terwujud dengan kelahiran bayi dalam keadaan hidup. Dan keluarnya bayi dari dalam kandungan maksimal dua tahun sejak kematian pewaris, jika bayi yang ada dalam kandungan itu anak pewaris. Hal ini berdasarkan pernyataan Aisyah r.a.:

 

Sumber :

https://mlwcards.com/ceo-uber-gelar-perundingan-konstruktif-dengan-otoritas-transportasi-london/