Pendapat Sarjana Hukum

Pendapat Sarjana Hukum

Berikut ini adalah beberapa pendapat mengenai formulasi teori kausa dalam hukum Islam berdasarkan konsep, hukum Barat menurut para Sarjana hukum, yaitu:

Kausa adalah Motif

Para ahli hukum Mesir yang berbicara tentang hukum Islam adalah penganut teori baru kausa yang dikembangkan di Prancis, dan mereka ini mengajar bahwa kausa adalah motif (kausa impulsive). Ahli hukum mesir paling terkemuka yang membawa hukum Islam kedalam konteks ajaran kausa sebagai motif adalah ‘Abd ar-Razzaq as-Sanhuri (1895-1971).

Menurutnya hukum Islam tidak merumuskan asas-asas umum mengenai kausa, namun dari berbagai ketentuan hukum detail dalam berbagai aneka perjanjian khusus dapat disimpulkan dan diiabstraksikan ajaran kausa dalam hukum ini.

Menurut as-Sanhuri, dalam kaitan dengan kausa, hukum Islam berada dalam tarik ulur dan ketegangan antara dua faktor yang berlawanan. Pertama, hukum, Islam adalah suatu sistem, hukum yang dicirikan oleh semangat objektivisme yang lebih mementingkan dan memberi perhatian lebih banyak terhadap ungkapan kehendak daripada terhadap kehendak itu sendiri. Dalam hukum yang dicirikan oleh semangat objektivisme ini, seperti halnya hukum Jerman, ajaran tentang kausa sulit mendapat tempat atau, paling tidak, dapat dikatakan bahwa teori kausa dalam hukum ini tidak berkembang seperti halnya dalam hukum bangsa-bangsa Latin. Kedua, Hukum Islam di sisi lain adalah juga hukum yang dicirikan oleh semangat dan prinsip etika dan keagamaan, karena hukum Islam adalah hukum yang bersumber kepada ajaran agama Islam itu sendiri.

  1. Kausa dalam Mazhab Hanafi dan Syafi’i

Sebagaimana baru saja dikemukakan, dalam mazhab Hanafi dan Syafi’i kausa sulit mendapat tempat karena kedua mazhab ini lebih didominasi oleh semangat objektivisme (maudhu’iyyah). Atas dasar itu dalam kedua mazhab ini terdapat dua prinsip: (1) kausa tidak diperhitungkan kecuali apabila disebutkan dalam akad, dan (2) keabsahan kausa tidak konstan dalam arti bahwa (a) terdapat beberapa kausa di mana pandangan mengenai keabsahan kausa berbeda-beda, dan (b) pandangan tentang kausa yang sah itu berkembang.

  1. Kausa dalam mazhab Maliki dan Hambali

Konsep kausa dalam kedua mazhab ini seperti dielaborasi oleh as-Sanhuri, lebih dekat kepada teori baru kausa di Prancis dan dikalangan sarjana hukum Mesir. Kausa adalah motif untuk menutup perjanjian dan perhitungan, baik ketika disebutkan dii dalam akad maupun ketika tidak disebutkan dalam perjanjian selama kausa itu diketahui oleh pihak lawan janji. Apabila kausa (motif) itu sah, maka sah pula perjanjian yang mengandungnya, namun jika kausa itu tidak sah, maka perjanjian yang mengandungnya tidak sah pula.

Ekspresi paling kuat dari pandangan ini ditemukan dalam tulisan Ibn al-Qayyim (w. 751/1350), tokoh Hambali terkenal.

Sumber: https://multiply.co.id/