Pengendalian Napas (pranayama)

Pengendalian Napas (pranayama)

Pengendalian Napas (pranayama)

Pengendalian Napas (pranayama)

Kata prana berarti ‘daya hidup’ (life force), ‘vitalitas’. Kata prana seringkali diterjemahkan sebagai ‘napas’ (breath) dan ‘hidup’ (life), padahal sebenarnya napas merupakan sebuah manifestasi luar dari prana, yakni daya hidpu yang menembus serta menopang semua kehidupan.Pranayama merupakan komponen ke-empat dari ‘delapan ruas yoga’ Patanjali.

‘Seluruh petualangan yoga berpuasa pada pengolahan prana’. Ini menunjukkan pentingnya pranayama dalam proses yoga.

Teknik pranayama adalah sebuah cara sistematis yang dikembangkan oleh para yogi untuk untuk mempengaruhi medan bioenergi tubuh. Bahkan latihan disiplin moral (yama), pengendalian diri (niyama), pengendalian indera (pratyahara) dan konsentrasi mental (dharana), juga merupakan bentuk manipulasi daya prana. Dalam budaya lain, ide tentang bioenergi prana dikenal sebagai chi di Tiongkok dan mana di dalam tradisi Polinesia. Para peneliti modern menyebutnya sebagai energi bioplasma. Para praktisi yoga mengetahui bahwa ada hubungan antara prana, napas, emosi dan pikiran.

Dalam Yoga Sutras (2.49) dikatakan bahwa:       “Setelah menguasai asanas, kita harus melatih keluar masuknya napas”.

  1. Pengendalian Indera (Pratyahara)

Latihan asana dan pranayama menghasilkan sebuah dsensitifikasi yang akan menghentikan ransangan dari luar diri sang yogi. Kemudian secara berangsur sang yogi dapat hidup dalam lingkungan batin pikirannya sendiri. Jika kesadaran sudah bisa secara berangsur sang yogi dapat hidup dalam lingkungan batin pikirannya sendiri. Jika kesadaran sudah bisa secara efektif membebaskan diri dari pengaruh lingkungan luar, maka kondisi tersebut pratyahara. Dalam Mahabharata (12.194.58) dikatakan tentang pratyahara:

“Sang Diri (self) tidak dapat ditangkap dengan indera yang kacau, terpecah-belah dan terpencar dan sulit untuk dikenalikan bagi orang  yang belum siap” (Mahabharata 12.194.58)

Dan dalam Yoga Sutras (2.54), pengendalian indera-indera (pratyahara) dijelaskan sebagai:

“JIka indera-indera menarik diri dari objek (benda-benda) dan meniru seolah-olah memiliki kodrat materi pikiran, maka inilah yang disebut pratyahara”.

  1. Konsentrasi (Dharana)

‘Konsentrasi’ merupakan proses lanjutan dari pratyahara. Konsentrasi adalah komponen keenam dari ashtanga-yoga Patanjali. Konsentrasi dapat didefinisikan sebagai ‘memfokuskan perhatian pada satu tempat tertentu’ (desha). Tempat (locus) tersebut dapat merupakan bagian tertentu dari tubuh, serpeti cakra atau objek eksternal yang diinternalisasikan seperti imaji seorang dewa-dewi. Istilah yang dipakai olehPatanjali untuk ‘konsentrasi’ adalah dharana.

Dalam Yoga Sutras (2.53), dharana dijelaskan sebagai berikut:

                “Dan pikiran sudah siap untuk konsentrasi”.

                “Dharana adalah memfokuskan pikiran pada satu tempat, objek atau ide”. (Y.S. 3.1)

  1. Meditasi (Dhyana)

Konsentrasi yang diperpanjang serta mendalam, secara alami akan membimbing seseorang ke kondisi yang disebut ‘meditasi’ (dhyana). Dalam meditasi, objek atau locus yang diinternalisasikan mengisi seluruh ruang kesadaran. Jika dalam ‘konsentrasi’ mekanisme utama adalah ‘keterfokusan perhatian’, maka dalam ‘meditasi’ mekanisme yang mendasari proses ini adalah ‘kemengaliran yang tunggal’ (ekatanata).

Kondisi meditasi tidak menghilangkan kejernihan pikiran, malah sebaliknya ia memperkuat ke-sadar-an, walaupun memang tidak ada atau terdapat sedikit sekali kesadaran akan lingkungan eksternal. Tujuan awal meditasi dalam yoga adalah untuk menahan, menekan, serta menghentikan modifikasi pikiran (cittas-vritti-nirodhah). Aktivitas mental tersebut meliputi lima kategori:

  1. Pramana      : pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi, penyimpulan atau bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, seperti teks kitab suci.
  2. Viparyaya    : Kesalahpahaman, pengertian yang keliru.
  3. Vikalpa         : pengetahuan konseptual, imajinasi.
  4. Nidra             : tidur
  5. Smriti            : Ingatan.

Dalam kondisi identifikasi dengan Diri (self), unsur pengaktif yang menyebabkan eksternalisasi kesadaran dicabut. Ingatan memiliki dua aspek, yakni aspek kasar dan aspek halus. Aspek kasar dari ingatan dapat dilumpuhkan melalui meditasi, sedangkan aspek halusnya dapat dinetralkan melalui samadhi suprasadar. Ada 3 tahap proses ‘penghentian’ (nirodha), yakni:

  1. Vritti-nidrodha          : penghentian kelima kategori aktivitas mental kasar dalam meditasi.
  2. Pratyaya-nirodha    : penghentian ide (pratyaya) yang muncul dalam berbagai jenis samadhi sadar (samprajnata-samadhi). Para yogi harus dapat mengatasi pikiran yang mucnul secara spontan dalam kondisi savitarka-samapatti. Para yogi juga harus mampu melampaui rasa bahagia (ananda) dalam kondisi ananda-samapatti
  3. Samskara-nirodha  : penghentian unsur pengaktif batin dalam kondisi samadhi suprasadar (asamprajnata-samadhi). Dalam kondisi asmprajnata-samadhi, sang yogi melumpuhkan ingatan batin dengan potensi laten (vasana), yang selalu menghasilkan aktivita spsikomental baru.

Masalah penghancuran samskara dijelaskan dalam Yoga Sutras (1.50)

        “Kesan (impresi) yang dihasilkan melalui samadhi akan menghapuskan semua kesan-kesan lainnya.”


Sumber: https://memphisthemusical.com/