Sejarah PAUD di Indonesia

Sejarah PAUD di Indonesia

Berdirinya kindergarten dikenal juga sebagai Froebel School berpengaruh terhadap perkembangan PAUD di seluruh dunia. Konsep kindergarten dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kemudian PAUD versi lain pun bermunculan. Pada tahun 1907 di permukiman kumuh San Lorenzo, Italia, Maria Montessori, seorang yang berlatar belakang dokter mendirikan Casa dei Bambini yang ditujukan bagi perawatan anak dari kaum miskin dan buruh. Casa dei Bambini artinya rumah untuk perawatan anak yang selanjutnya dikenal sebagai rumah anak. Di Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membawa konsep ini dan mendirikan Froebel School bagi anak-anaknya.

Seiring dengan kebangkitan nasional yang diawali berdirinya Budi Utomo, kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi kaum bumi putera semakin dirasakan. Froebel School yang awalnya diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Belanda, Eropa dan Bangsawan, mulai dikenal oleh cendikiawan muda pribumi. Pada tahun 1919 Persatuan Wanita Aisyiyah mendirikan Bustanuf Athfal yang pertama di Yogyakarta. Kurikulum dan materi pendidikannya menanamkan sikap nasionalisme dan nilai-nilai ajaran agama. Bustanul Athfal ditujukan untuk merespon popularitas lembaga PAUD yang berorientasi di Eropa. Pada tahun 1922, Ki Hajar Dewantara, sepulang dari diasingkan dari Belanda selama dua tahun (1913-1915), mendirikan Taman Lare atau Taman Anak atau Kindertuin yang akhirnya berkembang menjadi Taman Indria.

Pada masa penjajahan Jepang, lembaga pendidikan sejenis PAUD terus berlanjut namun semakin berkurang. Pemerintah Jepang tidak mengawasi secara formal penyelenggaraan setingkat PAUD, namun melengkapi kegiatan kelasnya dengan nyanyian-nyanyian Jepang.

Periode berikutnya adalah periode setelah kemerdekaan, periode ini terbagi menjadi lima periode.

Periode 1945-1965

Periode ini ditandai dengan berdirinya Yayasan Pendidikan Lanjutan Wanita. Yayasan tersebut mendirikan Sekolah Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak Nasional di Jakarta dan merupakan gerakan nasional dalam melawan kembalinya Belanda. Pemerintah dan swasta mulai membangun banyak TK. Pada tahun 1950 melalui UU No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah keberadaan TK resmi diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Tepatnya tanggal 22 Mei 1950, berdiri IGTKI. Pada tahun 1951 berdiri Yayasan Bersekolah Pada Ibu yang menyumbang pendirian TK hingga menyebar keluar Jawa. Tahun 1951-1955 pemerintah berupaya mengembangkan kurikulum, menyediakan fasilitas dan mengadakan supervise ke TK-TK. Pada periode itu pula didirikan SPG-TK Nasional di Jakarta dengan pemberian subsidi pengembangannya yang terus berlanjut sehingga pengembangannya sampai ke luar Pulau Jawa. Pada tahun 1957 berdiri Gabungan Organisasi Penyelenggara TK Indonesia (GOPTKI) melaksanakan kongres pertamanya pada tahun 1959. Pada awal tahun 1960-an mulai didirikan TK yang berstatus negeri.

Tahun 1960 sampai 1963 pemerintah mulai melakukan pengiriman SDM untuk belajar ke luar negeri diantaranya Australia, USA, dan New Zeeland. Dampak dari pengiriman SDM tersebut terjadi modernisasi pendidikan di tingkat PAUD berskala besar dan merupakan jawaban atas ketidakpuasan sebelumnya. Sebagai penghujung di periode tersebut yaitu tahun 1963-1964 lahirlah proyek (Kurikulum) gaya baru. Ini kurikulum tersebut berorientasi pada fasilitas anak mendekati kecakapan kebutuhan, dan minat individual. Ciri khasnya tersedia pusat minat seperti sudut rumah tangga, sudut seni, pusat musik dan sebagainya.

Sumber: http://linux.blog.gunadarma.ac.id/2020/07/14/jasa-penulis-artikel/