Tulisan Jawa, Pembakuan dan Penggunaan Aksara Carakan

Tulisan Jawa, Pembakuan dan Penggunaan Aksara Carakan

Tulisan Jawa, Pembakuan dan Penggunaan Aksara CarakanTulisan Jawa, Pembakuan dan Penggunaan Aksara Carakan

Ada ratusan juta orang di bumi ini yang menggunakan bahasa jawa, tersebar mulai dari masyarakat pulau Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta), Lampung, Medan Deli, Suriname, Afrika Selatan, dan lain sebagainya. Nyatanya, lebih banyak orang menggunakan bahasa Jawa ketimbang yang menggunakan bahasa Itali.

Namun sayangnya, kini bahasa Jawa hanya menjadi bahasa lisan. Buku, koran, atau majalah bahasa Jawa sangat sulit untuk bisa kita temui, mungkin hanya tinggal Jayabaya dan Penjebar Semangat (kalau tidak salah). Sudah jarang ada penerbit yang nekat menerbitkan buku fiksi apalagi buku ilmiah dalam bahasa jawa sebab pasti tidak lakunya. Penulis jawa sendiri sudah tidak mau lagi menulis dalam bahasa jawa lagi, blog khusus bahasa jawa juga termasuk barang langka.

Memang menulis bahasa jawa itu repot, seseorang yang tidak biasa berbicara menggunakan bahasa jawa bakal kesulitan saat membaca tulisan bahasa jawa. Vokal /a/ saja ada dua variasinya, yaitu a (pelan) dan a (ana). Vokal /e/ ada yang diucapkan: é (sate), e (mateng), dan è (bèbèk). Huruf /d/ ada yang dibaca dh (dhadha) dan ada d (kandel). Huruf t ada dibaca t (ketan) dan ada th (kethak). Zaman mesin cetak letter press, beberapa huruf dibedakan dengan menambahkan titik di bawahnya. Karena mesin ketik sulit membuat titik bawah, maka dalam pembakuan baru ditambah “h” dadi /th/ dan /dh/.

Pembakuan Tulisan Jawa

Sekarang zaman telah semakin maju dan serba digital. Semua informasi dari berbagai bahasa bisa dengan mudahnya diakses lewat internet. Namun ternyata belum ada upaya pembakuan lagi bahasa jawa yang lebih tepat sampai sekarang. Penulisan vokal /a/ (alon) dengan /a/ (ana) masih rancu. Sebagai contoh misalnya kutha (kota) Solo ada yang menulis Sala dan ada yang menulis Solo. Maka, ada yang menyebut Solo (dibaca seperti “sop”) dan ada yang menyebut Sala (dibaca seperti huruf o pada kata “bolong”).

Disebabkan tulisan jawa baku masih kurang aplikatif, maka yang bukan orang jawa dan tidak biasa berbicara dalam bahasa jawa, ketika membaca tulisan bahasa jawa akan membuat tertawa. Bojo loro (istri sakit) dengan bojo loro (istri dua) bisa sama penulisannya meskipun artinya sangat berbeda jauh. Maka, harusnya para ahli bahasa jawa perlu mencari ganti “a” yang pas dan secara teknis mudah. Dahulu pernah dicoba kondisi default a dianggap “ao” kalau “a” seperti bahasa Indonesia digaris bawahi.

Tata cara penulisan bahasa jawa baku yang sekarang menurut saya kurang sreg sebab rancu atau tidak konsisten. Contohnya, tambahan “h” untuk mengganti titik bawah pada “d” justru membuat bingung. Pada teks bahasa Indonesia, dada dibaca [dada], tapi kalau itu bahasa jawa, agar bunyinya sama dengan yang bahasa Indonesia mesti ditulis [dhadha]. Lha bagaimana tho, masak bunyinya sama tulisannya beda?

Kalau boleh usul, dada pada tulisan jawa tetap ditulis [dada]. Bahasa Indonesianya berani diterjemahkan bahasa jawa kendhel. Tapi pisau tumpul bahasa jawanya ditulis peso kethul sebab kalau ditulis pangot ketul maksudnya ‘obat batuk’ (obat watuk) dibaca obat bathuk (obat jidat).

Aksara Jawa (Carakan)

Idealnya bahasa jawa memang mestinya dilambangkan dengan tulisan yang persis, yaitu menggunakan aksara jawa alias carakan. Meskipun ini katanya juga bukan aslinya, melainkan impor dari agen tunggal pemegang merek Eyang Ajisaka. Sudah jarang-jarang orang tahu carakan. Sisa carakan tinggal sedikit bisa ditemui pada nama jalan dan beberapa tempat di Solo dan Yogyakarta atau untuk walikan gaya Yogyakarta. Zaman sekarang siapa yang masih mau belajar carakan?.

Memang sudah ada upaya memasukkan carakan ini di UNICODE, namun apakah sekarang ketika berhasil masuk, carakan sudah bisa berkembang karena kita sudah bisa menulis jawa pakai aksara carakan menggunakan kibor?. Apakah kemudian ada Windows versi Hanacaraka atau mengirim pesan SMS dan Whatsapp menggunakan tulisan aksara jawa?. Carakan tidak bisa disamakan dengan aksara Kanji, Mandarin, atau Arab yang masih dipakai dan berkembang sampai sekarang.

Sekarang masih banyak dijumpai buku sampai brosur penggunaan alat atau bahan menggunakan aksara Kanji, Cina atau Arab. Namun, mana ada buku atau brosur atau bahkan poster peringatan terbitan baru yang ditulis menggunakan aksara jawa?

RECENT POSTS