bagaimana cara kita memahami sejarah

PENDEKATAN-PENDEKATAN DALAM KAJIAN ISLAM

Islam dalam kenyataan historis terdiri dari beberapa hal:

1. Sumber-sumber ajaran. Secara ijmak al-Qur’an (Alquran, Quran) diakui sebagai sumber utama dan al-Sunnah (Sunnah Nabi, al-Hadīts, Hadis) sumber kedua. Sumber ketiga dan seterusnya tidak sepenuhnya disepakati, seperti ijmā’ (ijmak, konsensus), ‘urf (kebiasaan baik yang berlaku pada masyarakat Muslim) dan ra’y (penalaran). Mengenai ijmak, perbedaan pendapat berkenaan dengan apakah itu merupakan sumber atau metode. Jika sumber, ijmak siapa yang mesti diambil? Ijmak para Sahabat Nabi Muhammad saw., ijmak para ulama, atau ijmak umat? Kalau ijmak para Sahabat, apa yang diambil dari situ: metodenya, isinya atau kedua-duanya? Kalau ijmak para ulama, bagaimana caranya, sejauh mana hasilnya mengikat kaum Muslimin, apakah orang yang berada jauh dari segi ruang dan waktu boleh menyelisihinya atau membuat ijmak sendiri? Kalau ijmak umat, bagaimana caranya, keabsahannya dst.
Mengenai kemungkinan ijmak menjadi metode, penjelasannya adalah: di dalam Islam tidak ada otoritas (pihak yang berwenang) untuk menentukan bahwa hukum ini berlaku atau tidak berlaku pada umat Islam. Yang ada secara pasti dan tidak diperdebatkan adalah al-Qur’an sebagai sumber, sementara pemahaman terhadapnya bisa sangat bervariasi. Dari sebuah ayat yang sama dapat dipahami pengertian yang berbeda. Ayat: وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ [الصافات: 96], (sedangkan Allah menciptakan kalian dan misalnya, dipahami oleh kaum Asy’ariah sebagai pernyataan bahwa manusia dan perbuatannya diciptakan oleh Allah, sementara kaum Mu’tazilah tidak. Bagi kaum Asy’ariah kata مَا تَعْمَلُونَ dipahami sebagai “apa yang kalian lakukan”, sedangkan bagi kaum Mu’tasilah kata ini berarti “[bahan dari] apa yang kalian buat” yakni patung. Ayat ini merupakan argumen yang diajukan oleh Nabi Ibrahim kepada kaumnya ketika beliau mereka persalahkan karena telah menghancurkan patung-patung yang mereka sembah. Beliau lalu berkata, “Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat ini, sedangkan Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian buat?” Jadi beliau mempersalahkan mereka karena telah menyembah patung yang kedudukannya sama (atau bahkan lebih rendah), yakni patung yang juga diciptakan.
Adat kebiasaan yang berlaku pada kaum Muslimin juga begitu. Kapan ia menjadi sumber hukum mengapa ia menjadi sumber hukum? Kalau ada bagian-bagiannya yang berbeda atau bertentangan dengan ajaran Islam yang dirumuskan di tempat dan waktu lain, apakah ia dapat dijadikan sumber?
2. Norma-norma, yakni aturan-aturan yang mengikat pemeluknya, menjadi panduan, tatanan dan pengendali tingkah laku yang berlaku dan berterima. Bahwa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah baik, sedangkan mencuri tidak baik. Bahwa giat belajar adalah baik, sedangkan malas belajar dan mencontek sewaktu ujian adalah tidak baik. Bahwa menolong orang lain yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya adalah baik, sedangkan membiarkannya tak tertolong adalah tidak baik. Demikian seterusnya. Ada perbuatan yang wajib dilakukan, ada yang dianjurkan (sunat), ada yang dibebaskan tanpa anjuran atau larangan (mubah), ada yang tidak dianjurkan (makruh) dan ada yang tidak boleh dilakukan (haram).
3. Rumusan ajaran: akidah, fiqih dan akhlaq. Untuk memudahkan pemeluk Islam mengerti ajaran agamanya, para ulama merumuskan ajaran-ajaran Islam dalam tiga jenis literatur atau buku ajaran. Rumusan akidah ditemukan dalam buku-buku akidah, ilmu kalam, ilmu tauhid atau ushuluddin, rumusan mengenai kewajiban-kewajiban keagamaan dan larangan-larangannya ditemukan dalam buku-buku fiqih, buku-buku peribadatan yang bersifat umum atau buku-buku khusus seperti pesalatan, tuntunan salat, tuntunan puasa, tuntunan berniaga dan tuntunan berhaji. Rumusan tentang tata perilaku dan disiplin diri terdapat dalam buku-buku akhlaq dan buku-buku adab.
4. Umat yang melaksanakan ajaran. Islam juga dipahami sebagai kumpulan orang-orang menganut ajaran Islam yang disebut umat Islam atau kaum Muslimin. Perilaku dan keadaan mereka selalu dipandang sebagai cermin dari Islam dalam kehidupan nyata, untuk yang baik maupun yang buruk. Akhir-akhir ini Islam diidentikkan dengan kekerasan, kebodohan dan kemudahan diprovokasi untuk melakukan perbuatan tidak tertib atau pengrusakan. Ini terjadi karena ada cukup banyak orang beragama Islam yang melakukan tindakan-tindakan itu, walaupun sebenarnya itu semua bertentangan dengan ajaran Islam.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/