Pemuda mau jadi Petani

Pemuda mau jadi Petani

Pemuda mau jadi Petani
Pemuda mau jadi Petani

Potret pertanian di Indonesia saat ini di dominasi oleh orang tua yang bekerja di sawah atau di ladang. Sangat sedikit generasi muda usia produktif yang mau bergelut di bidang pertanian. Hal ini dikarenakan berbagai macam hal, baik dari segi budaya, pendidikan, dan ekonomi.

Profesi sebagai petani dirasa kurang menjanjikan dimata para pemuda. Banyak profesi lebih menjanjikan seperti pengusaha, pedagang, dokter, pejabat, dan lain-lain. Dari segi ekonomi hal tersebut memang bisa dikatakan benar. Karena penduduk indonesia yang sebagian besr berprofesi sebagai petani, sangat sedikit yang bisa menjadi petani sukses.

Namun keadaan ini sangat ironis. Dari badan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2008 mencapai 8,39 persen atau 9,39 juta orang. Padahal lapangan pekerjaan di sektor pertanian masih sangat terbuka lebar.

Dari segi budaya, jelas budaya asing yang mempengaruhi generasi muda menjadi enggan bertani adalah budaya hedonisme. Pemuda cenderung ingin segala sesuatu yang instan dan menghasilkan banyak uang tanpa perlu bersusah payah mencangkul di sawah. Pesona gemerlap kota yang membutakan generasi muda di desa mengakibatkan tingginya tingkat urbanisasi. Sehingga meninggalkan desa dan sawah pun tak ada yang menggarap selain orang tua yang sudah menurun tingkat produktifitasnya.

Selain itu penerapan teknologi pertanian yang masih lambat juga merupakan salah satu faktor generasi muda enggan merambah ke dunia pertanian. Pertanian yang ada cenderung masih bersifat tradisional. Generasi muda yang telah terpengaruh moderenisasi enggan untuk bergaul dengan lumpur dan lebih memilih bekerja di balik meja dan komputer.

Padahal jika kita bisa belajar dari negara tetangga Thailand yang maju sektor pertaniaanya, para generasi muda di sana senag bergelut di bidang pertanian karena mereka sadar pertanian merupakan sebuah profesi yang bisa menghidupi. Denan alih teknologi modern mereka bisa maju sektor pertaniannya dan regenerasi petanipun tidak terhambat.

Wajah pertanian Indonesia yang tak menarik minat lulusan sarjana di Indonesia, bahkan sarjana pertanian sekalipun. Perlunya perbaikan citra pertanian. Menyadarkan betapa pentingnya sektor pertanian tidak kalah dengan sektor-sektor yang lain. Diperlukan banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro petani.

Baca Juga :

CARA DAN FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL

CARA DAN FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL

CARA DAN FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL
CARA DAN FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL

Pengendalian sosial dapat dilaksanakan melalui :
1. Sosialisasi
Sosialisasi dilakukan agar anggota masyarkat bertingkah laku seperti yang diharapkan tanpa paksaan. Usaha penanaman pengertian tentang nilai dan norma kepada anggota masyarakat diberikan melakui jalur formal dan informal secara rutin.
2. Tekanan Sosial
Tekanan sosial perlu dilakukan agar masyarakat sadar dan mau menyesuaikan diri dengan aturan kelompok. Masyarakat dapat memberi sanksi kepada orang yang melanggar aturan kelompok tersebut.
Pengendalian sosial pada kelompok primer (kelompok masyarkat kecil yang sifatnya akrab dan informal seperti keluarga, kelompok bermain, klik ) biasanya bersifat informal, spontan, dan tidak direncanakan, biasanya berupa ejekan, menertawakan, pergunjingan (gosip) dan pengasingan.
Pengendalian sosial yang diberikan kepada kelompok sekunder (kelompok masyarkat yang lebih besar yang tidak bersifat pribadi (impersonal) dan mempunyai tujuan yang khusus seperti serikat buruh, perkumpulan seniman, dan perkumpulan wartawan ) lebih bersifat formal. Alat pengendalian sosial berupa peraturan resmi dan tata cara yang standar, kenaikan pangkat, pemberian gelar, imbalan dan hadiah dan sanksi serta hukuman formal.
3. Kekuatan dan kekuasaan dalam bentuk peraturan hukum dan hukuman formal
Kekuatan da kekuasaan akan dilakukan jika cara sosialisasi dan tekanan sosial gagal. Keadaan itu terpaksa dipergunakan pada setiap masyarakat untuk mengarahkan tingkah laku dalam menyesuaikan diri dengan nilai dan norma sosial.
Disamping cara di atas juga agar proses pengendalian berlangsung secara efektif dan mencapai tujuan yang diinginkan, perlu dberlakukan cara-cara tertentu sesuai dengan kondisi budaya yang berlaku.
a. Pengendalian tanpa kekerasan (persuasi); bisasanya dilakukan terhadap yang hidup dalam keadaan relatif tenteram. Sebagian besar nilai dan norma telah melembaga dan mendarah daging dalam diri warga masyarakat.
b. Pengendalian dengan kekerasan (koersi) ; biasanya dilakukan bagi masyarakat yang kurang tenteram, misalnya GPK (Gerakan Pengacau Keamanan).
Jenis pengendalian dengan kekerasan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yakni kompulsi dan pervasi.
1) Kompulsi (compulsion) ialah pemaksaan terhadap seseorang agar taat dan patuh tehadap norma-norma sosial yang berlaku.
2) Pervasi ( pervasion ) ialah penanaman norma-norma yang ada secara berulang -ulang dengan harapan bahwa hal tersebut dapat masuk ke dalam kesadaran seseorang. Dengan demikian, orang tadi akan mengubah sikapnya. Misalnya, bimbingan yang dilakukan terus menerus.
5. Fungsi Pengendalian Sosial
Koentjaraningrat menyebut sekurang-kurangnya lima macam fungsi pengendalian sosial, yaitu :
a. Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma.
b. Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma.
c. Mengembangkan rasa malu
d. Mengembangkan rasa takut
e. Menciptakan sistem hukum
Kontrol sosial – di dalam arti mengendalikan tingkah pekerti-tingkah pekerti warga masyarakat agar selalu tetap konform dengan keharusan-keharusan norma-hampir selalu dijalankan dengan bersarankan kekuatan sanksi (sarana yang lain:pemberian incentive positif). Adapun yang dimaksud dengan sanksi dalam sosiologi ialah sesuatu bentuk penderitaan yang secara sengaja dibebankan oleh masyarakat kepada seorang warga masy arakat yang terbukti melanggar atau menyimpangi keharusan norma sosial, dengan tujuan agar warga masyarakat ini kelak tidak lagi melakukan pelanggaran dan penyimpangan terhadap norma tersebut.
Ada tiga jenis sanksi yang digunakan di dalam usaha-usaha pelaksanaan kontrol sosial ini, yaitu :
1. Sanksi yang bersifat fisik,
2. Sanksi yang bersifat psikologik, dan
3. Sanksi yang bersifat ekonomik.
Pada praktiknya, ketiga jenis sanksi tersebut di atas itu sering kali terpaksa diterapkan secara bersamaan tanpa bisa dipisah-pisahkan, misalnya kalau seorang hakim menjatuhkan pidana penjara kepada seorang terdakwa; ini berarti bahwa sekaligus terdakwa tersebut dikenai sanksi fisik (karena dirampas kebebasan fisiknya), sanksi psikologik (karena terasakan olehnya adanya perasaan aib dan malu menjadi orang hukuman), dan sanksi ekonomik ( karena dilenyapkan kesempatan meneruskan pekerjaannya guna menghasilkan uang dan kekayaan ).
Sementara itu, untuk mengusahakan terjadinya konformitas, kontrol sosial sesungguhnya juga dilaksanakan dengan menggunakan incentive-incentive positif yaitu dorongan positif yang akan membantu individu-individu untuk segera meninggalkan pekerti-pekertinya yang salah, Sebagaimana halnya dengan sanksi-sanksi, pun incentive itu bisa dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Incentive yang bersifat fisik;
2. Incentive yang bersifat psikologik; dan
3. Incentive yang bersif ekonomik.
Incentive fisik tidaklah begitu banyak ragamnya, serta pula tidak begitu mudah diadakan. Pun, andaikata bisa diberikan, rasa nikmat jasmaniah yang diperoleh daripadanya tidaklah akan sampai seekstrem rasa derita yang dirasakan di dalam sanksi fisik. Jabatan tangan, usapan tangan di kepala, pelukan, ciuman tidaklah akan sebanding dengan ekstremitas penderitaan sanksi fisik seperti hukuman cambuk, hukuman kerja paksa, hukuman gantung dan lain sebagainya. Bernilai sekadar sebagai simbol, kebanyakan incentive fisik lebih tepat dirasakan sebagai incentive psikologik. Sementara itu, disamping incentive fisik dan psikologik tidak kalah pentingnya adalah incentive ekonomik. Incentive ekonomik kebanyakan berwujud hadiah-hadiah barang atau ke arah penghasilan uang yang lebih banyak.
Apakah kontrol sosial itu selalu cukup efektif untuk mendorong atau memaksa warga masyarakat agar selalu conform dengan norma-norma sosial (yang dengan demikian menyebabkan masyarakat selalu berada di dalam keadaan tertib ) ? Ternyata tidak. Usaha-usaha kontrol sosial ternyata tidak berhasil menjamin terselenggaranya ketertiban masyarakat secara mutlak, tanpa ada pelanggaran atau penyimpangan norma-norma sosial satu kalipun.
Ada lima faktor yang ikut menentukan sampai seberapa jauhkah sesungguhnya sesuatu usaha kontrol sosial oleh kelompok masyarakat itu bisa dilaksanakan secara efektif, yaitu :
1. Menarik-tidaknya kelompok masyarakat itu bagi warga-warga yang bersangkutan ;
2. Otonom-tidaknya kelompok masyarakat itu;
3. Beragam-tidaknya norma-norma yang berlaku di dalam kelompok itu,
4. Besar-kecilnya dan bersifat anomie-tidaknya kelompok masyarakat yang bersangkutan; dan
5. Toleran-tidaknya sikap petugas kontrol sosial terhadap pelanggaran yang terjadi.
1. Menarik-Tidaknya Kelompok Masyarakat Itu Bagi Warga yang Bersangkutan.
Pada umumnya, kian menarik sesuatu kelompok bagi warganya, kian besarlah efektivitas kontrol sosial atas warga tersebut, sehingga tingkah pekerti-tingkah pekerti warga itu mudah dikontrol conform dengan keharusan-keharusan norma yang berlaku. Pada kelompok yang disukai oleh warganya, kuatlah kecendrungan pada pihak warga-warga itu untuk berusaha sebaik-baiknya agar tidak melanggar norma kelompok. Norma-norma pun menjadi self-enforcing. Apabila terjadi pelanggaran, dengan mudah si pelanggar itu dikontrol dan dikembalikan taat mengikuti keharusan norma. Sebaliknya, apabila kelompok itu tidak menarik bagi warganya, maka berkuranglah motif pada pihak warga kelompok untuk selalu berusaha menaati norma-norma sehingga karenanya-bagaimanapun juga keras dan tegasnya kontrol sosial dilaksanakan-tetaplah juga banyak pelanggaran-pelanggaran yang terjadi.
2. Otonom-Tidaknya Kelompok Masyarakat Itu.
Makin otonom suatu kelompok, makin efektiflah kontrol sosialnya, dan akan semakin sedikitlah jumlah penyimpangan-penyimpangan dan pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di atas norma-norma kelompok. Dalil tersebut diperoleh dari hasil studi Marsh.
Penyelidikan Marsh ini dapat dipakai sebagai landasan teoritis untuk menjelaskan mengapa kontrol sosial efektif sekali berlaku di dalam masyarakat-masyarakat yang kecil-kecil dan terpencil; dan sebaliknya mengapa di dalam masyarakt kota besar-yang terdiri dari banyak kelompok-kelompok sosial besar maupun kecil itu – kontrol sosial bagaimanapun juga kerasnya dilaksanakan tetap saja kurang efektif menghadapi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi.
3. Beragam-Tidaknya Norma-norma yang Berlaku di dalam Kelompok Itu
Makin beragam macam norma-norma yang berlaku dalam suatu kelompok-lebih-lebih apabila antara norma-norma itu tidak ada kesesuaian, atau apabila malahan bertentangan-maka semakin berkuranglah efektivitas kontrol sosial yang berfungsi menegakkannya. Dalil ini pernah dibuktikan di dalam sebuah studi eksperimental yang dilakukan oleh Meyers.
Dihadapkan pada sekian banyak norma-norma yang saling berlainan dan saling berlawanan, maka individu-individu warga masyarakat lalu silit menyimpulkan adanya sesuatu gambaran sistem yang tertib, konsisten, dan konsekuen. Pelanggaran atas norma yang satu (demi kepentingan pribadi) sering kali malahan terpuji sebagai konformitas yang konsekuen pada norma yang lainnya. Maka, dalam keadaan demikian itu, jelas bahwa masyarakat tidak akan mungkin mengharapkan dapat terselenggaranya kontrol sosial secara efektif.

Sumber : https://downloadapk.co.id/

PENGENDALIAN ATAU KONTROL SOSIAL

PENGENDALIAN ATAU KONTROL SOSIAL

PENGENDALIAN ATAU KONTROL SOSIAL
PENGENDALIAN ATAU KONTROL SOSIAL

A. PENGENDALIAN SOSIAL
Dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang semua anggota masyarakat bersedia menaati aturan yang berlaku, hampir bisa dipastikan kehidupan bermasyarakat akan bisa berlangsung dengan lancar dan tertib. Tetapi, berharap semua anggota masyarakat bisa berperilaku selalu taat, tentu merupakan hal yang mahal. Di dalam kenyataan, tentu tidak semua orang akan selalu bersedia dan bisa memenuhi ketentuan atau aturan yang berlaku dan bahkan tidak jarang ada orang-orang tertentu yang sengaja melanggar aturan yang berlaku untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Secara rinci, beberapa faktor yang menyebabkan warga masyarakat berperilaku menyimpang dari norma-norma yang berlaku adalah sebagai berikut ( Soekanto, 181:45)
1. Karena kaidah-kaidah yang ada tidak memuaskan bagi pihak tertentu atau karena tidah memenuhi kebutuhan dasarnya.
2. Karena kaidah yang ada kurang jelas perumusannya sehingga menimbulkan aneka penafsiran dan penerapan.
3. Karena di dalam masyarakat terjadi konflik antara peranan-peranan yang dipegang warga masyarakat, dan
4. Karena memang tidak mungkin untuk mengatur semua kepentingan warga masyarakat secara merata.
Pada situasi di mana orang memperhitungkan bahwa dengan melanggar atau menyimpangi sesuatu norma dia malahan akan bisa memperoleh sesuatu reward atau sesuatu keuntungan lain yang lebih besar, maka di dalam hal demikianlah enforcement demi tegaknya norma lalu terpaksa harus dijalankan dengan sarana suatu kekuatan dari luar. Norma tidak lagi self-enforcing (norma-norma sosial tidak lagi dapat terlaksana atas kekuatannya sendiri ), dan akan gantinya harus dipertahankan oleh petugas-petugas kontrol sosial dengan cara mengancam atau membebankan sanksi-sanksi kepada mereka-mereka yang terbukti melanggar atau menyimpangi norma.
Apabila ternyata norma-norma tidak lagi self-enforcement dan proses sosialisasi tidak cukup memberikan efek-efek yang positif, maka masyarakat – atas dasar kekuatan otoritasnya – mulai bergerak melaksanakan kontrol sosial (social control).
Menurut Soerjono Soekanto, pengendalian sosial adalah suatu proses baik yang direncanakan atau tidak direncanakan, yang bertujuan untuk mengajak, membimbing atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang berlaku.
Obyek (sasaran) pengawasan sosial, adalah perilaku masyarakat itu sendiri. Tujuan pengawasan adalah supaya kehidupan masyarakat berlangsung menurut pola-pola dan kidah-kaidah yang telah disepakati bersama. Dengan demikian, pengendalian sosial meliputi proses sosial yang direncanakan maupun tidak direncanakan (spontan) untuk mengarahkan seseorang. Juga pengendalian sosiap pada dasarnya merupakan sistem dan proses yang mendidik, mengajak dan bahkan memaksa warga masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma sosial.
1. Sistem mendidik dimaksudkan agar dalam diri seseorang terdapat perubahan sikap dan tingkah laku untuk bertindak sesuai dengan norma-norma.
2. Sistem mengajak bertujuan mengarahkan agar perbuatan seseorang didasarkan pada norma-norma, dan tidak menurut kemauan individu-individu.
3. Sistem memaksa bertujuan untuk mempengaruhi secara tegas agar seseorang bertindak sesuai dengan norma-norma. Bila ia tidak mau menaati kaiah atau norma, maka ia akan dikenakan sanksi.
Dalam pengendalian sosial kita bisa melihat pengendalian sosial berproses pada tiga pola yakni :
1. Pengendalian kelompok terhadap kelompok
2. Pengendalian kelompok terhadap anggota-anggotanya
3. Pengendalian pribadi terhadap pribadi lainnya.
B. JENIS-JENIS PENGENDALIAN SOSIAL
Pengendalian sosial dimaksudkan agar anggota masyarkat mematuhi norma-norma sosial sehingga tercipta keselarasan dalam kehidupan sosial. Untuk maksud tersebut, dikenal beberapa jenis pengendalian. Penggolongan ini dibuat menurut sudut pandang dari mana seseorang melihat pengawasan tersebut.
a. Pengendalian preventif merupakan kontrol sosial yang dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran atau dalam versi ”mengancam sanksi” atau usaha pencegahan terhadap terjadinya penyimpangan terhadap norma dan nilai. Jadi, usaha pengendalian sosial yang bersifat preventif dilakukan sebelum terjadi penyimpangan.
b. Pengendalian represif ; kontrol sosial yang dilakukan setelah terjadi pelanggaran dengan maksud hendak memulihkan keadaan agar bisa berjalan seperti semula dengan dijalankan di dalam versi “menjatuhkan atau membebankan, sanksi”. Pengendalian ini berfungsi untuk mengembalikan keserasian yang terganggu akibat adanya pelanggaran norma atau perilaku meyimpang. Untuk mengembalikan keadaan seperti semula, perlu diadakan pemulihan. Jadi, pengendalian disini bertujuan untuk menyadarkan pihak yang berperilaku menyimpang tentang akibat dari penyimpangan tersebut, sekaligus agar dia mematuhi norma-norma sosial.
c. Pengendalian sosial gabungan merupakan usaha yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan (preventif) sekaligus mengembalikan penyimpangan yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial (represif). Usaha pengendalian dengan memadukan ciri preventif dan represif ini dimaksudkan agar suatu perilaku tidak sampai menyimpang dari norma-norma dan kalaupun terjadi penyimpangan itu tidak sampai merugikan yang bersangkutan maupun orang lain.
d. Pengendalian resmi (formal) ialah pengawasan yang didasarkan atas penugasan oleh badan-badan resmi, misalnya negara maupun agama.
e. Pengawasan tidak resmi (informal) dilaksanakan demi terpeliharanya peraturan-peraturan yang tidak resmi milik masyarakat. Dikatakan tidak resmi karena peraturan itu sendiri tidak dirumuskan dengan jelas, tidak ditemukan dalam hukum tertulis, tetapi hanya diingatkan oleh warga masyarakat.
f. Pengendalian institusional ialah pengaruh yang datang dari suatu pola kebudayaan yang dimiliki lembaga (institusi) tertentu. Pola-pola kelakuan dan kiadah-kaidah lembaga itu tidak saja mengontrol para anggota lembaga, tetapi juga warga masyarakat yang berada di luar lembaga tersebut.
g. Pengendalian berpribadi ialah pengaruh baik atau buruk yang datang dari orang tertentu. Artinya, tokoh yang berpengaruh itu dapat dikenal. Bahkan silsilah dan riwayat hidupnya, dan teristimewa ajarannya juga dikenal.

Sumber : https://filehippo.co.id/

5 UNIVERSITAS TERBAIK DI DUNIA INI

5 UNIVERSITAS TERBAIK DI DUNIA INI

Punya khayalan kuliah di luar negeri? Sebelum mendaftar, jajaki simak 5 universitas terbaik di dunia berikut. Siapa tahu satu di antaranya ialah kampus idaman Anda.

Massachusetts Institute of Technology (MIT)

MIT adalahsalah satu universitas terbaik di dunia yang menyandang predikat sebagai universitas dengan tingkat kegiatan riset tertinggi. QS World University Rangking bahkan menyerahkan nilai maksimal pada semua kelompok termasuk fasilitas, inovasi, dan penelitian. Oh iya, bila Anda hendak mengambil jurusan kuliah laksana kimia, sains komputer, atau arsitektur, MIT menjadi perguruan tinggi terbaik guna mata latihan tersebut.

Lalu bagaimana teknik menjadi mahasiswa S1 di MIT? Dibanding memberatkan poin nilai, MIT malah menitikberatkan kualitas personal serta esai yang diciptakan oleh calon mahasiswa. Salah satu pertanyaan yang dikemukakan untuk esai ialah We know you lead a busy life, full of activities, many of which are required of you. Tell us about something you do simply for the pleasure of it. Adapun persyaratan beda yang mesti dilengkapi dapat Anda baca di mitadmissions.org/apply/international/intltests.

Stanford University

Stanford University adalahsalah satu kampus terbesar yang bertahan di posisi ke dua sebagai universitas terbaik di dunia versi QS World University Rankings. Universitas yang berada di area Silicon Valley ini berhasil menghasilkan tidak sedikit periset andal dan pengusaha teknologi yang mempunyai pengaruh powerful di era sekarang, sebut saja Sergey Brin yang adalahsalah satu pendiri Google.

Nah, hendak melanjutkan kuliah S2 di Stanford University? Tenang, urusan itu bukanlah sesuatu yang mustahil, lho. Meski ongkos kuliah di Stanford University terbilang mahal, untuk Anda pemburu beasiswa silakan susunan program beasiswa Knight-Hennessy. Tertarik? Keterangan lebih lengkap dapat dilihat di website resmi Knight-Hennessy.

Harvard University

Siapa yang tak kenal Mark Zuckerberg? Ya, pendiri Facebook tersebut merupakan lulusan Harvard University. Harvard University sendiri adalahsalah satu universitas terbaik di dunia yang sedang di urutan ke 3. Perguruan tinggi ini meraih peringkat tertinggi guna prodi bisnis dan manajemen, akuntansi dan keuangan, serta ilmu hukum. Banyak alumni Harvard University yang mendapat penghargaan dunia laksana nobel, Academy Award, dan Pulitzer.

Bagi yang hendak mendapatkan peluang kuliah S2 di Harvard University, Anda dapat mewujudkannya dengan teknik mendaftar program LPDP yang disediakan pemerintah Indonesia atau langsung ke program beasiswa yang disediakan oleh Harvard University.

California Institute of Technology

Di samping MIT, California Institute of Technology (Caltech) pun menjadi di antara kampus penelitian terkemuka di Amerika Serikat. Universitas ini mempunyai reputasi yang baik guna prodi kiat dan teknologi dan ilmu alam. Berada di posisi ke 4 sebagai universitas terbaik di dunia, Caltech menemukan nilai terbaik menurut subjek, fakultas, dan kutipan jurnal ilmiah.

Tertarik kuliah S1 atau S2 di Caltech? Langkah kesatu, Anda dapat membaca prosedur pencatatan dari setiap jenjang di situs resmi Caltech. Urusan biaya, Caltech menawarkan program pertolongan keuangan (financial aid) untuk Anda yang hendak kuliah cuma-cuma di Caltech.

University of Cambridge

Berdasarkan QS World University Rangking, University of Cambridge menjadi satu-satunya universitas asal Inggris yang masuk ke susunan 5 universitas terbaik di dunia sekaligus menjadi perguruan tinggi yang menduduki urutan teratas dalam peringkat universitas terbaik di Inggris sekitar 7 tahun berturut-turut. Di samping itu, kampus Stephen Hawking ini pun pernah meraih 90 penghargaan nobel, terhitung lebih tidak sedikit ketimbang kampus beda di dunia.

Nah, untuk Anda yang hendak mendapatkan beasiswa S1 di kampus ini, coba susunan Jardine Scholarship. Sedangkan untuk yang hendak memperoleh beasiswa S2 dan S3 di University of Cambridge, Anda dapat daftar di Gates Cambridge Scholarship. Bagi informasi lebih menyeluruh silakan kunjungi setiap website yang resmi.

Setelah menggali tahu susunan universitas terbaik di dunia dan memutuskan pilihan, sekarang saatnya kita mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya impian Anda dapat terwujud. Nah, selamat belajar, semoga berhasil!

http://forum.gamexp.ru/externalredirect.php?url=https://www.pelajaran.co.id

Saling Support Tingkatkan Pendidikan

Saling Support Tingkatkan Pendidikan

Saling Support Tingkatkan Pendidikan
Saling Support Tingkatkan Pendidikan

Sebagai lembaga pendidikan, STEI Tazkia tak hentinya membangun dan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak. Terbaru, mere­ka menandatangani kerja sa­ma dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, kemarin (23/7).

Kerja sama tersebut langsung ditandatangani Gubernur Kalimantan Utara

(Kaltara), Irianto Lambrie dan Rektor STEI Tazkia, Murniati Mukhlisin, serta disaksikan Ketua Pembina Yayasan Tazkia Cendekia, Mu­ham­mad Syafi’i Antonio.

Murniati mengatakan, kerja sa­ma mereka meliputi bidang penelitian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia berharap, dengan adanya kerja sama tersebut, bisa saling mendukung dan pengembangan masing-masing lembaga, baik itu STEI Tazkia maupun Pro­vinsi Kalimantan Utara.

“Terpenting, dapat membantu pengembangan masyarakat di Kalimantan Utara

sesuai dengan kemampuan yang dimiliki STEI Tazkia. Terapkan nilai-nilai strategis yang ada dikampus STEI Tazkia,” katanya kepada Radar Bogor.

Menambahkan, Ketua Pem­bina Yayasan Tazkia Cendekia, Muhammad Syafi’i Antonio mengatakan, kerja sama sudah dilakukan dengan banyak pemerintah daerah. Kali ini dilakukan dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara.

Ia berharap, melalui kerja sama ini, masyarakat nantinya bisa lebih trampil

dengan pendidi­kan yang berkualitas. Bisa me­­man­­faatkan apa yang mere­ka miliki, baik sumber daya alam maupun manusia (SDM).

Sementara itu, Gubernur Kali­mantan Utara, Irianto Lam­brie menuturkan, kerja sama seba­gai bentuk komitmen Peme­rintah Kalimantan Utara untuk pengembangan SDM ditunjuk­kan dengan banyak­nya kerja sama dalam dan luar negeri. Dengan mem­berikan beasiswa putra-putri daerah demi meng­embangkan potensi daerah Kalimantan Utara

 

Baca Juga :

Keren, 3.626 Mahasiswa Baru IPB Pecahkan Rekor Dunia

Keren, 3.626 Mahasiswa Baru IPB Pecahkan Rekor Dunia

Keren, 3.626 Mahasiswa Baru IPB Pecahkan Rekor Dunia
Keren, 3.626 Mahasiswa Baru IPB Pecahkan Rekor Dunia

Institut Pertanian Bogor (IPB), kembali bikin bangga masyarakat Indonesia. Kali ini, sebanyak 3.626 mahasiswa baru IPB University memecahkan rekor dunia Record Holders Republic (RHR) dengan penampilan Lenticular People Formation di lapangan Gymnasium IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/8/2019).

Rektor IPB University, Dr Arif Satria menyebutkan bahwa sebanyak 3.626

mahasiswa baru pada Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) IPB University 2019 ini berhasil menghasilkan Lenticular Picture sebanyak 112 gambar dari 56 formasi.

“Ini ada 56 formasi sesuai dengan nomor angkatan. Keren sekali formasi menunjukkan dua gambar, tahun lalu satu formasi satu gambar,” ujarnya seperti dikutif dari Antara, Sabtu (10/8/2019).

Mantan Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB ini mengatakan, para

mahasiswa baru yang terlibat penampilan Lenticular Picture berwarna merah, biru, dan putih itu tidak membutuhkan waktu untuk persiapan, melainkan hanya berupa simulasi beberapa kali menjelang tampil. “Panitia yang merancang ini semua, luar biasa saya kagum. Karena ketika menggerakkan 3.626 orang itu tidak mudah,” kata Arif Satria.

Menurut dia, disamping menghasilkan penampilan yang elok dipandang,

kegiatan tersebut juga berfungsi melatih keterampilan para mahasiswa baru. Mulai dari keterampian kerja sama, keterampilan mengambil keputusan, hingga keterampilan berkomunikasi.

Sementara itu, Vice President Record Holders Republic (RHR) Indonesia Halim Sugiarto mengatakan, penghargaan berupa rekor dunia itu diberikan kepada para mahasiswa baru lantaran belum ada kelompok yang menampilkan Lenticular Picture sebanyak 112 gambar.

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/

Rotasi Guru Sesuai Zonasi

Rotasi Guru Sesuai Zonasi

Rotasi Guru Sesuai Zonasi
Rotasi Guru Sesuai Zonasi

Setelah menerapkan sistem zonasi di setiap jenjang pendidikan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019, Menteri Pendidikan dan Kebu­­dayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menegaskan bahwa akan melakukan sistem yang sama untuk merotasi guru.

”Enggak sampai kota atau provinsi lain. Nanti kita lihat dulu, kecuali ter­paksa.

Semen­­tara rotasi ha­nya dalam zona saja. Maka saya minta guru tidak usah khawatir ka­lau jauh,” kata Muha­­djir saat ber­­kunjung di SMPN 10 Sura­karta, Ka­mis (1/8).

Ren­cana­nya, rotasi guru mulai diterapkan tahun depan. Namun di beberapa daerah, kata Muhadjir, rotasi sudah mulai dilakukan. ”Di Solo malah rotasi guru sudah mulai dilaksanakan sejak beberapa tahun yang lalu. Padahal kita baru mau menerapkan itu setelah ini,” ujarnya.

Dia memperkirakan rotasi akan dilakukan setiap enam tahun sekali untuk

tingkat SD. Sedangkan jenjang SMP, SMA, dan SMK dilakukan empat tahun sekali.

”Kalau guru SD kan guru kelas. Desain kurikulum SD itu guru mengajar mulai kelas 1 sampai mengantar anak tamat kelas 6. Kalau guru SMP, SMA, SMK kan bukan guru kelas tapi pegang mata pelajaran,” katanya.

Mendikbud mengatakan, regulasi terkait zonasi akan diperkuat menjadi perpres.

Di dalamnya termasuk aturan tentang rotasi guru.

”Zonasi dalam waktu dekat akan diatur dalam perpres, jadi tidak cukup peraturan menteri, termasuk di dalamnya mengatur redistribusi dan relokasi guru dalam rangka pemerataan guru,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://www.sudoway.id/

20 Mahasiswa Asal Asia dan Eropa Belajar Manajemen Ketahanan Pangan di IPB University

20 Mahasiswa Asal Asia dan Eropa Belajar Manajemen Ketahanan Pangan di IPB University

20 Mahasiswa Asal Asia dan Eropa Belajar Manajemen Ketahanan Pangan di IPB University
20 Mahasiswa Asal Asia dan Eropa Belajar Manajemen Ketahanan Pangan di IPB University

Dalam rangka menjaga ketersediaan dan ketahanan pangan di Indonesia, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University menyelenggarakan summer course dengan nama “Sustainable Agrifood Management in Indonesia.” Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 18 Agustus sampai 28 Agustus 2019.

Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Sistem Informasi, IPB University, Prof Dr Ir Dodik Ridho Nurrochmat menyampaikan selama kegiatan summer course ini para peserta dapat belajar dan berdiskusi mengenai pengalamannya di bidang pangan.

“Di Indonesia, peserta tidak hanya belajar aspek sains tapi juga dapat belajar

mengenai tradisi dan budaya masyarakat Indonesia, terutama di Bogor,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk mengenal budaya masyarakat Bogor, para peserta dapat mengunjungi tempat-tempat wisata di Bogor seperti Kebun Raya Bogor, Taman Safari Bogor maupun puncak Bogor.

Peserta summer course tahun ini sebanyak 20 orang yang berasal dari Jepang, Kamboja, Vietnam, Singapura, Jerman, Thailand, India dan Malaysia. Selama kegiatan summer course ini, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan seperti presentasi makalah, seminar, field trip, dan perlombaan. Kegiatan field trip akan dilaksanakan di beberapa tempat seperti Agatho Organic Farm, Lembaga Pengkajian Panga, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dan Kantor Food and Agriculture Organization (FAO) Indonesia.

Salah satu peserta SAMI 2019, Kun Rithy dari Kamboja merasa sangat senang

dengan kegiatan ini.

“Ini sangat spesial bagi saya, saya merasa, selain merasakan summer program saya juga bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara untuk berkomunikasi dan belajar mengenai food agriculture management,” ungkapnya.

Peserta yang baru pertama kali datang ke Indonesia itu berharap dengan

mengikuti summer course ini ia dapat belajar mengenai pertanian khususnya manajemen pertanian di Indonesia, sehingga setelah selesai program dapat berbagi pengalaman kepada masyarakat di negaranya.

“Sepulangnya saya dari Indonesia, saya akan berbagi pengalaman dengan orang-orang di negara saya, dan saya berharap saya bisa menerapkan materi yang saya dapatkan selama kegiatan summer course ini,” pungkasnya

 

Baca Juga :

Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University

Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University

Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University
Peneliti Asal Korea ini Jelaskan Hasil Studinya Tentang Primata Bonobo di Departemen Biologi IPB University

Bonobo merupakan salah satu primata besar yang berkerabat dekat dengan simpanse. Primata ini menjadi menarik untuk diteliti karena dapat digunakan untuk mempelajari aspek kehidupan makhluk hidup lainnya, salah satunya adalah tentang terjadinya penuaan atau aging suatu spesies.

Pemaparan tentang Bonobo disampaikan oleh Heungjin Ryu, PhD dari Primate Research Institute, Kyoto University, Jepang saat memberikan kuliah tamu di Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), IPB University, di Kampus Dramaga, Bogor (16/08).

“Kita sering mendengar pendapat tentang satu tahun hidup anjing adalah sepuluh tahun hidup manusia. Jika itu benar, pendapat tersebut tidak dapat diterapkan pada Bonobo yang dalam kehidupan liarnya bisa hidup hingga lima puluh tahun,” tutur Heungjin dalam presentasinya. Ia juga menjelaskan melalui perbandingan terjadinya penuaan pada organ mata Bonobo dengan organ mata manusia, pendapat tersebut tidak benar. Dua tahun hidup manusia tidak sebanding dengan satu tahun hidup Bonobo.

Menurut Heungjin, jarak antara tangan ke mata Bonobo berubah seiring

bertambahnya usia. Heungjin pun menunjukkan gambar saat menunjukkan gambar dua ekor Bonobo berumur dua puluh tujuh tahun dan empat puluh lima tahun yang sedang mencari kutu dengan jarak tangan ke mata terpanjang dimiliki oleh Bonobo berumur empat puluh lima tahun.

Lebih lanjut Heungjin menjelaskan bahwa penglihatan jauh manusia berkembang pesat saat manusia mencapai usia empat puluh tahun. Rata-rata manusia pada usia empat puluh lima tahun membutuhkan sekitar dua puluh centimeter untuk mendapatkan fokus yang jelas pada suatu objek (jarak fokus terdekat). Pada saat manusia mencapai usia lima puluh tahun, jarak fokus terdekat menjadi empat puluh centimeter.

“Studi saya menemukan bahwa perubahan tergantung pada usia dalam jarak

fokus terdekat. Baik Bonobo maupun manusia tidak memiliki perbedaan dalam hal tersebut, sehingga data ini belum bisa memberikan perbedaan umur panjang antara kedua spesies ini,” tangkas Heungjin dalam pemaparannya.

Lebih lanjut Heungjin menjelaskan meskipun digunakan lebih banyak data tentang penuaan di bagian organ tubuh yang lain, tidak ada banyak perbedaan dalam penuaan bagian organ tubuh lainnya. Sebagai contoh, simpanse betina di alam liar biasanya berhenti bereproduksi pada umur lima puluh tahun yang hampir sama dengan manusia perempuan.

Pada akhir presentasi Heungjin memberikan kesimpulan bahwa mempelajari

primata dapat membantu untuk memahami manusia dengan lebih baik. Contohnya evolusi sistem penuaan dan sistem kawin makhluk hidup. Kecepatan penuaan dari berbagai spesies mencerminkan sistem perkawinan mereka yang merupakan salah satu bentuk adaptasi makhluk hidup terhadap seleksi alam.

“Saat ini primata liar sangat terancam dan kita perlu lebih banyak upaya pelestarian dan konservasi agar manfaatnya dapat terus dirasakan,” tutup Heungjin kepada peserta guest lecturer yang berasal dari kalangan dosen dan mahasiswa sarjana serta pascasarjana IPB University.

 

Sumber :

https://www.kaskus.co.id/thread/5d6d8687337f93427b5fb01e/

Jabar Gelontorkan Rp50 M Beasiswa JFL

Jabar Gelontorkan Rp50 M Beasiswa JFL

Jabar Gelontorkan Rp50 M Beasiswa JFL
Jabar Gelontorkan Rp50 M Beasiswa JFL

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat mulai membuka pendaftaran beasiswa Jabar Future Leader (JFL) tahun 2019, kemarin. Dan akan berakhir pada 8 September mendatang. Untuk program JFL ini, Pemprov Jabar mengalokasikan anggaran Rp50 miliar.

Plh. Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Daud Ahmad mengatakan, program beasiswa JFL 2019 ini dipersembahkan bagi masyarakat Jawa Barat yang sedang menem­puh pendidikan jenjang S1, S2, dan S3. ”Untuk tahap sekarang anggarannya Rp50 miliar. Nanti kan akan ada beasiswa setiap tahun, nah untuk tahun 2019 ini jumlahnya Rp50 miliar,” ujar Daud usai acara Jabar Punya Informasi (Japri), Senin.

Daud berharap, penerima beasiswa tersebut nantinya bisa terjun untuk

membantu prioritas program-program pembangunan di Jabar. Setiap mahasiswa, nantinya menerima manfaat bantuan biaya pendidikan serta program pembinaan dan pendampingan.

Beasiswa JFL sendiri terbagi menjadi dua kategori, yakni beasiswa prestasi akademis dan beasiswa prestasi non-akademis.

”Yang S1 itu dapat pembiayaan full, jadi 4 tahun mereka dibiayai sekolahnya ada juga living cost. Kalau S2 hanya biaya pendidikan dan yang S3 juga sama, itu bantuan sifatnya,” paparnya. Adapun kuota penerima beasiswa prestasi akademis, kata dia, yakni sebanyak 1.312 mahasiswa.

Untuk beasiswa pendidikan penuh jenjang S1 sebanyak 705 mahasiswa,

beasiswa pendidikan penuh jenjang S2 sebanyak 157 mahasiswa. Sedangkan beasiswa bantuan biaya pendidikan jenjang S3 adalah 50 mahasiswa dan beasiswa percepatan akses pendidikan tinggi jenjang S1 sebanyak 400 mahasiswa. Sementara menurut Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar Dewi Sartika, untuk beasiswa pendidikan penuh jenjang S1, S2, dan beasiswa bantuan biaya pendidikan jenjang S3 diperuntukkan untuk mahasiswa baru yang diterima di sepuluh universitas.

Perguruan tinggi tersebut, telah terakreditasi A dan telah bekerja sama dengan

Pemprov Jabar. Ke-10 universitas terse­but, yakni Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Univer­sitas Indonesia, Universitas Padja­jaran, Univer­sitas Pendi­dikan Indonesia, Uni­versitas Pasun­dan, Univer­sitas Islam Bandung, Universitas Telkom, Universitas Parahya­ngan, dan Universitas Presiden.

Khusus untuk beasiswa bantuan biaya pendidikan jenjang S3, ada satu tambahan universitas yang bisa me­ngikuti. kategori beasiswa terse­but, yakni mahasiswa UIN Sunan Gu­nung Djati Ban­­dung. Pen­daftaran bea­siswa JFL 2019 ini dapat dila­kukan di laman resmi Dis­dik Jabar beasiswa jfl.disdik.jabarprov.go.id.(ran/mtr)

 

Sumber :

https://jilbabbayi.co.id/sejarah-kerajaan-samudera-pasai/