Organisasi Sertifikasi

Organisasi  Sertifikasi

Organisasi Sertifikasi
Organisasi Sertifikasi

World Organization of Webmasters

Certified Internet Web Master (CIW)

Bagi mereka yang ahli di bidang Internat, maka bias mendapatkan sertifikasi yang dikeluarkan oleh CIW. Jalur sertifikasinya sangat beragam mulai sertifikasi untuk pemula sampai master. Selain itu, CIW juga menyediakan beberapa pilihans ertifikasi khusus, seperti CIW Security Analist dan CIW Web Developer.

  • CIW Associates merupakan sertifikasi paling dasar yang menguji  penguasaan dasar teknologi Internet, seperti Web browser, FTP dan e-mail, Web page authoring menggunakan XHTML, dasar-dasar infrastuktur jaringan, dan manajemen proyek. Sertifikasi ini ditujukan bagi mereka yang bekerja sebagai business development, advertising, dan sales.
  • CIW Profesional merupakan sertifikasi yang dapat diperoleh jika sudah bias melewati ujian CIW Associate dan salah satu spesialisasi yang dari empat jalur yang tersedia tersebut.
  • CIW Master merupakan sertifikasi yang paling tinggi. Untuk menjadi mendapat gelar master terdapat empat pilihan jalur spesialisasi, yaitu Master CIW Designer, Master CIW Administrator, Master CIW Web Site Manager, dan Master CIW Enterprise Develper. Masing-masing jalur memiliki pilihan spesialisasi yang harus ditempuh.

World Organization of Webmasters (WOW)

Sertifkasi yang dikeluarkan WOW memiliki jenjang, yaitu jenjang dasar dan jenjang yang lebih tinggi. Jenjang dasar terdiri dari WOW Certified Apprentice Webmaster (CAW), WOW Certified Web Designer Apprentice (CWDSA), WOW Certified Web Developer Apprentice (CWDVA), dan WOW Certified Web Administrator Apprentice (CWAA). Jenjang yang lebih tinggi adalah WOW Certified Professional Webmaster (CPW). Sertifikasi dari WOW ini dapat Anda peroleh dengan mengikuti ujian yang diselenggarakan oleh WOW.

  • CAW adalah sertifikasi yang ditujukan kepada mereka yang dianggap memiliki pengetahuan dasar mengenai Internet dapat membuat layout halaman Web, membuat content yang kaya dan nyaman, membuat dan memanipulasi image.
  • CWDSA lebih ditujukan bagi para calon Web Designer. Pada pilihan ini kandidat diharapkan menguasai seni mendesain Web agar lebih artistik dan menarik.
  • CWDVA ditujukan bagi para pengembang Web yang lebih banyak berurusan dengan struktur dan interaksi dalam menciptakan situs Web.
  • CWAA lebih banyak ditujukan kepada mereka yang  berkecimpung dengan infrastruktur software dan hardware yang mendukung komunikasi Internet.
  • CPW adalah sertikasi yang dapat langsung diraih secara otomatis, jika kandidat berhasil memperoleh empat sertifikasi pada tingkat Apprentice.

.

Australian Computer Society Certification Scheme

ACS dibentuk pada tahun 1965 dan merupakan satu-satunya himpunan TI di Australia. Materi yang diujikan pada sistem sertifikasi ini terdiri dari 2 subjek utama trend TI, legal bisinis, issue etik, dan Spesialis dalam area Project Manajement, Applications Planning, System Integration, dan Data Communication. Model sertifikasi ACS ini memiliki kesesuaian dengan model SRIG-PS yaitu : Data Communication Specialists dan System Integration Specialist. ACS merencanakan untuk mengembangkan sertifikasi untuk Security Specialist.

Pada pelaksanaan ujian digunakan ujian tertulis, multiple choice, pekerjaan proyek dan wawancara. Para peserta ujian harus memiliki gelar dalam bidang komputer dan memiliki pengalaman praktis minimal 4 tahun.Sertifikasi ini dikenal di Australia, karena dilaksanakan oleh ACS yang merupakan wadah Profesional TI di Australia. Pada saat ini sekitar 420 calon peserta ujian. Beberapa Universitas di Australia memberikan kredit bagi subjek sertifikasi ini. Materi dan silabus tersedia untuk setiap subyek, yang terdiri dari, outline, buku bacaan, buku teks, dan video. Seluruh materi ini dikembangkan oleh para praktisi TI Australia yang terkemuka.

 

ACS Certification System ini ditawarkan melalui proses belajar

jarak jauh melalui Deakin University. Pusat-pusat ujian tersebar di negara-negara anggota SEARCC seperti: Auckland, Hong Kong, Jakarta, Johor Baru, Kelantan Kota Kinibalu, Kuala Lumpur, Penang, Singapore, Wellington. Biaya untuk mengikuti pelatihan dan ujian ACS ini sekitar $400.00. Setiap pemegang sertifikat wajib mengikuti re-sertifikasi setelah 5 tahun. Hal ini dapat dilakukan dengan duduk mengikuti ujian ulang atau dengan mengikuti 30 jam profesional development, melalui Practising Computer Profesional Scheme.

Sumber : https://linda134.student.unidar.ac.id/2019/07/contoh-teks-eksplanasi-tentang-sampah.html

Pendaftaran Online Tutup Pukul 23.59, Sesi Akhir Pemenuhan Pagu

Pendaftaran Online Tutup Pukul 23.59, Sesi Akhir Pemenuhan Pagu

Pendaftaran Online Tutup Pukul 23.59, Sesi Akhir Pemenuhan Pagu
Pendaftaran Online Tutup Pukul 23.59, Sesi Akhir Pemenuhan Pagu

Para siswa yang ingin bersekolah di jenjang SMA/SMK negeri masih punya kesempatan. Sebab, panitia penerimaan peserta didik baru (PPDB) Jawa Timur masih membuka pendaftaran pemenuhan pagu hingga hari ini pukul 23.59. Pemenuhan pagu itu dibuka untuk beberapa sekolah. Di Surabaya, ada 9 SMA dan 2 SMK yang membuka pemenuhan pagu. Dari jumlah itu, hanya SMKN 12 yang belum terpenuhi.

Persaingan selama pemenuhan pagu terbilang ketat. Di SMAN 8, salah satunya. Dari dua kursi yang dibuka dalam pemenuhan pagu, pendaftarnya mencapai 69 siswa di pilihan pertama. Hal yang sama terjadi di SMAN 19. Sebanyak 76 siswa mendaftar di pilihan pertama untuk berebut dua kursi yang tersedia.

Di jenjang SMKN, ada dua SMKN yang membuka pemenuhan pagu. Yakni, SMKN 12 dan SMKN 5. SMKN 5 membuka pemenuhan pagu untuk lima jurusan. Total ada sembilan bangku yang perlu diisi. Hasilnya, para siswa memang berebut untuk mendapatkan bangku tersebut. Jurusan yang paling banyak peminatnya adalah teknik audio video. Peminatnya mencapai 40 siswa. Padahal, pagu yang dipenuhi hanya dua kursi.

Adapun SMKN 12 membuka pemenuhan pagu untuk 16 jurusan. Paling banyak

yang butuh dipenuhi adalah seni pedalangan. Kuota pemenuhan pagu mencapai 24 kursi. Sedangkan peminatnya hanya satu orang. Ada juga jurusan seni tari dan karawitan yang masih terbuka peluang.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman menyatakan, meski pada sesi akhir pemenuhan pagu tidak terpenuhi, jadwal pemenuhan pagu tetap ditutup. Pihaknya memang melayani pemenuhan pagu untuk sekolah atau jurusan yang memang belum penuh. Termasuk yang hanya kurang satu atau dua siswa. ”Karena kita pelayanan publik,” tuturnya.

Selain di SMKN 12, masih ada bangku yang belum penuh. Yakni, di wilayah

Madura. Mindset masyarakat tentang pendidikan di kawasan itu perlu lebih dibuka. Sebab, masih ada yang beranggapan sekolah hanya cukup sampai SMP.

Terkait pagu yang belum penuh itu, masih dibuka pendaftaran hingga hari ini. Mantan kepala Badan Diklat Jatim itu mengatakan, terkait pagu yang belum penuh tersebut, tentu akan ada evaluasi. Baik SMK maupun SMA akan direvitalisasi. ”Terutama di wilayah yang daerah atau penduduknya memang harus benar-benar didorong,” ujarnya. Dengan begitu, indeks pembangunan manusia (IPM) di Jawa Timur juga bisa meningkat.

Terkait siswa baru, pada tahun pelajaran baru ini, pihaknya akan

mendistribusikan seragam. Jumlahnya dua setel per siswa. Seragam itu akan dibagikan untuk seluruh siswa di kelas X. Setidaknya, ada 440 ribu seragam yang akan dibagikan. Seragam itu terdiri atas seragam putih abu-abu dan pramuka. Dia menargetkan, seragam berupa kain itu tuntas dibagikan akhir Juli. Jika siswa sudah telanjur mendapatkan seragam, itu tidak jadi masalah. ”Memang agak telat karena kontraknya mundur,” katanya.

 

Baca Juga :

 

 

Siswa Gagal Masuk Sekolah Negeri? Nih Solusi Kemendikbud

Siswa Gagal Masuk Sekolah Negeri? Nih Solusi Kemendikbud

Siswa Gagal Masuk Sekolah Negeri Nih Solusi Kemendikbud
Siswa Gagal Masuk Sekolah Negeri Nih Solusi Kemendikbud

Persaingan untuk dapat lolos sekolah negeri melalui Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) begitu ketat. Hal ini membuat siswa dan orang tua harap-harap cemas. Apalagi sejumlah kota dan kabupaten memiliki daya tampung sekolah negeri yang tidak sesuai dengan jumlah siswa yang ada di daerah tersebut. Ini tentu berakibat banyak siswa yang terpaksa harus masuk ke sekolah swasta atau lompat pagar ke kota lain.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun menerapkan sistem zonasi. Sehingga siswa dalam radius tertentu diutamakan untuk masuk sekolah di dalam zona tersebut. Namun tetap saja tak seluruh siswa tertampung di zona itu. Padahal Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan seluruh warga Indonesia memiliki hak memeroleh pendidikan yang sama.

“Zonasi itu dibatasi dengan radius atau jarak. Awalnya kami sepakati di peraturan itu SD itu radius 3 kilometer, SMP 6 kilometer, dan SMA 9 kilometer. Namun ternyata itu tak bisa diseragamkan, karena kepala dinas di masing-masing daerah bilang topografi wilayah mereka berbeda, bagaimana yang di dusun atau pulau. Akhirnya kami serahkan pada masing-masing daerah,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad dalam konferensi pers, Selasa (11/7).
Siswa Gagal Masuk Sekolah Negeri? Nih Solusi Kemendikbud
Ilustrasi (Dok JawaPos.com)

Hamid menegaskan pada pinsipnya, anak-anak di dalam zona itu harus dimaksimalkan agar bisa mendapat pelayanan pendidikan. Persoalan daya tampung, kata dia, memang selalu terjadi di perkotaan dengan angka migrasi yang tinggi. Dia menyebutkan wilayah Depok, Bekasi dan Tangerang selalu mengalami masalah daya tampung sekolah.

“Kota Bekasi itu lulusan SD 42 ribu. Yang daftar ke SMP negeri 24 ribu, tapi daya

tampung hanya 15 ribu siswa. Otomatis sisanya mau ke mana? Swasta juga kan ada biaya lain-lain, kalau orang tua yang mampu bayar swasta tak usah bingung. Banyak kualitas sekolah swasta yang unggul,” ungkapnya.

Namun bagi orang tua yang tak mampu membiayai anak ke sekolah swasta, Kemendikbud mendorong setiap pemerintah daerah untuk menggelontorkan APBD bekerja sama dengan swasta untuk menampung siswa jika memang sudah tak tertampung di sekolah negeri.

“Jalan keluar yang kami sarankan kerja sama dengan sekolah swasta. Sekolah

swasta kan juga harus dapat siswa kan. Biaya swasta bisa dibebankan pada APBD, ini yang kami dorong. Memang ini bertahap. Kota seperti Bekasi, Depok, dan Batam sering terjadi masalah ini,” jelasnya.

Hamid menambahkan, dengan sistem zonasi, pihaknya akan mengevaluasi

dengan Kepala Dinas Pendidikan di daerah terkait daftar sekolah mana yang akan dibantu untuk lebih berkualitas. Dari segi sumber daya yakni penyebaran guru serta sarana fisik.

“Dengan begitu, sistem zonasi akan terpola menjadi lebih baik,” tuturnya.

 

Sumber :

https://www.thecontentscoop.com/technology-reshaping-indonesian-education/

RI-Swiss Majukan Pendidikan Vokasi, Apa Saja Komitmennya?

RI-Swiss Majukan Pendidikan Vokasi, Apa Saja Komitmennya?

RI-Swiss Majukan Pendidikan Vokasi, Apa Saja Komitmennya
RI-Swiss Majukan Pendidikan Vokasi, Apa Saja Komitmennya

Negara Swiss dan Indonesia siap untuk memajukan, memperkuat, dan memberlakukan berbagai terobosan dalam pengembangan pendidikan vokasi. Kesepakatan itu dituangkan dalam kunjungan Anggota Dewan Federal dan Menteri Urusan Ekonomi, Pendidikan dan Riset Swiss, Johann Schneider-Ammann.

Delegasi Swiss bersama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas meluncurkan Strategi Kerja Sama Swiss-Indonesia 2017-2020 di bidang pembangunan ekonomi dan inovasi melalui techno parks dan sains.

Strategi empat tahun ke depan tersebut menjelaskan komitmen hibah pemerintah Swiss dalam rangka mendukung perbaikan pelayanan publik dan pengembangan sektor swasta di Indonesia. Swiss memiliki sejarah kerja sama yang panjang dengan Indonesia, dimulai semenjak awal 1970an. Dari tahun 2009, Indonesia menjadi mitra prioritas bagi Swiss dalam program kerja sama ekonomi dan pembangunan.

Saat ini, Swiss mendukung sekitar 40 proyek dukungan teknis di Indonesia dalam rangka membantu menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan akses terhadap jasa keuangan, memperkuat perdagangan berkelanjutan, dan mendukung pembangunan infrastruktur.

“Selama 8 tahun perjalanan kerja sama Swiss-Indonesia di bidang pembangunan ekonomi, telah kita saksikan berbagai keberhasilan yang luar biasa. Pemerintah Swiss berkomitmen untuk melanjutkan dan terus memperbaiki dukungan teknis yang tengah berjalan di Indonesia. Salah satunya di dunia pendidikan,” tegas Dewan Federal Johann Schneider-Ammann, Jumat (14/7).

Untuk periode 2017 hingga 2020, Swiss mencanangkan tambahan hibah sebesar

USD 75 juta dolar guna mendukung prioritas strategis pembangunan ekonomi Indonesia. “Berdasarkan permintaan Pemerintah Indonesia, Swiss bermaksud meningkatkan dukungan di beberapa bidang keahlian Swiss, antara lain pariwisata berkelanjutan dan pendidikan dan pelatihan vokasi,” jelasnya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menjelaskan pemerintah Indonesia memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pemerintah Swiss atas dukungannya.

Menurutnya beberapa tantangan utama di Indonesia yang dihadapi termasuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pemerataan ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan, memperbaiki akses terhadap jasa keuangan, serta meningkatkan keterampilan tenaga kerja dan daya saing sektor swasta.

Bambang menjelaskan Indonesia telah mencapai kemajuan besar dalam

memperbaiki akses infrastruktur, memperkuat manajemen keuangan publik, dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. Dengan memperoleh kembali peringkat investment grade, Indonesia membuktikan bahwa tersedia kesempatan bisnis yang luas di berbagai bidang strategis seperti infrastruktur, teknologi medis, pengolahan makanan, barang konsumen, dan teknologi informasi dan komunikasi.

“Kami memang sudah punya pendidikan vokasi enggak terpaku hanya di

Diploma dan politeknik tetapi juga SMK atau kejuruan. Namun daya serap lulusan SMK tak terlalu bagus dibanding SMA. Mixmatch ini membuat kita menghadapi tantangan pengangguran. Karena itu tak hanya tambah sekolah tetapi juga peralatan dan upgrade kurikulum pemagangan. Kami perkuat kerja sama di bidang pendidikan vokasi salah satunya,” tandas Bambang.

 

Sumber :

https://www.newscredit.org/gurependikan-com-learning-while-on-the-move/

Peran Kecerdasan Inteligensi dalam belajar

Peran Kecerdasan Inteligensi dalam belajar

Peran Kecerdasan Inteligensi dalam belajar
Peran Kecerdasan Inteligensi dalam belajar

Menurut Nickerson dalam Agus Efendi

diantara pendahulu tes kecerdasan adalah Binet. Hasil tes yang dilakukan oleh Alfred Binet dan koleganya menemukan bahwa peran kecerdasan intelegensi dalam belajar adalah sebagai berikut:

Kecerdasan intelegensi berperan dalam keberhasilan seorang anak

dalam proses belajar di sekolah. Anak dengan kemampuan intelegensi yang rendah akan mengalami kesulitan dalam belajar sebaliknya anak dengan kemampuan intelegensi yang tinggi akan mudah dalam mengikuti proses belajar. Sesuai dengan tujuan awal dari tes intelegensi yang dilakukan oleh Alfred Binet adalah untuk mengetahui siswa yang kemungkinan mengalami kegagalan dalam belajar sehingga mereka perlu mendapatkan perhatian khusus.

Kecerdasan intelegensi berperan sebagai direction.

Menurut Binet direction melibatkan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Sehingga siswa dengan kemapuan inteleginsi yang tinggi dapat dengan cepat mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Ketika guru memberikan suatu tugas tertentu ia dapat dengan cepat mengetahui tindakan apa yang harus ia lakukan.

Kecerdasan sebagai Menurut Binet adaptation mengacu pada upaya membangun strategi untuk melakukan sebuah tugas, lalu berusaha untuk tetap berada dalam strategi tersebut dan mengadaptasinya saat mengimplementasikannya.

Kecerdasan sebagai criticism

Menurut Binet criticism adalah kemampuan untuk mengkritisi pikiran dan tindakan sendiri. Sehingga siswa yang cerdas dapat berpikir kritis dan lebih aktif dalam proses belajar.

Kecerdasan intelegensi berperan dalam memberikan kesempatan belajar

bagi anak yang berasal dari keluarga miskin. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Binet terhadap anak-anak miskin, betapapun pandainya merka, namun mereka tidak pernah diberi kemudahan untuk mendapatkan pendidikan lanjutan. Binet berpikir bahwa lewat tes IQ anak-anak miskin mampu membuktikan mereka lebih cerdas daripada rata-rata anak kebanyakan. Karenanya, seharusnya, mereka bisa memperoleh pendidikan lanjutan, tanpa menghiraukan kedudukan sosial mereka.

Baca Juga :

Faktor Intelektual atau Kecerdasan Intelegensi

Faktor Intelektual atau Kecerdasan Intelegensi

Faktor Intelektual atau Kecerdasan Intelegensi
Faktor Intelektual atau Kecerdasan Intelegensi

Sejarah Pengukuran Kecerdasan

Orang pertama yang berpikir mengenai kemungkinan dilakukannya pengukuran intelegensi atau kecerdasan adalah Galton, sepupu Darwin. Hal yang mendorongnya untuk memiliki pemikiran demikian adalah karena Galton tertarik pada perbedaan-perbedaan individual dan pada hubungan antara hereditas dan kemapuan mental. Menurut Galton, ada dua kualitas umum yang membedakan antara orang yang lebih cerdas (more intelligent) dengan orang yang kurang cerdas (less intelligent), yaitu energi dan sensitivitas. Menurutnya orang yang cerdas itu memiliki tingkat energi yang istimewa dan sensitivitas terhadap rangsangan di sekitarnya. Semakin cerdas seseorang maka semakin sensitif terhadap rangsangan di sekitar kita. Pada tahun 1883, Galton mendirikan sebuah laboratorium antropometrik di London. Di Laboratorium inilah Galton mempelajari mengenai perbedaan-perbedaan individual[1].

Di Amerika Serikat, Cattel adalah

orang pertama yang menggunakan istilah mental test. Pada tahun 1890 Cattel menerbitkan Mental Test and Measurement. Tes Cattel menekankan sensoy and perceptual task. Ia juga sering melibatkan perbedaan visual dan auditif. Oleh karena itu, tidak heran jika tes kecerdasan sekarang menekankan sensasi dan persepsi begitu kuat, sebagaimana yang dilakukan oleh psikologi pada pertengahan abad ke-19, terutama untuk penglihatan. Pada tahun 1891, Boas merupakan orang pertama yang berusaha membedakan skor tes dengan perkiraan subjektif yang independen dari kemapuan pribadi. Ia mengetes penglihatan, pendengaran dan hapalan 1.500 anak. Pada tahun 1892, Jastrow menyelenggarakan tes sensori dan hapalan terhadap 1.200 anak. Ia berusaha menghubungkan hasil-hasil tesnya dengan estimasi guru mereka atas kemampuan umum 1.200 anak tersebut[2].

Sejak awal abad ke 20 inteligensi disamakan dengan Intelligent Quotient (IQ).

Pada tahun 1911, sebagai permintaan dari mentri pendidikan Perancis, Alfred Binet dan Theodore Simon mengembangkan sebuah tes yang mengidentifikasi resiko kegagalan sekolah pada anak. Tes ini bertujuan untuk menentukan siapa siswa yang beresiko mengalami kegagalan, sehingga ia diberi perhatian khusus. Pada tahun 1912, psikolog Jerman Wilhelm Stern mengemukakan tentang Intelligent Quotient atau IQ, yang mewakili rasio usia mental seseorang terhadap usia kronologis seseorang, yang diukur dengan menggunakan tes. Pada tahun 1920 Lewis Terman, seorang ahli psikometri dari Amerika, memperkenalkan Stanford Binet IQ test, merupakan tes pertama yang menggunakan kertas dan pensil, versi tes yang menggunakan kelompok dan teradministrasi dengan baik. Tes inteligensi dengan cepat menjadi bagian standar dari landasan pendidikan di Amerika. Sejak saat itu orang-orang mengidentifikasikan inteligensi dengan pengukuran IQ. Hasil karya awal tentang IQ, khususnya hasil karya Terman memainkan peran yang signifikan dalam pengembangan dua keyakinan umum tentang inteligensi: bahwa inteligensi secara mendasar diwariskan dan secara umum bersifat statis dan tidak dapat dirubah[3].

Definisi Kecerdasan Inteligensi (IQ)

Menurut Mahfudin Shalahudin bahwa intelek adalah akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses berpikir. Selanjutnya dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam tempo yang lebih singkat, memahami masalah lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat[4]. Menurut English & English dalam bukunya ” A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms” dalam Sunarto dan Hartono[5] istilah intellect berarti antara lain :

  1. Kekuataan mental dimana manusia dapat berpikir
  2. Suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir ( misalnya menghubungkan, menimbang, dan memahami)
  3. Kecakapan, terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir

Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, dalam Sunarto dan Hartono istilah intellect berarti[6]:

  1. Kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauan dan perasaan
  2. Kecakapan mental yang besar,sangat intellegence, dan
  3. Pikiran atau inteligensi

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian intelektual yaitu akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan dari proses berpikir, kemampuan untuk melakukan pemikiran yang bersifat abstrak atau tidak bisa di lihat (abstraksi), serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu yang lebih singkat, memahami masalahnya lebih cepat dan cermat serta mampu bertindak cepat.

Istilah inteligensi, semula berasal dari bahasa Latin “intelligere

yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain. Menurut William Stern salah seorang pelopor dalam penelitian inteligensi, mengatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan secara tepat segenap alat-alat bantu dan pikiran guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan-tuntutan baru. Sedangkan Leis Hedison Terman berpendapat bahwa inteligensi adalah kesangupan untuk belajar secara abstrak. Di sini Terman membedakan antara concret ability yangitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat konkrit dan abstract ability yaitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat abstrak. Orang dikatakan inteligent menurut Terman jika orang tersebut mampu berpikir abstrak dengan baik.

Menurut William H Calvin, dalam How Brain Thinks (Bagaimana otak berpikir), Piaget mengatakan, “Intelligence is what you use when you don’t know what to do (Kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan). Sehingga menurut Calvin, seseorang itu dikatakan smart jika ia terampil dalam menemukan jawaban yang benar untuk masalah pilihan hidup[7].

Para ahli psikologi lebih suka memusatkan perhatiannya pada masalah perilaku inteligen (intelligence behavior), daripada membicarakan batasan inteligensi. Mereka beranggapan bahwa inteligensi merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi, sedangkan perilaku inteligen lebih konkret batasan dan ciri-cirinya sehingga lebih mudah untuk dipelajari. Dengan mengidentifikasi ciri dan indikator perilaku inteligen, maka dengan sendirinya definisi inteligensi akan terkandung didalamnya. Diantara ciri-ciri perilaku yang secara tidak langsung telah disepakati sebagai tanda telah dimilikinya inteligensi yang tinggi, antara lain adalah :

  1. Adanya kemapuan untuk memahami dan menyelesaikan problem mental dengan cepat
  2. Kemampuan mengingat
  3. Kreativitas yang tinggi
  4. Imajinasi yang berkembang

Sebaliknya perilaku yang lamban, tidak cepat mengerti, kurang mampu menyelesaikan problem mental yang sederhana, dan semacamnya, dianggap sebagai indikasi tidak dimilikinya inteligensi yang baik[8].

Hagenhan dan Oslo menjelaskan bahwa inteligensi merupakan suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya perhitungan atas kondisi-kondisi yang secara optimal bagi organisme dapat hidup berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Sebagai suatu tindakan, inteligensi selalu cenderung menciptakan kondisi-kondisi yang optimal bagi organisme untuk bertahan hidup dalam kondisi yang ada.

Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat diharapkan dengan tantangan. Dalam pengertian ini kecerdasan terkait dengan kemampuan memahami lingkungan atau alam sekitar, kemampuan penalaran atau berpikir logis, dan sikap bertahan hidup dengan menggunakan sarana dan sumber-sumber yang ada. Sedangkan Henmon mendefinisiakn inteligensi sebagai daya atau kemapuan untuk memahami. Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif.

Sumber : http://neyramand.revolublog.com/contoh-teks-eksplanasi-a165655572

Peran Faktor Intelektual dan Non Intelektual dalam Belajar

Peran Faktor Intelektual dan Non Intelektual dalam Belajar

aktor Intelektual
Faktor Intelektual

Faktor intelektual merupakan

salah satu faktor yang berperan dalam proses pembelajaran. Dengan kemampuan intelektual yang cukup seseorang dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Sebaliknya jika anak tidak memiliki kemampuan intelektual yang memadai atau yang memiliki keterbelakangan mental maka harus mendapatkan perhatian khusus dalam proses belajar mengajar. Anak yang demikian dapat dikatakan tergolong dalam anak yang berkebutuhan khusus.

 

Kemampuan intelektual manusia tersebut tidak lepas dari keberadaan

suatu unsur yang sangat vital dari tubuh manusia yaitu otak. Seperti yang dikemukakan oleh Martinis Yamin bahwa manusia merupakan mahkluk yang istimewa dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Kemampuan belajar dan mengolah informasi pada manusia merupakan ciri penting yang membedakan manusia dari makhluk lain, kemampuan belajar itu memberi manfaat bagi individu dan juga bagi masyarakat untuk menempatkan diri dalam makhluk yang berbudaya, dengan belajar seorang mampu mengubah perilaku, dan membawa pada perubahan individu-individu yang belajar, yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Otak manusia terdiri dari 100 – 200 milyar sel neuron

yang siap memproses trilyun informasi, akan tetapi umumnya 5% bisa memanfaatkan untuk mengakses informasi, hal ini disebabkan saraf di otak tidak terlatih. Kemampuan otak untuk berpikir atau bernalar sangat ditentukan oleh kebiasaan kita melatihnya, ia sama halnya dengan otot yang kita miliki, kelenturan otot disebabkan gerakan yang teratur dan terbiasa. Bagi seorang yang memaksa ototnya bekerja di luar kebiasaan akan terasa pegal dan sakit. Demikian halnya dengan otak, seseorang yang tidak terbiasa membaca buku, koran dan lain sebagainya maka matanya lelah, berair dan ngatuk. Otak manusia berpikir tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kepintaran seseorang, akan tetapi kebiasaan dia memaksimalkan otaknya untuk berpikir dan bernalar. Orang pintar yang tidak terbiasa berpikir dan bernalar tak ubahnya, seperti sebilah pisau yang tajam yang mampu membelah sebuah kaleng, jika terkena air maka lama kelamaan akan tumpul, maka ia membutuhkan perawatan dan pengasahan agar tetap tajam (Martinis Yamin, 2013: 3 – 4).

 

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa perkembangan faktor

intelektual manusia sangat erat kaitannya dengan upaya untuk melatih kemapuan otak. Jika seorang terbiasa memaksimalkan fungsi otaknya maka kemampuan intelektualnya akan berkembang. Perkembangan ini tentu saja tidak terjadi dengan sendirinya melainkan membutuhkan proses latihan yang dilakukan secara berkesinambungan. Dengan demikian, dalam proses belajar sudah seharusnya peran faktor intelektual ini mendapat perhatian dari pendidik agar dapat dikembangkan dengan maksimal.

Namun dari berbagai hasil penelitian diketahui bahwa ternyata bukan hanya faktor intelektual saja yang berpengaruh dalam proses belajar. Ternyata terdapat faktor lainnya yang juga mempengaruhi seseorang dalam proses belajar diantaranya faktor kecerdasan emosi. Seperti yang dikemukakan oleh Ari Ginanjar bahwa faktor emosi memiliki peran yang jauh lebih signifikan dibanding dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang sesungguhnya mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Terbukti banyak orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, terpuruk di tengah persaingan. Sebaliknya banyak yang mempunyai kecerdasarn intelektual biasa-biasa saja, justru sukses menjadi bintang-bintang kinerja; pengusaha sukses; dan pemimpin-pemimpin di berbagai kelompok. Disinilah kecerdasan emosi membuktikan eksistensinya.

Rumusan Masalah

Berdasarkan keterangan pada latar belakang di atas rumusah masalah yang diajukan dalam makalah ini adalah sebagai berkut:

  1. Apa yang dimaksud dengan faktor intelektual (intelegensi)?
  2. Apa peran faktor intelektual dalam belajar?
  3. Apa saja yang tergolong dalam faktor non intelektual?
  4. Apa peran faktor nonintelektual dalam belajar?

Tujuan

Berdasarkan pertanyaan pada rumusan masalah di atas, tujuan penulisan yang diajukan dalam makalah ini adalah sebagai berkut:

  1. Untuk mengatahui apa yang dimaksud dengan faktor intelektual (intelegensi).
  2. Untuk mengatahui apa peran faktor intelektual dalam belajar.
  3. Untuk mengatahui apa saja yang tergolong dalam faktor non intelektual.
  4. Untuk mengatahui apa peran faktor non intelektual dalam belajar.

Sumber : http://watchbrandqui291.eklablog.net/contoh-teks-eksplanasi-disekolah-a165655832

Gelontorkan Rp 3,9 T, Jokowi Bangun UIII, Tampung Mahasiswa Asing

Gelontorkan Rp 3,9 T, Jokowi Bangun UIII, Tampung Mahasiswa Asing

Gelontorkan Rp 3,9 T, Jokowi Bangun UIII, Tampung Mahasiswa Asing
Gelontorkan Rp 3,9 T, Jokowi Bangun UIII, Tampung Mahasiswa Asing

Pada 2022 mendatang Indonesia akan memiliki Universitas Islam Internasional. Pembangunannya akan dimulai pada pertengahan 2018 ini di Cimanggis Depok, Jawa Barat.

Rencana ini dikemukakan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di dalam akun facebook-nya. Bahkan rencana pembangunan perguruan tinggi yang bernama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) itu sudah konkretkan dalam Peraturan Presiden (perpres) yang baru saja diteken Jokowi.

Dikutip dari laman Facebook @Jokowi, sang presiden menuturkan alasan pembangunan UIII tersebut. Hal itu bermula dari pertemuan dengan pemimpin negara Islam di konferensi Organisasi Kerja Sama Islam beberapa waktu lalu. Para pemimpin itu menyarankan Jokowi untuk membangun UIII yang menampung mahasiswa dari Timur Tengah.
Gelontorkan Rp 3,9 T, Jokowi Bangun UIII, Tampung Mahasiswa Asing
Kutipan statemen Presiden Jokowi soal UIII (Facebook/Jokowi)

“Generasi muda Indonesia yang dikirim ke Timur Tengah sebaiknya belajar ekonomi, perdagangan atau perminyakan. Sebaliknya, generasi muda Timur Tengah belajar mengenai Islam ke Indonesia,” kata Jokowi menirukan saran dari pemimpin negara Islam.

Saran itu bak gayung bersambut, Jokowi pun merencanakan pembangunan UIII

yang dimulai pada pertengahan 2018. “Peraturan Presiden pembangunan UIII sudah saya tanda tangani lebih setahun lalu,” tulis Jokowi di laman facebooknya yang dikutip, Mingggu (21/1).

Rencana pembangunan UIII ini benar-benar dikawal mantan Wali Kota Solo itu. Buktinya beberapa hari lalu, mengumpulkan para pembantunya untuk mengetahui sejauh mana progres rencana pembangunan tersebut.

UIII itu akan menempati lahan seluas 143 hektare (ha) yang terletak di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Untuk menjamin kelancaran pembangunannya, pemerintah mengalokasikan anggaran tidak sedikit yakni, Rp 3,9 triliun. Semua itu bersumber dari APBN dan hibah dari negara-negara lain.

“Anggaran pembangunannya total Rp 3,9 triliun yang bersumber dari APBN dan

hibah dari negara-negara lain,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Diterangkannya, UIII dibentuk bukan hanya untuk menjawab kebutuhan domestik, tetapi untuk menjawab kebutuhan masyarakat internasional, serta memperkokoh kepemimpinan Indonesia di dunia internasional, terutama umat Islam internasional.

Bila telah rampung pada tahun 2022, kampus itu akan menonjolkan pengajaran

mengenai peradaban dan ilmu-ilmu Islam yang berkembang di Indonesia. Hal itu dianggap baik oleh negara-negara tetangga, sebagaimana yang mereka sampaikan di pertemuan OKI dulu itu.

 

Baca Juga :

Dukung Gerakan Literasi, Pos Indonesia Kirim 88,4 Ton Buku Gratis

Dukung Gerakan Literasi, Pos Indonesia Kirim 88,4 Ton Buku Gratis

Dukung Gerakan Literasi, Pos Indonesia Kirim 88,4 Ton Buku Gratis
Dukung Gerakan Literasi, Pos Indonesia Kirim 88,4 Ton Buku Gratis

Dukung gerakan literasi di tanah air, PT Pos Indonesia (Persero) sepanjang 2017 telah mengirimkan sebanyak 88,4 ton buku ke seluruh pelosok di Indonesia dengan nilai lebih dari Rp5 miliar.

Pengiriman buku gratis yang dilakukan tanggal 17 setiap bulannya ini di

canangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Mei 2017 saat menerima para penggiat Literasi di Istana Negara.

“Lewat program ini, misi kami terpenuhi yakni menjadi asset yang berguna bagi bangsa dan negara,” ujar Deputy Bisnis E-Commerce Regional 4 Jakarta PT Pos Indonesia Febby Ardino Dengah dalam keteranganya di Jakarta, Kamis (18/1).

Menurutnya, pengiriman buku dalam gerakan literasi juga dilakukan di seluruh kantor pos, tak hanya kantor pos besar dengan biaya nol rupiah alias gratis. Untuk pengiriman pada 17 Januari, Kantor Pos Jakarta Pusat mengirimkan sebanyak 774 paket untuk dibagikan ke 531 Taman Bacaan Masyarakat.

“Jumlah ini masih sangat sedikit. Pos Indonesia masih bisa melakuan lebih baik

lagi. Kebaikan itu menular. Kiriman buku ini sangat bermanfaat sekali. Namun isinya yang luar biasa untuk Indonesia yang lebih baik,” kata Febby.

Pada kesempatan yang sama Dirjen PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Haris Iskandar menyatakan minat baca masyarakat masih sangat rendah dibandingkan dengan negara Amerika.

“Kalau bisa seluruh penerbit buku di Indonesia juga dapat mengirimkan sisa

buku yang masih tersimpan di gudang, ya sekaligus mengurangi beban perusahan sekaligus mencerdaskan dan memajukan kehidupan masyarakat,” ujar Haris.

Haris menyatakan perlu sinergi dengan berbagai pihak, terutama swasta yang tergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

“Kita semua harus begerak. Sinergi ini sangat perlu. Semoga kerjasama ini akan terus berlanjut terus kedepannya,” pungkas Harris.

 

Sumber :

http://tempahwebseo.com/pentingnya-pendidikan-dalam-keluarga-bagi-anak/

Teliti Film Gie, Dosen Ini Raih Gelar Doktor Predikat Sangat Memuaskan

Teliti Film Gie, Dosen Ini Raih Gelar Doktor Predikat Sangat Memuaskan

Teliti Film Gie, Dosen Ini Raih Gelar Doktor Predikat Sangat Memuaskan
Teliti Film Gie, Dosen Ini Raih Gelar Doktor Predikat Sangat Memuaskan

Film membawa berkah. Begitulah kiranya ungkapan yang dirasa pas untuk menggambarkan kondisi Filosa Gita Sukmono.

Karena film Soe Hok Gie, dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan.Total ada 3 film yang ditelitinya yakni Soe Hok Gie, Tanda Tanya dan Soegija.

Gita mengangkat tema ‘Dinamika Wacana Multikultur Dalam Film Indonesia dengan Isu Minoritas Pasca 1998’ dalam penelitian disertasinya.

Dalam sidang tersebut ia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan. Gelar tersebut diraih pada pelaksanaan Ujian Terbuka Promosi Doktor, Program Doktor Ilmu Komunikasi Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung yang dilaksanakan pada Jumat (12/01) lalu.

Filosa menyampaikan film multikultur dengan isu minoritas menjadi fokus utama dalam penelitian yang di dalamnya mengangkat keberagaman. Menurutnya film Soe Hok Gie mengisahkan tentang perjuangan Gie dalam melawan ketidakbenaran dan ketidakberesan pada zamannya.

“Perjuangan Gie sebagai etnis Tionghoa semakin berat ketika satu persatu orang terdekat meninggalkannya termasuk perempuan yang dekat dengan Gie,” kata Filosa dalam rilis yang diterima JawaPos.com, Senin (15/1).

Film keduanya yaitu berjudul Tanda Tanya yang cukup menimbulkan kontroversi. Hal ini menurutnya dibuktikan dengan salah satu ormas yang tiba-tiba memboikot pemutaran film tersebut. Di balik kontroversinya, film ini mampu meraih 11 penghargaan salah satunya pada 2011 di Festival Film Indonesia sebagai pengarah sinematografi terbaik.

“Film ini benar-benar menceritakan permasalahan multikulturalisme di Indonesia, mulai dari gesekan antar agama sampai gesekan antar etnis,” katanya.

Film ketiga berjudul Soegija,  menceritakan perjuangan Soegija yang juga

seorang uskup dalam melawan penjajah. Juga banyak menuai kritik dan kontroversi di dalam negeri ini justru menurutnya mendapatkan apresiasi yang luar biasa di luar negeri, yaitu dengan mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik dalam Festival Film Niepokalanov-Polandia pada tahun 2013.

Selain itu juga mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai film dengan penggunaan bahasa terbanyak pada 2012 lalu.

“Melalui film ini peneliti ingin melihat bagaimana perjuangan seorang pejuang non-muslim dalam melawan penjajah di era kemerdekaan dengan balutan keberagaman dan kebersamaan,” ucapnya.

Lanjut Filosa, dari ketiga film Indonesia pasca 1998 itu hampir semuanya

menonjolkan isu minoritas. “Jika ditelisik lebih dalam maka dari berbagai peristiwa komunikasi yang juga berasal dari analisis teks, wacana sampai sosial budaya dari ketiga film tersebut maka terlihat bagaimana wajah multikulturalisme di Indonesia mengarah pada multikulturalisme akomodatif,” jelasnya.

Artinya di balik perlawanan, kemandirian sampai negosiasi kelompok minoritas

terhadap moyoritas, tetap terlihat bagaimana akhirnya penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan minoritas terhadap mayoritas. Kemudian dari penelitian ini diharapkan bisa memiliki kebermanfaatan bagi masyarakat.

Salah satu caranya adalah literasi multikultur berbasis media yang ditujukan untuk masyarakat agar bisa melek multikultur dan tidak hanya sekedar ucapan saja. “Tetapi harus pada tingkat implementasi pada kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

 

Sumber :

PENGGUNAAN HURUF KAPITAL